Kunci

Pernah kehilangan kunci? Bagaimana rasanya? Kita berada di depan pintu atau hendak mengendarai kendaraan di depan kita, tapi gara-gara kunci tidak di tangan, kita terhalang untuk memasuki ruangan atau mengendarai kendaraan tersebut.

Kunci adalah hal penting yang bermain dalam kehidupan kita. Kunci adalah pembuka. Dia bukan inti, tapi tidak menjadikannya tidak penting seolah-olah sebuah permukaan yang sekedar selubung. Di dalam Bahasa Arab, kunci itu miftah (pembuka), bentukan mashdar dari kata fataha (membuka). Jadi tergambar betul dalam kata itu fungsinya untuk membuka sesuatu.

Mengapa ada pintu-pintu terkunci? Kupikir semuanya terkait dengan batasan-batasan yang kita temui di dunia ini. Eksklusivitas terkadang menjadi sesuatu yang natural. Tidak ada yang benar-benar inklusif. Batasan yang ada baik secara natural maupun artifisial memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Batas itu memagarinya. Dari dalam menahan potensinya, dari luar menjadi benteng penjaganya.Tapi tentu saja seringkali batas-batas itu tidak statis, adakalanya dapat diterjang, setidaknya dibuka, dengan kunci.

Ilmu dan pengetahuan suatu peradaban tumbuh besar seiring perkembangan bahasanya. Dengan bahasa tertentu komunitas mengekspresikan ide, berbagi, dan mengembangkannya secara kolektif. Para penutur bahasa tersebut secara aktif memiliki akses pertama untuk terlibat dalam aktivitas konsumsi, implementasi, reproduksi, bahkan menjadi kritik. Dalam hal ini, bahasa membuka pintu keterlibatan untuk proaktif dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan budaya. Dapat kita katakan bahasa adalah kunci.

Dengan demikian, orang yang menguasai suatu bahasa maka kita katakan dia telah memegang kunci untuk membuka pintu-pintu yang memagari ilmu dan budaya tertentu. Sekalipun manusia merupakan entitas besar yang berbagi pengalaman-pengalaman tertentu yang bersifat universal dalam kesamaan potensi dasar kemanusiaannya, akan tetapi dalam praktik harian, manusia tumbuh dalam situasi unik, dunia yang sangat subjektif yang membedakan pengalamannya secara keseluruhan antara satu dengan yang lain. Keunikan pengalaman itu terjadi dalam lingkup individual maupun kelompok budaya tertentu.

Suatu kelompok budaya atau kita sebut saja masyarakat merupakan entitas yang tidak sekedar berhabitat dalam lingkup geografis tertentu untuk diidentifikasi sebagai sebuah kelompok unik. Namun interaksinya yang khas di mana mereka berbagi suatu pemikiran dan sensitivitas emosi yang dipandang umum dan kemudian melahirkan konvensi-konvensi sosial (selanjutnya tumbuh sebagai adat atau hukum) itulah yang menentukan coraknya. Lingkup geografis seringkali berpengaruh dalam corak keunikan ini, namun pada beberapa kondisi, terkadang dapat diatasi akibat perkembangan pemikiran yang sifatnya global.

Interaksi yang khas itu melahirkan penalaran, kontemplasi, maupun apresiasi yang unik dalam memandang persoalan-persoalan di antara mereka sendiri maupun kelompok lain, bahkan kondisi global. Atas dasar ini, perkembangan ilmu dan budaya memiliki kecepatan pertumbuhan yang beragam, menaruh prioritas perhatian pada hal-hal yang berlainan, dan  pada akhirnya menghasilkan suatu budaya yang komposit dan kompleks bila dipandang secara global. Jika aktif dalam pengembangan budaya tertentu ,kita ikut urunan dalam aktivitas global ini.

Aktivitas penyebaran bahasa suatu entitas budaya pada kelompok-kelompok lain memungkinkan terjadinya interaksi yang lebih luas. Dalam kata lain, memberikan kunci bagi anggota komunitas di luar kelompok tersebut untuk turut melihat, membaca, dan merasakan sebagian maupun keseluruhan pengalaman yang bersangkutan dalam bentuk-bentuk produk pemikiran dan budaya. Terkadang hal ini berlangsung secara alamiah sejalan keingintahuan manusia yang besar untuk mengetahui hal-hal pada maupun di luar dirinya, atau merupakan upaya besar yang dijalankan penuh sadar dan massif oleh suatu entitas budaya mapan untuk menyebarluaskan dan mengembangkan budayanya sendiri, dalam hal ini aspek kuasa terlibat.

Bahasa kemudian tidak sekedar menjadi kunci atas pengetahuan dan budaya namun kunci untuk membuka pintu-pintu kuasa. Untuk menanamkan pengaruh atas individu, kelompok budaya, maupun bangsa tertentu, penguasaan bahasa setempat menjadi hal yang krusial. Secara alamiah manusia cenderung memahami perintah-perintah dalam bahasanya sendiri, keinginan orang lain yang diungkapkan dengan bahasanya sendiri, dan mempercayai orang-orang yang berbicara dalam bahasanya sendiri karena selubung “asing” yang menjadi tabir di antara keduanya perlahan memudar. Orang-orang yang berbicara “seperti kita” secara perlahan mendapatkan tempatnya dalam lingkungan kita dan dalam porsi tertentu menjadi bagian dari kita.

Bukan berarti untuk melindungi diri atau penetrasi asing maka kemudian kita menyembunyikan kunci (sekalipun dalam kondisi dan untuk keperluan tertentu, kunci ini harus disimpan rapat-rapat, karenanya kita pun mengembangkan persandian untuk kepentingan keamanan). Secara alami kita senantiasa berinteraksi dalam menjadi dan ketika tumbuh. Untuk dapat saling memahami, kita berbagi kunci. Namun pintu-pintu kuasa tidak serta merta dapat dibuka dengan mudah oleh orang yang memegang kunci bahasa. Ada kunci lain yang perlu dimiliki untuk membuka jalan pada dominasi. Banyak hal. Tambahan lagi, terkait kunci dan kuasa, ketika bahasa sebagai kunci sangat mudah dipelajari oleh siapapun, kuasa pengetahuan dilakukan dengan menyembunyikan pintu-pintunya, hak cipta, lisensi, dan lain-lain adalah wajah baru btas-batas artifisial untuk mempertahankan dominasi atas pengetahuan dan budaya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s