Roland Barthes – Myth Today

Dalam “Myth Today”, Roland Barthes menganalisis retorika proses pembuatan mitos modern. Dia menganalisis mitos sebagai suatu bentuk bahasa dan bagaimana bahasa dapat membentuk realitas alternatif. Dia melakukan hal ini dalam konteks borjuis (bourgeoisie) dan borjuis kecil (petit-bourgeoisie). Hanya saja, dikarenakan baru membaca sedikit, saya tidak begitu yakin bagaimana kedua hal tersebut berhubungan. Setidaknya (hal-hal berikut yang dapat disampaikan terkait konsep ini):

Barthes mendefinisikan mitos sebagai objek bahasa di luar realitas. Hal itu merupakan sesuatu yang tidak secara tepat menggambarkan 1:1 dengan apa yang digambarkannya. Bagi Barthes, mitos merupakan sebuah hasil akhir dan dinyatakan sebagai kegagalan bahasa. Untuk memahami pernyataan tersebut, sangatlah penting untuk memahami bagaimana sebuah mitos diciptakan.

Merujuk pada argumen Barthes, tidaklah tepat bila kita menyatakan bahwa terdapat perkakas retorikal tertentu untuk menciptakan mitos. Akan tetapi, pembuatan mitos menggunakan kegagalan bahasa untuk mengonstruksi dunia alternatif di mana bahasa menjadi realitas itu sendiri atau merupakan perpanjangan dari realitas. Terdapat tujuh poin utama yang menyangkut hal  ini, antara lain:

  1. Inokulasi (Inoculation): Merupakan bentuk perlucutan bahasa yang digunakan secara umum dalam mengiklankan sesuatu. Hal ini mencakup aspek pengakuan terhadap detail yang kecil atau aksidental (atau keburukan (evil) sebagaimana Barthes menyatakannya) untuk menutupi detail/masalah yang lebih besar lagi. Ungkapan retoris ini secara bersamaan memulai dan mengakhiri argumennya sendiri, kemudian memosisikan kita di dalam batasan-batasan yang dibentuknya tersebut. Contohnya adalah pernyataan berikut: “Ya, militer itu memang kaku dan berpikiran sempit, akan tetapi mereka merupakan pertahanan utama kita, pelindung negara dan wahana untuk menyebarkan kebaikan secara meluas.” Atau contoh yang lain: “ Tentu saja gereja itu tak sempurna, bila sekedar melihatnya sebagai sejarah berlumur darah dengan para pendetanya yang fanatik.  Tapi kita anggap saja hal tersebut sebagai harga yang cukup murah untuk mendapatkan keselamatan di akhirat (contoh ini sedikit mirip dengan yang digunakan filsuf Blaise Pascal untuk mendukung pertaruhannya dalam eksistensi Tuhan, lihat Pascal’s Wager). Jenis bahasa seperti ini biasanya digunakan terkait lembaga/institusi, untuk menciptakan citra kesetimbangan unsur baik-buruk di dalamnya, kemudian salah satu sisi tersebut ditampilkan lebih dominan dari sisi lainnya untuk menunjukkan tujuan dari lembaga tersebut.
  1. Privatisasi Sejarah (The Privation of History): Barthes beragumen bahwa pembuatan mitos menghilangkan seluruh aspek kesejarahan dan posisi suatu objek dalam realitas, kemudian melalui melalui ketidakbertanggungjawaban bahasa, juga memindahkan setiap kebebasan yang terkait dengan objek tersebut. Hal ini terjadi karena segala sesuatu di luar realitas pada dasarnya sulit diubah. Dengan membuat sesuatu yang sifatnya eternal atau of-the-moment, kebebasan objek tersebut untuk menjadi sesuatu yang lain menghilang dan objek itu terperangkap dalam realitas keliru dalam bahasa.
  1. Identifikasi (Identification): Di sini, sebuah poin dibuat terkait keserupaan dan penghancuran atas konsep lainnya yang memuat perbedaan. Mengutip Barthes, One never tries anybody but analogues who have gone astray: it is a question of direction, not of nature, for that’s how men are.” Terkadang, ketika sesuatu terlalu berbeda untuk diasimilasikan pada variasi keserupaan maka ia dibuat terkesan lebih eksotis dan kemudian dibuat menjadi “lebih aman” melalui pereduksian (yang mengarahkannya) kepada tontonan atau lawakan. Bahasa tak dapat menangani terlalu banyak hal yang berbeda—bahasa jauh lebih terbatas dari realitas, karena itu, bahasa dan pembuat mitos berjuang melakukan generalisasi untuk membuat segalanya lebih mudah. Akan tetapi, dalam upaya tersebut, trek realitas kepada hal-hal yang dia upayakan untuk mendeskripsikan massa malah hilang.
  1. Tautology: Barthes: “Tautologi adalah alat verbal yang mengandung pendefinisian “seperti” (‘Drama is Drama’)… ketika seseorang sulit menjelaskan suatu konsep, kegagalan aksidental dari bahasanya adalah secara ajaib mengidentifikasikan konsep tersebut dengan sesuatu yang dianggap sebagai resistensi natural darinya. Seseorang membunuh rasionalitas saat rasionalitas tersebut menentangnya. Seseorang pun membunuh bahasa saat bahasa mengkhianatinya. Sebuah kutipan dari Barthes terkait hal ini: “Because thats how it is, just because.” Contoh lainnya adalah “It is what it is“. Pernyataan semacam itu bertentangan dengan logika karena membolehkan suatu pernyataan menjustifikasi dirinya sendiri. Hal ini sama seperti kasus dalam matematika ketika seseorang cukup kacau untuk mendapatkan x=x, yang tiada berarti tapi benar meskipun absurd. Sekali lagi, hal ini merepresentasikan batas-batas di mana bahasa berujung dan tak dapat mempertahankan kesesuaiannya dengan realitas yang berusaha ia gambarkan. Maka dari itu ia menciptakan alasan untuk pergi jauh meninggalkan realitas.
  1. Neither-Norism: Jenis ini secara metodologi cukup mirip dengan inokulasi. Suatu kesetimbangan diciptakan, dibebani untuk berselisih melawan sisi lainnya. Dalam kasus ini, pembuat mitos berupaya untuk menciptakan kesetaraan antar dua sisi. Melalui pembebanan relatif satu sama lain, setiap kualitas objektif yang mungkin dimiliki oleh dua sisi tersebut menjadi hilang. Meminjam konsep relativisme, “tidak keduanya” (neither) adalah lebih baik atau lebih buruk dari yang lainnya. Nampak cukup memalukan untuk memilih satu dari dua hal tersebut, maka kita dapat memilih untuk meninggalkan kedua pilihan tadi bersamaan dengan membuang realitas. Dalam hal ini, mungkin saja mempertimbangkan dua hal yang berbeda untuk melawan satu sama lain. Tak peduli bagaimanapun absurdnya hasil akhirnya: “Should I go to the theater or the ballet?” Ketika dua buah kualitas dibuat relatif satu sama lain, terdapat kemungkinan untuk kehilangan nilai yang terkandung dalam dirinya, sehingga mengambil keputusan untuk memilih salah satu dari keduanya menjadi tidak mungkin. Akan tetapi, hal ini dapat dielakkan dengan menilai pilihan-pilihan berdasarkan nilai absolut yang mempertahankan keduanya di dalam realitas tanpa mereduksi tingkatan eksistensi terhadap sesuatu yang relatif satu sama lain. Namun demikian hal tersebut tidak akan termasuk ke dalam pembuatan mitos karena akan berimplikasi menyertakan faktor lain di luar bahasa.
  1. Kuantifikasi Kualitas (The Quantification of Quality):  Sekali lagi, ketika bahasa tak sanggup menangani kompleksitas realitas, ia cenderung untuk mengekonomiskan dunia. Kualitas menjadi kuantitas! Untuk melakukan hal itu, bahasa melampaui realitas. Meskipun bahasa berupaya untuk menjadi ilmiah dalam deskripsinya di sini, bahasa memiliki atribut sifat yang tidak dimiliki objek aslinya. Kemudian hal itu menyebabkan bahasa alih-alih menilai objek, tapi sifat-sifatnya.  Terkait hal ini, Barthes berkata: “Seluruh rangkaian dari tampilan yang memungkinkan untuk dihitung menghasilkan kesamaan kuantitatif antara harga tiket dengan air mata seorang aktor.”
  1. Pernyataan fakta (The Statement of Fact): Barthes berargumen  bahwa mitos cenderung melampaui maksim dalam fungsinya menggeneralisasi dan menginstitusionalisasi. Lebih jauh lagi, ia menyatakan bahwa bahasa sebagaimana terkandung dalam maksim (atau secara spesifik: wicara [speech]) dapat terwujud atas dua tipe: aktif dan refleksif. Dia menggunakan contoh pernyataan seorang petani: “Cuacanya bagus” sebagai wicara aktif, karena bahasa dalam konteks ini mempertahankan hubungan dengan cuaca riil di luar dan kegunaannya. Bahasa aktif nyaris sama dengan bahasa teknis. Terlepas dari sifat alamiahnya yang abstrak, ia masih terbuka pada realitas karena tidak berupaya membakukan penilaian tertentu. Pernyataan seorang petani terkait “cuaca yang bagus” terbuka pada aksi atau akibat apapun terkait cuaca yang bagus. Bahasa aktif kemudian beralih menjadi bahasa refleksif yang beralih dari realitas. Bahasa refleksif berjuang untuk menjadikan dirinya sendiri sebagai realitas, untuk menutupi realitas dengan penilaiannya sendiri. Ia menutup seluruh peluang kebebasan, dan sebagaimana halnya tautologi, tidak merepresentasikan hal lain kecuali dirinya sendiri, meskipun pada mulanya ia merupakan turunan dari sesuatu yang riil. Bahasa refleksif merupakan bentuk generalisasi dan simplifikasi bagi bahasa untuk menempuh jalan yang lebih mudah dalam menangani, menilai, dan menggambarkan dunia. Ketika bahasa aktif  dapat dikatakan minimal karena berusaha untuk menggambarkan sesuatu seakurat mungkin dan meninggalkan seluruh kelemahan bahasa yang berkecenderungan untuk memberi penilaian; dalam konteks tersebut, bahasa refleksif dikatakan maksimal karena ia berupaya untuk meng-cover sebanyak mungkin realitas untuk menyederhanakan dunia.

Dengan demikian, mitos lahir melalui upaya untuk menangkap dan memiliki dunia. Pembuatan mitos berada dalam koridor untuk “memperbaiki” realitas dalam satu tempat dan satu bentuk, untuk mengeluarkan esensinya melalui cara membuatnya analog dengan bahasa. Bagaimanapun bahasa tak dapat dikatakan 1:1 dengan realitasnya. Dalam proses pengekspresian realitas ke dalam bahasa, ada upaya untuk menciptakan dunia alternatif di mana (ekspresi tersebut) benar-benar eksis. Melalui penyusunan sifat-sifat abstrak dari suatu objek, seseorang takkan mendapatkan kembali objek yang sebenarnya.  Kemudian dengan mencoba untuk berpartisipasi dalam realitas, mitos berpartisipasi dalam penciptaan dirinya sendiri. Mereka tidak  mengungkap apapun terkait dunia yang aslinya memang tak ada di sana.   Mereka juga tidak mengembalikan sesuatu kembali pada realitas. Hal itu terjadi karena generalisasi tidak bisa digunakan untuk membuktikan fakta. Sebagaimana Alfred Korzybski mengungkapkannya: “the map is not the territory”. Masa depan mitos tidak kurang dari peruntuhan bentuk lampau dari mana ia berasal.

Lantas, mengapa mitos? Karena, secara tautologis, kegagalan bahasa menumbuhsuburkan pembuatan mitos. Sederhananya, karena bahasa tak dapat menggambarkan keseluruhan realitas, generalisasi harus dibuat untuk mengatasinya. Sepanjang mitos mengakui aspek alamiah kekeliruannya sendiri, tidak mengapa menggunakannya sebagai upaya menggambarkan dunia. Permasalahan muncul ketika mitos melampaui batas dan berupaya menjadi realitas baru sehingga pada titik tersebut mitos menjelma sebagai iblis bahasa (linguistic evil).

Kemudian, apa yang dapat diperbuat saat hal tersebut terjadi? Dapatkah seseorang mengamandemen bahasa, alih-alih membuatnya lebih kompleks dan lebih jauh, tapi menyederhanakannya untuk sekedar mengomentari sifat-sifat yang masih relevan darinya tanpa kepalsuan atau pembuatan mitos? Atau, kita membiarkan yang sebaliknya? Yaitu mengembangkan bahasa denan harapan membuatnya sama dengan realitas dalam jangkauannya? ( Hal ini mengingatkan saya pada kisah Borge tentang sebuah peta yang tumbuh meluas sedemikian besarnya hingga nyaris tak terbedakan dengan dunia yang digambarkan di dalamnya). Atau kita secara sederhana mengakui saja batasan-batasan bahasa dan tidak membiarkannya untuk membodohi kita?

(Diterjemahkan dari Roland Barthes – Myth Today, oleh Roman Kudryashov, pada http://whataretheseideas.wordpress.com September 11, 2010 )

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s