Merayakan sebuah perpisahan.

Seperti empat tahun sebelumnya, waktu seolah berputar. Kembali  duduk, sendiri,  dan merenungi perjalanan panjang yang telah lewat. Memastikan bahwa semuanya bukanlah suatu kesalahan. Bahwa setiap pilihan merupakan hal terbaik yang telah diambil. Kemudian dapatlah aku bersyukur.

Tanggal 29 Februari, hari baik untuk berpisah.  “Agar kita tak perlu sering-sering mengingatnya”, itu alasanmu. Sudah berapa tahun kini? Dua kali aku merayakannya, jadi delapan tahun telah berlalu. Selama itu kita membangun jarak tak pasti, tak sejelas batasnya.

Entah bagaimana kau sekarang, aku tak tahu sebagaimana aku telah melupakan seperti apa diriku delapan tahun silam. Mungkin kita sudah takkan bisa saling mengenali lagi. Kita benar-benar kehilangan jejak. Berjalan sendiri pada kehidupan. Tak ada waktu memandang yang lain, karena  fokus di jalan masing-masing.

Kita terlampau muda kala mengambil keputusan itu. Kadang kupikir waktu itu kita begitu pengecut. Menghindar karena takut melibatkan unsur lain yang bisa jadi bakal tak terkendali. Kita baru belajar berhitung dan sedemikian khawatir ada hal yang mengacaukannya. Kita putuskan untuk menolak  resiko, padahal ternyata malah membuang kesempatan. Aku tidak mengatakan itu keliru. Pada waktu itu, tak ada keputusan lain yang lebih baik. Kesalahan adalah yang terjadi setelahnya.

Ada sesuatu yang asing, yang tak pernah hilang, dan memerisai diriku dari sesuatu. Seperti ada yang merasuk satu relung jiwa lalu mengunci dirinya dari dalam. Tak pernah ada yang dapat menemukan jalan ke sana. Tidak lagi. Bahkan aku sendiri tak menemukan kuncinya. Bertahun-tahun aku mencoba menafsir. Tapi tak pernah kumengerti. Aku mencoba menebak dengan jawaban sederhana. Apa ini jebakan sentimentil? Tapi kubanding dan kutimbang, tak ada yang seperti ini. Bukan gelora dalam hati, bukan kepedihan terpaut rindu. Hanya ruang terkunci, yang mungkin tak perlu dibuka lagi. Seperti memiliki kuburan dalam diri. Ke sana kau berziarah setiap kali, namun tak berharap yang mati hidup kembali, karena bagaimanapun juga, itu terlampau ganjil dan menakutkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s