Nasi Kucing

Pertama kali mengenal istilah ini waktu di Jember bertahun lalu. Bibiku yang cerita. Nasi kucing itu seporsi kecil nasi putih dengan seporsi kecil lauk, biasanya dibungkus daun atau kertas nasi. Karena porsinya yang sangat kecil, mirip dengan nasi sisa untuk memberi makan kucing itulah makanya dinamakan nasi kucing. Harganya pun sangat murah, biasanya sebungkus hanya Rp 1000. Jadi dengan mengeluarkan uang segitu saja kita sudah mendapatkan nasi dengan lauk atau sayurnya. Jangan protes kalau tidak kenyang, ada harga ada rupa.

Di Yogyakarta, penjual nasi kucing tersebar di mana-mana. Pada umumnya berjualan di angkringan, sebagian kecil berkeliling menggendong bakul. Jenis lauknya macam-macam. Misalnya yang terdekat dengan kost-ku biasa menyajikan tumis tempe. Sementara yang di dekat kampus, membungkus nasi beserta sambal teri atau sayur labu siam. Aku pernah juga membelinya pada seorang mbok bakul di Pasar Beringharjo,  namun sebungkus nasi berharga seribu rupiah itu tidak disertai lauk apapun, dia menjual lauknya terpisah seharga lima ratus rupiah per bungkus. Ada tiga pilihan: sayur pare, oseng tempe, dan urap. Kadang-kadang yang dibungkus itu bukan hanya nasi putih, tapi nasi goreng. Harganya pun beda, sekitar seribu lima ratus.

Pada angkringan yang menjual nasi kucing biasanya ditemukan juga sejumlah penganan lain. Misalnya gorengan; kue-kue; sate-sate: telur puyuh, usus, kulit ayam, kikil, dll. Harganya bervariasi. Selain itu ada juga teh manis, air jahe, atau kopi. Angkringan menjadi spot yang cukup menarik untuk menikmati makanan “berat tapi ringan” sembari ngobrol-ngobrol. Nongkrong atau jagongan istilahnya. Waktunya juga bisa kapan saja, ada angkringan yang buka pagi sampai menjelang petang. Ada juga yang baru buka menjelang maghrib dan terus berjualan hingga malam hari.

Sebagian orang mungkin tidak akan cukup kenyang memakan seporsi nasi kucing. Bobot kita berkali-kali bobot kucing dan jelas jumlah kalori yang dibutuhkan jauh lebih besar. Tapi nasi kucing bukan satu-satunya pilihan makanan seharian penuh, kan? Lagipula kalau kurang bisa makan lebih dari satu bungkus. Kecuali bila sedang kepepet (baca: dalam rangka mengencangkan ikat pinggang).  Makanan rakyat ini sangat membantu mereka yang betul-betul perlu berhemat. Atau menyediakan porsi efisien bagi yang tidak biasa makan dengan porsi banyak sehingga semakin sedikit makanan yang terbuang hanya karena seseorang tak sanggup menghabiskannya.

Kalau begitu, di kota ini sangat kecil kemungkinan ada orang yang kelaparan. Seharusnya begitu, karena ada makanan (nasi dan lauk) yang secara luas dijual dengan harga begitu murah. Seribu rupiah semestinya bisa didapat misalnya oleh pengamen sekalipun sekali dia bernyanyi di bus kota.

Sebagai tambahan, untuk porsi-porsi makanan lainnya pun secara umum dihargai lebih rendah daripada makanan sejenis di kota lain, katakanlah Bandung atau Jakarta (sampai saat ini langkahku masih sangat terbatas jadi referensi pembandingku juga tidak banyak). Ya, tentu saja untuk sejumlah cafe dan resto besar, standarnya mungkin berbeda, yang menjadi fokusku di sini adalah penjaja makanan kaki lima atau rumah-rumah makan kecil hingga sedang, dan bukan warung padang.

Oh ya, pernah kusinggung di tulisan berjudul “Ospek Ngayogyakarta“ bahwa rumah makan padang di sini sebagian besar melakukan pencitraan bahwa makanan yang mereka jual murah harganya. Biasanya rumah makan mereka dinamai Padang Murah, Murah Meriah, dan lain-lain, pokoknya disertai embel-embel “murah”. Padahal aku mencoba satu dua kali harganya tidak begitu murah juga. Nasi ayam atau dengan kikil sekitar Rp 8000, kalau nasi rendang Rp 9000. Ada sih yang lebih murah, warung kecil dekat kost-kostan sekitar jakal, Rp 6000 untuk nasi ayam, tapi ukuran ayamnya lebih kecil (tidak masalah untuk nasi padang karena yang terpenting kuah dan sambalnya, haha). Untuk lauk telur biasanya rata sekitar Rp 4000. Kalau dihitung-hitung ya sama saja. Jadi ingat ketika keinginan makan nasi padang hadir pada kondisi kantong seret, biasanya aku hanya memesan  nasi dengan perkedel kentang dan tempe goreng di warung padang gelap nyawang. Rasa malu ditelan duluan, penjualnya pun maklum (luar biasa kehidupan sebagai mahasiswa, kenyang oleh berton-ton pemakluman).

Setiap pagi hingga siang ada tukang soto yang lewat di depan kostan dan menjual seporsi soto dengan nasi seharga Rp 4000. Untuk harga pasaran di Bandung soto dengan kualitas yang sama biasanya didapatkan pada harga itu tanpa nasi. Untuk mie ayam rata-rata dijual seharga Rp 5000. Oh ya, mie ayam di sini diberi kuah yang sangat banyak, berbeda dengan definisi mie ayam yang selama ini kuadopsi dan kupikir berlaku secara nasional, karena dalam berbagai resep yang kuakses biasanya mie ayam itu kering, tidak berkuah seperti bakso, dan mie ayam seperti itu juga yang pada umumnya kutemukan di sepanjang bagian barat Pulau Jawa (termasuk Jakarta). Kalaupun berkuah, sedikit saja hanya untuk mengencerkan bumbu atau sausnya. Jadi, kalau tidak suka mie ayammu tampil sebagai mie godog, jangan lupa pesankan pada peraciknya, “Jangan berkuah!”.

Wah, sampai sini tambahannya sudah terlalu banyak. Kembali pada bahasan nasi kucing, sepertinya menarik juga untuk membiasakan porsi-porsi kecil makanan seperti itu. Untuk penderita tukak lambung hal ini jelas cocok, karena mereka dianjurkan makan dalam porsi kecil namun frekuensinya lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan kalori. Bagi muslim pada umumnya juga sesuai karena dianjurkan makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Sebelum lapar makan nasi kucing, sebelum kenyang sudah keburu habis. Ketika hampir lapar lagi, ambil lagi sebungkus dan kembali habis sebelum benar-benar kenyang. Ah tapi buatku, dua-tiga bungkus sehari sudah cukup. Jadi kalau dihitung-hitung sehari habis Rp 3000 untuk makan, dalam 30 hari hanya keluar uang Rp 90.000. Lumayan hemat, kalau dibawa makan nasi rendang hanya bisa sembilan kali makan, atau sembilan hari dengan dua kali makan sehari (satu porsi dibagi dua, karena biasanya nasinya begitu banyak).

Kemudian yang terpikirkan, berapa banyak keuntungan yang didapat penjual dengan menjual makanannya seharga itu? Aku mencoba membeli nasi kucing sebanyak enam buah untuk melihat sebanyak apa porsi-porsi kecil itu ketika digabungkan. Apakah setara dengan seporsi biasa nasi yang bisa dibeli di warteg misalnya? Ternyata ukuran porsinya hampir sama. Hanya saja ada kerja yang sepertinya tidak dihitung harganya dalam hal ini yaitu waktu dan tenaga dalam membungkus nasi tiap porsi. Ukuran daun atau kertas pembungkus memang lebih kecil daripada untuk membungkus seporsi nasi besar.  Tapi kupikir waktu dan tenaga yang digunakan untuk membungkus nasi ukuran porsi kecil atau besar itu sama saja (hitungannya berdasarkan skill-ku pribadi).  Memikirkan hal ini, akhirnya niat berhemat di angkringan juga seringkali dilabrak. Setidaknya selain nasi, belanjaan ditambah gorengan, atau makanan lain, yang (sepertinya) margin keuntungannya lebih besar. Tapi begitu sedang tak punya cukup banyak uang, lagi-lagi rasa malu tertahan. Ah, keimanan sepertinya melemah dalam kondisi darurat pangan :p

Lebih banyak pembungkus berarti juga semakin banyak sampah, itu masalah, tapi tak perlu dibesarkan. Pembungkusnya kalau tidak kertas ya daun, dan sedikit plastik (terekat dalam kertas nasi, atau kantong plastik). “Tuntutan” untuk tetap murah menihilkan kemungkinan penggunaan styrofoam, berita bagus buat lingkungan. Akhir kata, untuk beromantis ria dalam penutup, nasi kucing bisa dijadikan simbol efisiensi, kebersahajaan, pangan untuk semua, dan konsumsi ramah lingkungan. Selain itu juga menjadi sebuah cagar budaya yang menyatukan aspek kuliner dengan komunitas. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s