rekonsiliasi

ia nampak begitu tak sabar, semua yang baginya begitu terang, begitu jelas, mengapa masih tak dipahami juga?

ribuan sinyal, terkirim pada alam sadar dan selapis di bawah nalar

tak juga digubris, ia semakin rewel, semakin bertingkah, semakin tak masuk akal

 

tasik tenang itu beriak juga, ketika empunya pesan tak bisa bersuara, semakin gencar ia berulah, bertingkah, menjaring perhatian

semakin mengganggu semakin mengganggu, kenapa, ada apa denganmu?

jangan berulah aku pun sedang susah, tak kau lihat pekerjaanku menumpuk, analisis tertunda

kertas kerja semakin menumpuk padahal tak sekejap pun waktu hendak kompromi?

 

ia tak lagi melonjak, tapi bisu, lalu menjerit sekencang-kencangnya, lantas terisak, semakin lama semakin pilu rasanya

dibuatnya gundah tak berkesudahan, pikiran benar-benar mati, rasanya aku sudah tak menjadi manusia

 

hingga aku tak sanggup lagi tanpa mengadu

kesusahanku ini bagaimana kelak kesudahannya

diam saja dia mendengar cerita lalu jarinya menunjuk, ini dan itu, kau lihatlah

aku terhenyak, sedemikian dekat? sedemikian adanya?

tentu tak serta merta kupercaya

aku perlu gelap, aku perlu sepi, aku perlu ruang penimbang

 

ketika akhirnya kuterangguk, pedih menyusup

sesali kebodohanku, sayangkan ketidakmungkinan ini

namun hati dan nalarku berdamai jua

hati yang dulu memilih, nalarku memaklumi

aku tenang kini meski dengan luka

energi ini takkan kubiarkan membunuhku, aku kan tetap hidup

aku hanyalah manusia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s