Melodi Sejarah

Mozart dan Hayden mengingatkanku pada rumah dan jalanan di Cibadak. Aku sering mendengarkan RRI pro 2 saat aku SMA, lalu mengingat nadanya saat berjalan menuju sekolah.

Paul Mauriat juga mengingatkanku pada rumah. Kudengarkan berulang saat sejak kecil. Ketika suatu saat salah satu dari kasetnya Bapak itu ada yang rusak dan ada bagian lagu yang terhapus, aku bahkan dapat bersenandung dengan tempo yang tepat hingga pas tersambung ketika terdengar lagi suara musiknya.

Kembali pada masa SMA, Implora membuatku terkenang pada balkon depan kelasku, tempatku sering berdiam diri menatap jalan, hanya jika sendirian di sana. Musik itu berputar di kepalaku sementara pandanganku terpaku pada jalanan sempit di depan sekolah dan batas-batasnya yang jelas, kelokan di dua sisi. Ke mana lagi aku melangkah setelah ini, apakah hamparan dunia semakin luas ketika aku keluar dari sini? Apa artinya penundaan tiga tahun?

Tahun pertama, semangat dan imajinasiku berpadu dengan iringan waltz Tchaikovsky. Masih segar dalam ingatan ketika rasanya aku menari di dalam benak, mengikuti alunan ritmik yang mengesankan.

Lalu Secret Garden menemani dalam masa-masa tinggal di Kebon Bibit mulai tahun ketiga kuliahku. Bersamaan dengan itu juga David Foster, dan beberapa dari Clayderman. Ah, waktu itu sebetulnya aku cukup banyak menghabiskan waktu dengan musik dalam keperluan membuat presentasi, film pendek, dan lain-lain. Kamarku seolah berubah sesaat menjadi studio tempat aku bermain dengan gambar dan suara-suara. Aku bahkan sempat menyelesaikan sejumlah visualisasi untuk klip lagu dan liriknya. Posisi kamarku yang sedikit tersembunyi di belakang rumah membuatku mengira takkan banyak orang yang terganggu dengan sedikit kegaduhan yang terkadang bertahan hingga dini hari.

Sementara ketika di  Geger Kalong, aku sepertinya tidak begitu punya kesempatan untuk bersama diri sendiri dan mendengarkan lagu tertentu berulang kali. Saat itu, hidupku sangat melelahkan, tak lama setelah subuh berangkat ke kampus, rapat di kortim Salman. Belum ditambah rapat-rapat di masjid al jihad dan kost-an teman-teman. Bahkan aku tak punya banyak waktu membaca, urusan organisasi di Masjid Salman maupun GP sangat menguras waktu dan tenaga ditambah beban kuliah yang memang sedang menuntut banyak waktu dihabiskan di lab juga. Aku tak ingat satu lagu pun, hanya ketergesaan dan sebuah surat yang hilang.

Depapepe mengingatkanku pada jalan Dago, terutama jalur yang kulewati dari Asrama Putri Kanayakan hingga berbelok di Jalan Dayang Sumbi, menuju kampus.  Denting gitar duonya yang jernih dan bersemangat seolah membantu memompa energi dalam pengerjaan Tugas Akhir, juga menggodaku untuk kembali menekuni pelajaran bermain gitar. Betapa menyenangkan dapat bermain seperti profesional begitu. Sampai saat ini sedikit sekali melodi yang dapat kumainkan dengan gitar klasik, juga tidak sempurna. Yang paling sering kuulang adalah Jeux Interdits.

Denting gitar Jubing kugunakan saat aku berusaha menangani insomnia-ku. Tepatnya pada bulan-bulan terakhir sebelum kutinggalkan Bandung dan beberapa waktu awal kukembali ke rumah orangtuaku.

Beberapa bulan lalu aku menemukan sebuah lagu dari Secret Garden, judulnya Swan. Berminggu-minggu di Sukabumi kuhabiskan dengan iringan nada itu. Terdengar sebagai sesuatu yang sangat dalam dan dekat hingga kupikir itulah perumpamaan yang tepat. Tak lagi elang muda, tapi angsa.

Saat ini, sebagaimana belum kutemukan kopiku, tak ada musik baru. Senandung lagu lama terus berputar mengingatkanku apa aja yang telah kulalui sampai titik ini, kurleb seperempat abad pertama hidupku.

Jeux Interdits:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s