Niat

Dalam padatnya aktivitas keseharian kita, terkadang ada hal penting yang luput. Pekerjaan yang dilakukan seolah sudah menjadi rutinitas yang secara mekanis dan otomatis dilakukan begitu saja. Kadang kita shalat tapi niat hanya sekedar pada lafal, kita tidak sungguh-sungguh menghadirkan niat dari dalam hati untuk menghadap Sang Pencipta. Karena sudah terbiasa, shalat pun berjalan seperti aktivitas mekanis. Apakah ibadah yang demikian akan mendapatkan ganjaran yang baik di akhirat kelak?

Atau kita terpaku pada target-target, baik fisis maupun nonfisis yang bersifat keduniaan. Ketika belajar dan bekerja yang diharapkan adalah ilmu dan harta untuk kejayaan duniawi, atau dalam rangka meraih ridho-Nya? Padahal bagi setiap muslim yang yakin setiap amalnya akan diperhitungkan, faktor niat adalah hal penting yang tak dapat diremehkan. Banyak orang berlelah-lelah melakukan sesuatu tapi yang didapatkannya hanyalah kelelahan itu sendiri.

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر ابن الخطّب رضي اللّه عنه قال: سمعت رسول اللّه صلّى اللّه عليه و سلم يقول: ” إنّما الأعمال با لنيّات و إنّما لكلّ امرئ ما نوا, فمن كا نت هجرته إلى اللّه و رسوله فهجرته إلى اللّه و رسولهو و من كا نت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه “.

(رواه البخاري و مسلم)

(Dari Amirul Mu’minin, Abu Hafsah, Umar bin al-Khatthab r.a. berkata: Aku mendengar dari Rasulullah saw berkata: “ Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang bergantung pada niatnya maka barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan rasul-Nya, hijrahnya adalah pada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia dan yang semacamnya atau wanita yang akan dinikahinya, hijrahnya adalah pada apa yang ia hijrah kepadanya.”)

Hadits di atas menyatakan bahwa setiap perbuatan bergantung atas niatnya.   النيّات adalah bentuk jamak dari النيّاة yang diartikan sebagai maksud. Dengan kata lain, niat adalah apa-apa yang dimaksudkan seseorang terkait perbuatannya.  Karena dikatakan bahwa sesuangguhnya amal adalah bergantung pada niatnya maka bagi seorang muslim, amalnya baru dinilai benar bila niatnya benar, yaitu karena Allah dan Rasul-Nya, untuk meraih keridhaan Allah dan rasul-Nya. Hal inilah yang akan menentukan pahala yang akan diterimanya kelak.

Selain terbelokkan oleh motif-motif duniawi dalam konteks individual, terkadang manusia pun tergelincir oleh motif riya’ (رياء) yaitu ingin amal-amalnya terlihat oleh orang lain, atau sum’ah(سمعة)  yaitu ingin amal-amalnya terdengar oleh orang lain. Hal ini pun akan merusak amal-amalnya tak peduli sebagaimana bagusnya ia melakukan amalan tersebut. Balasannya adalah sesuai dengan yang ia niatkan/maksudkan yaitu penghargaan atau kekaguman dari manusia saja. Sebagaimana yang dinyatakan dalam hadits di atas, bila yang diharapkannya adalah selain dari Allah dan Rasul-Nya, maka itulah yang akan didapatkannya.

Karena itu, agar Allah ridha, maka seorang muslim harus ikhlas dalam beramal.  الإخلاص berasal dari kata  خلص yang sama artinya dengan نصح yaitu menyaring atau memurnikan. Dalam konteks ini, maknanya memurnikan niat atau maksud hanya karena Allah dan Rasul-Nya. Dengan begitu amalnya akan diterima karena amalnya diniatkan murni untuk mendapatkan keridhaan Allah dan Rasul-Nya saja. Jika kita meniatkan setiap amal kita sebagai bentuk ibadah pada Allah maka kita akan terlepas dari jeratan tradisi dalam beraktivitas. Karena sekali lagi, niat adalah yang membedakan ibadah dari adat/tradisi.

Keikhlasan itu sendiri merupakan sesuatu yang dinamis. Mungkin pernah juga merasakan ketika pada permulaan amal berniat ikhlas, tapi di tengah jalan kita mendapatkan apresiasi positif dari orang lain, muncullah sedikit rasa bangga di sana. Hal tersebut mesti diwaspadai karena dapat membelokkan niat kita. Karena itu penting untuk selalu mengevaluasi niat dan secara aktif terus memurnikan dan mengembalikannya agar senantiasa bermotif mencari keridhaan Allah dan Rasul-Nya saja.

Namun demikian, niat pun bukan satu-satunya faktor penentu diterima atau ditolaknya amal kita. Selain niat yang ikhlas, amal yang dilakukan pun harus amal yang benar, yaitu sesuai dengan tuntutan dan tuntunan Syara’. Tidak masuk akal bila kita memurnikan niat beramal untuk melakukan kemaksiatan atau amal-amal yang dilarang. Dengan demikian dua hal ini, niat dan pelaksanaan amal yang tepat harus menjadi perhatian bagi kita semua agar segala yang kita lakukan tidak menjadi kesia-siaan bahkan membuahkan dosa dan siksa alih-alih pahala di akhirat kelak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s