Mengingatnya dari Jauh

Bandung itu seperti kekasih yang kejam. Berkali-kali menyesakkan dan berkali-kali pula aku lari darinya, tapi selalu muncul keinginan untuk kembali. Bagaimanapun, di sana, entah berapa persen bagian dari diriku—yang kecil kemungkinannya akan berubah hingga akhir waktu—telah  terbentuk. Kujumpai realitas bahwa sekedar cinta saja tidak cukup, namun dedikasi, prioritas, dan ketabahan merupakan unsur penting.  Semakin kukenal diriku yang terlampau sulit berdamai dengan otoritas.  Juga kelemahanku di hadapan ikatan dengan manusia. Berulang kali kujalin persahabatan dan kuputuskan. Entah yang kusyukuri atau yang kusesali, semuanya telah terjadi.

Di Bandung, tetes air mataku tumpah ruah, dengan kehadiran seseorang, dalam kesendirian, atau di tengah keterasingan dalam riuhnya kerumunan. Di sana pula tawaku pecah. Beberapa harapan membuncah, sebagian kemudian terhempas, sisanya kulindungi ketika kutinggalkan kota ini sementara waktu. Baru kusadar lukanya begitu dalam ketika ternyata aku membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih.  Pada perjalanan kedua ke sana setelah secara resmi meninggalkannya, masih ada selubung kelam tepat ketika memasuki batas kota. Perjalanan yang ketiga, barulah terasa lebih melegakan.

Aku rindu malam-malam di Bandung, ketika kugunakan gelap untuk sejukkan perih. Juga mendambakan keakrabannya di sore hari. Aku rindu kehangatan dan meruapnya aroma kopi dalam diskusi petang atau malam bersama kawan-kawan dekat. Sesuatu yang tak kutemukan di Jogja karena tidak (tepatnya belum) ada kesempatan keluar malam menyambangi warung-warung kopi. Aku rindu berburu udara segar pagi-pagi sebelum tersalip asap knalpot di jalanannya.  Juga rindu sejumlah wajah yang kehidupan kami sempat beradu di sana, sebagian  besar sudah tak bisa lagi kutemui di kota itu. Kerinduan semakin menggumpal ketika aku berjalan makin ke timur dan berada di tengah warna yang benar-benar berbeda. Kuakui sebuah tanah telah mengikatku. Lebih dari tanah kelahiran yang masih kukunjungi sekedar karena keluargaku bermukim di sana. Tapi tanah yang benar-benar melahirkanku, adalah yang lain lagi, dialah itu.

Entah ia yang begitu kejam atau aku yang terlampau lemah. Bagaimanapun aku takkan pernah melupakan dan tak bisa benar-benar meninggalkannya. Melupakannya hanya mungkin bila sebagian besar diriku kini hilang juga. Nyaris tak pernah tangis tak hadir saat mengingatnya, bahkan saat ini. Kukenang air mata dengan air mata. Aku seperti mengingat setiap detik yang kuhabiskan di sana. Struk belanja pertama, kwitansi kost, berkas pendaftaran ulang, dan pernik-pernik memorabilia lain menyeretku berulang kali  pada pusaran waktu di mana semua itu bermula. Padahal,  tak banyak yang kuingat dari masa kecil hingga remajaku. Kecuali yang masih tervalidasi oleh cerita ibuku, kadang aku tak yakin mana yang benar-benar terjadi atau sekedar imajinasiku.

Beberapa waktu lalu saat kusampaikan rencana kunjunganku yang keempat ke sana, seorang kawan bertanya, “Kali ini sementara atau permanen?” Aku sempat terhenyak sesaat. Tinggal permanen di sana? Mungkinkah lagi? Mungkinkah suatu saat aku bisa kembali, bangun pagi hingga lelap di sana dari hari ke hari seperti bertahun lalu? Aku tak pernah tahu. Tapi aku sungguh perlu meninggalkan jejak kakiku di tanah-tanah yang lebih jauh lagi, sebelum akhirnya dapat kuputuskan di mana aku akan membangun rumahku.

Advertisements

One thought on “Mengingatnya dari Jauh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s