Filsafat Bahasa melalui Knuffle Bunny

Alkisah, suatu hari, Trixie, gadis kecil yang belum belajar berbicara, pergi bersama ayahnya ke tempat laundry. Ia membawa boneka kesayangannya, Knuffle Bunny. Sayang sekali, ketika pulang, bonekanya tertinggal di sana. Di perjalanan pulang, Trixie baru menyadari bahwa ia kehilangan bonekanya, lalu berkata pada ayahnya, “Aggle flaggle klabble!”. Tentu saja ayahnya tak mengerti apa yang ia maksud. Trixie lalu berusaha menyampaikan maksudnya dengan segala cara. Dia menunjuk-nunjuk ke arah laundry, menangis, menolak untuk berjalan, berusaha-menggapai-gapai, dsb. Ayahnya malah kebingungan dan tak mengerti apa yang diinginkan Trixie. Begitu sampai di rumah, ibunya bertanya, “Mana Knuffle Bunny?” Mereka pun segera kembali ke tempat laundry dan menemukan boneka Trixie di sana. Ketika melihat bonekanya itu, dengan riang trixie mengucapkan kata-kata pertamanya, “Knuffle Bunny.”

Cerita ini membawa kita melakukan refleksi terhadap bahasa. Selama ini kita hidup di dalam dunia di mana kata-kata berlalu lalang. Semua orang menggunakannya untuk berkomunikasi namun hanya sedikit yang melakukan kontemplasi dan berupaya menggapai makna yang terkandung di dalamnya. Terkadang terasa ketika kata-kata menjadi begitu berlimpah di mana-mana dan begitu murah harganya. Pengalaman Trixie dalam cerita ini menggambarkan betapa pentingnya kata yang digunakan untuk berkomunikasi dan betapa pentingnya memahami aksi komunikasi untuk mengetahui maksud seseorang. Apakah ada cara lain yang efektif menyampaikan maksud tanpa kata-kata? Bagi anak kecil yang masih terbatas dalam penguasaan kosa katanya, untuk menyampaikan maksud seringkali merupakan hal yang sulit. Orang dewasa yang kebingungan tak bisa menangkap pesannya, lalu sang anak menangis kesal. Mungkin sebenarnya ia pun bertanya-tanya, apa dan bagaimana bahasa bekerja. Tapi tangisan justru merupakan bahasa yang makin abstrak dan tidak spesifik. Padahal manusia pun menunjukkan emosi, menggunakan bahasa tubuh, menciptakan simbol-simbol lain untuk mengutarakan sesuatu. Hanya saja hal itu tidak juga bekerja dengan baik setiap kalinya.

Pertanyaan lain bisa muncul mengenai pentingnya bahasa. Andaikan hanya ada satu orang saja di dunia apakah bahasa diperlukan? Dapatkah kita berpikir tanpa menggunakan bahasa?, dan lain sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan ini bahkan dapat diajukan pada anak-anak, dan mungkin akan sangat menarik mendengarkan pendapat mereka. Sebagai pendahuluan diskusi, kita bisa melakukan refleksi atas pengalaman Trixie. Misalnya dengan bertanya,”Apakah kamu pernah merasakan ketika seseorang tidak bisa mengerti maksudmu?”; Apakah ada cara lain selain menangis untuk mendapatkan apa yang kita inginkan?”; Apakah sesuatu yang sangat berarti buatmu juga sangat berarti untuk orang lain?”; “Bagaimana kamu menceritakan makanan kesukaanmu?”

Referensi:

Modul P4C, Teaching Children Philosophy

Advertisements

One thought on “Filsafat Bahasa melalui Knuffle Bunny

  1. yah, sulit. mungkin tanpa bahasa manusia tak bisa berpikir. berpikir membutuhkan data. data itu berupa ide yang dilambangkan dalam kata-kata. kata-kata termasuk dalam bahasa. jadi tanpa bahasa kita hanya bisa menunjuk objek spesifik tanpa bisa mnyebutkan namanya, sifatnya, keadaannya dan apa yang dilakukannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s