Pembentukan Kelas dalam Struktur Sosial Feodal


Feodalisme merupakan masyarakat yang diatur berdasarkan sistem fief  dengan kekuasaan legal dan politis yang menyebar luas di antara orang yang memiliki kekuasaan ekonomi. Maknanya diperluas untuk mengacu pada masyarakat manapun di mana sebagian produk mereka pada sekelompok nonprodusen pemilik estate secara  turun temurun.

François-Louis Ganshof (1944) menggambarkan feodalisme sebagai  susunan resiprok terkait kewajiban hukum dan militer pada kalangan bangsawan yang berputar pada tiga konsep kunci, yaitu:  lords, vassals[i], dan fief[ii]s. Ada juga definisi lebih luas yang diajukan oleh  Marc Bloch (1939) yang tidak hanya menyertakan faktor bangsawan, akan tetapi tiga pihak yang terlibat dalam kepemilikan lahan; bangsawan, gerejawan, serta petani penggarap yang terikat dalam manorialisme[iii] yang seringkali merujuk pada istilah “masyarakat feodal” .[iv]

Sementara itu Adam Smith menggunakan istilah “sistem feodal” untuk menggambarkan suatu sistem sosial dan ekonomi  yang didefinisikan oleh pewarisan tingkat sosial, yang memiliki kekhasan hak-hak dan kewajiban-kewajiban sosial maupun ekonomi tersendiri. Dalam sistem seperti ini, kejayaan diperoleh dari sektor pertanian, yang diorganisasikan bukan atas dasar kekuatan pasar, akan tetapi landasan  tradisi pelayanan kerja para petani kecil  terhadap tuan tanah (serf, dari bahasa latin serfus).[v]

Situasi Ketika Sistem Fief Muncul

Hingga abad IX, struktur institusi yang terbentuk di negara-negara Eropa pada umumnya adalah kerajaan. Berbagai kerajaan di wilayah Eropa Barat menghadapi ancaman bertubi-tubi dari luar kawasan sejak abad IX.  Pasukan Muslim, Magnyar, dan Viking bergantian berupaya melebarkan kekuasaan di wilayah tersebut. Hal ini dipandang para raja Eropa sebagai ancaman besar yang menuntut keberadaan tentara yang siap sedia mempertahankan wilayah kerajaan setiap saat.

img_3114.jpg

Secara teoritis, sebetulnya raja berhak untuk menarik pajak atas seluruh lahan untuk membiayai peperangan dan memberlakukan wajib militer atas semua orang merdeka.  Akan tetapi, hal itu tidak efektif karena bisa saja ketika musuh menyerang, tentara belum siap. Atau bilamana tentara rampung dipersiapkan, serbuan telah usai dan wilayah tertentu kadung tak dapat dipertahankan. Dengan demikian, keberadaan laskar bersenjata yang siap sedia setiap saat membela kerajaan betul-betul dibutuhkan.[vi]

Persoalannya, untuk mempersiapkan semua itu dibutuhkan biaya sangat besar yang tak terpenuhi sekedar dari pemasukan sektor pajak. Pajak yang ditarik oleh negara tidak cukup besar untuk membeli persenjataan dan perlengkapan yang memadai karena nilai uang yang tidak stabil. Kalaupun setiap yang wajib militer diwajibkan memperlengkapi dirinya sendiri, para petani miskin akan kesulitan memenuhinya. Untuk menjawab persoalan itu, raja kemudian membentuk sistem fief.

Untuk memahami sistem fief (feodum dalam Bahasa Latin), sebelumnya dibutuhkan dahulu pengetahuan atas latar belakang sistem kepemilikan tanah waktu itu. Secara umum, tanah terbagi ke dalam dua jenis: yang pertama adalah lahan yang tidak terbudidayakan dan tidak berpenghuni; yang kedua merupakan lahan terbudidaya yang dimiliki oleh kerajaan, gereja, para lord, atau tanah garapan para petani bebas.

Selama masa-masa penyerbuan dari luar, gereja lemah dan kacau, namun kekuasaan dan independensinya berkembang pada masa-masa setelah 1000M. Gereja melancarkan pengaruh besar sebagai faktor kekuasaan ilahiyah disertai monopoli pendidikan terhadap sedikit orang yang memang sengaja diberi pendidikan dan monopoli dalam hal komunikasi dan tafsir atas berita dan gagasan-gagasan baru untuk seluruh masyarakat. Secara internal, struktur gereja bersifat hirarkis. Pastor desa berada di dasar piramida, paus berada di puncak, serta para pejabat tinggi gereja seperti uskup dan kardinal berada di tengahnya. Biaya operasional gereja dipenuhi lewat tithe (semacam pungutan yang dikumpulkan oleh pemuka agama) yang harus dibayar oleh seluruh petani. Di samping itu, para uskup juga mendapatkan penghasilan dengan mengelola fief. Mulanya para uskup pengelola fief dipilih oleh raja, tapi kemudian gerejalah yang memilihnya. Hal ini merupakan petunjuk yang jelas atas menguatnya pengaruh gereja. Namun, gereja adalah bagian dari masyarakat hirarkis, sehingga siapapun yang menunjuk mereka, para uskup biasanya adalah anak-anak keluarga bangsawan.

Pada zaman abad pertengahan, doktrin gereja amat kuat membentuk struktur masyarakat. Gereja dianggap sebagai perwakilan Tuhan di bumi. Sebagaimana kewajiban seorang hamba untuk taat pada Tuhan yang melindungi dan mengayomi manusia, tuntutan itupun berlaku atas gereja dan raja bagi struktur di bawahnya. Para bangsawan, keuskupan, hingga petani penggarap wajib melayani mereka yang duduk di hirarki tertinggi feodalisme, sebagai balasannya mereka mendapat pengayoman, perlindungan, serta kesempatan mengelola lahan pertanian untuk bertahan hidup.

Situasi tersebut kira-kira dapat diekspresikan sebagai berikut:

a serf: worked for all

a knight/baron: fought for all

a churchman: prayed for all

Pada mulanya raja merupakan lord tertinggi karena merupakan penguasa seluruh lahan. Baik yang menjadi lahan fief (tanpa pajak tapi dengan jaminan pengamanan mandiri) dan lahan bebas (dibebani pajak dan dikelola petani bebas). Namun, semakin independen para lord mengelola lahannya, ikatan pada raja mengendor. Ikatan horizontal di kalangan para lord untuk menjaga kepentingan mereka menguat. Dengan demikian lahirlah sebuah kelas baru: KELAS BANGSAWAN.

Di masa awal, banyak lord yang langsung memimpin kegiatan produksi di lahan pertanian. Seiring waktu mereka lebih sibuk mengurusi administrasi dan militer. Pembagian status terhadap tanah tersebut kemudian menjadi pembeda tegas atas jenis pekerjaan antarkelas. Perbedaannya menguat bukan semata dalam pekerjaan, hingga pada status sosial dan berlanjut pada keturunan. Pernikahan antarkelas menjadi hampir tidak mungkin.


[i] Vassalage. 1 : a position of subordination or submission (as to a political power) 2 : the state of being a vassal. 3 : the homage, fealty, or services due from a vassal.

[ii] Fief secara umum bisa dikatakan sebagai sistem sosial dengan mekanisme penganugerahan lahan dengan imbalan jasa militer.

[iii] manorialisme/Seigneurialism is the name for the organization of the economy in the Middle Ages. The economy relied mainly on agriculture. Manorialism describes how land was distributed and who profited from the land. A lord received a piece of land, usually from a higher nobleman, or from the king.

[iv] Bloch, Marc. 1961. Feudal Society. Tr. L.A. Manyon. Chicago: University of Chicago Press

[v] Richard Abels. “Feudalism”. usna.edu.

[vi] Fink, Hans. 2010. Filsafat Sosial: Dari Feodalisme hingga Pasar Bebas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Advertisements

One thought on “Pembentukan Kelas dalam Struktur Sosial Feodal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s