Pernikahan yang Tak Kunjung Tiba

 

Beberapa kali kusinggung soal pernikahan di dalam beberapa tulisanku di blog ini, tapi ini kali pertama aku memfokuskan diri berbicara khusus tentangnya. Beberapa tulisan sebelumnya  baru terkait persepsi terhadap cinta, menghadapi ketidaksabaran orang-orang terhadap kelajangan (dapat dibaca pada artikel “kapan?”), hehe, atau sedikit ulasan tentang mak comblang.

Mulanya aku agak enggan menulis soal ini. Selain karena sesungguhnya patokan-patokan utamanya telah tergurat jelas dalam agama Islam mulai dari motivasi, hak dan kewajiban suami-istri dan lain-lain, aku memandang soalan ini cukup privat. Tapi pada akhirnya, nampaknya ada juga keperluan untuk menuliskan semua ini, mudah-mudahan ada manfaatnya.  Tulisan ini hanya merupakan uraian pemikiran terkait hal yang beberapa waktu belakangan entah kenapa cukup sering kujumpai.

Ya, beberapa waktu belakangan ini, aku bertemu dengan beberapa orang dan tiba-tiba topik pembicaraan beralih pada pernikahan. Ada juga seorang ibu yang mengisahkan kehidupan pernikahannya, juga cerita beberapa kawan dekat mengenai kehidupan pernikahan mereka, serta beberapa yang lain—yang tidak menikah hingga saat ini—juga berkisah tentang gambaran dan pendapat mereka terhadap pernikahan. Agak aneh sekaligus menarik sebenarnya ketika pergi kemana-mana, aku selalu menjumpai kawan-kawan yang seperti ini. Is it fate or destiny? :p

Seorang kawan, Kinan, berujar, “Keluarga besarku memandang pernikahan sekedar sebagai pelengkap status.” Tidak lengkap hidup tanpa pernikahan meski telah banyak pencapaian yang diraih. Sementara di sekeliling gambaran pernikahan yang berhasil itu sulit dicari. “Ada tetangga—seorang guru—yang kerap mengencani murid-muridnya meski ia telah bersuami. Tidak ada jaminan pernikahan dapat menjaga diri seseorang agar tetap suci. Padahal dalam kondisi tidak menikah seperti saat ini aku bersyukur pada Allah tidak tergelincir pada hal-hal yang dilarang oleh agama”, sambungnya.

Sementara Mia berkisah tentang hatinya yang telah terlabuh pada seseorang. Namun entah mengapa tambatan hatinya itu enggan. Dia berusaha memutuskan harapan Mia dengan kata-kata pamungkas, “Aku tidak tepat buatmu, kau pantas mendapatkan yang lebih baik”. Padahal dari gelagatnya sulit untuk mengingkari bahwa diapun sama-sama menaruh hati. Keduanya sudah memiliki hidup yang lumayan mapan. Namun masing-masing  berjalan sendiri, entah menanti apa. Bukan tak ada orang lain yang datang pada Mia, akan tetapi sedikit harapan yang masih hidup dalam hatinya—di samping beberapa keberatan yang memang tak dapat dikompromikan dari si pelamar yang lain—membuatnya bertahan pada kondisi melajang.

Beda lagi dengan Lia. Dia memiliki gambaran ideal tentang seseorang yang akan membuatnya jatuh cinta—tak begitu jauh denganku sebetulnya, meski pada pada kasusku, akhirnya sosok itu beku terkubur dalam bayangan silam—dan ia benar-benar yakin sosok itu akan muncul. Ternyata benar, ada sosok yang dijumpainya dengan figur 90%  persis impiannya, hanya saja persoalan besar menghadang. Sosok riil-nya berbeda keyakinan. Hanya bait-bait do’a saja yang kini dapat dipanjatkan untuk mengharap keajaiban dari Tuhan.

Masih ada beberapa kawan lain yang juga masih bertahan dalam situasi ini. Apakah usia jadi masalah? Mungkin tidak bagi laki-laki tapi, bagi perempuan kaitannya erat dengan perkara medis, semakin bertambah usia, katanya, semakin tinggi resiko dalam kehamilan dan persalinan andaikata ia menikah suatu saat nanti. Itulah mungkin salah satu faktor yang membuat banyak orang mulai khawatir saat menyadari ada seorang perempuan pada usia yang dikatakan layak dan matang untuk membangun keluarga tapi tak kunjung menikah juga. Apalagi jika yang bersangkutan adalah kerabat sendiri, puteri sendiri, sahabat sendiri, dan lain-lain. Pertanyaannya, salahkah bila tidak menikah?

Ada sebuah hadits dari Rasulullah saw , “Bukan bagian dari umatku mereka yang melakukan tabattul (membujang seumur hidup)”. Konteks hadits tersebut mengecam orang-orang yang memang berazzam untuk tidak menikah sepanjang hidupnya. Kehidupan seperti rahib yang mengharamkan diri dari pernikahan untuk meraih kedekatan pada Tuhan sama sekali tidak dikenal dalam Islam. Bahkan Rasulullah saw, teladan terbaik kita, pun menikah dan membangun keluarganya. Rasulullah juga menyampaikan bahwa beliau akan membanggakan jumlah kaum muslimin di hadapan Allah kelak. Islam adalah agama yang sesuai dengan fithrah, tidak mematikan hawa nafsu manusia dan mengekangnya, tapi mengarahkan pemenuhannya agar sesuai dengan tujuan penciptaannya di muka bumi.

Dari sejumlah kawan-kawan perempuan yang tak kunjung menikah meski usia sudah dibilang cukup, kebanyakan bukanlah orang yang tak mengerti agama. Meski tidak semuanya aktivis gerakan Islam, tapi menaruh perhatian penting pada agama mereka; meyakini agama lebih dari sekedar keyakinan individual dan berazzam mencari ridha Tuhan dalam setiap aktivitas mereka. Mereka pun memahami hukum-hukum Islam terkait pernikahan, kehidupan berumah tangga, termasuk anjurannya. Sebagian memiliki pengetahuan lebih dalam ketimbang sejumlah teman lain yang telah lebih dahulu memasuki gerbang pernikahan. Jadi, kalau soal kematangan, ya bisa dibilang sudah matang.

Sekali waktu aku dengan kawan lainnya berjalan di pelataran masjid dan kami melihat sebuah poster publikasi Sekolah Pranikah. Seorang di antara kami berseloroh, “Rasanya sudah lama sekali ya, melihat publikasi-publikasi seperti ini seolah mengingatkan masa muda yang sudah lama terlewat.” Aku menimpali, “Ya, meski saat ini tidak menikah tapi hal-hal seperti ini sepertinya so old school untuk sepantaran kita. Malah sudah sejak lama aku menerima konsultasi urusan pernikahan. Entah mereka yang hendak menikah, bahkan yang sudah menikah”.  Dia menjawab, “Lho kok sama? Haha.” “Malah ada yang bilang bahwa ketika memberi masukan aku seperti sudah menikah bertahun-tahun saja.”, timpalku. Lalu kami tertawa bersama.

Apakah tak ada kerinduan untuk memiliki kehidupan pernikahan? Berbagi hidup dengan seorang pria yang dicintai dan membesarkan anak-anak bersama sembari berupaya mewujudkan mimpi bersama, semacam idealisme, apapun itu.

“Kalau mau jujur, adakalanya rasa rindu (pada kehidupan pernikahan) itu membuncah dan hidup terasa menjadi sepi. Ya, kadang kepikiran sih, tapi bagaimana lagi. Dengan bekerja, perlahan semuanya memudar”, ujar Imas.

“Dulu aku begitu ingin menjadi ibu, mengasuh anak-anak, mendidik mereka. Tapi belakangan setelah menyibukkan diri dengan pekerjaan sementara kesempatan itu tak kunjung tiba, aku malah merasa naluriku menghilang perlahan, entahlah, beda saja rasanya”, kata Runi.

“Bagiku semua itu sekarang seolah seperti fungsi autohide pada taskbar (sistem operasi, pen) windows. Maksudnya, jika waktunya tiba ia (perasaan keibuan itu) akan muncul. Tapi saat ini, perasaan itu seolah menyublim atau tersembunyi hingga tidak menggangguku dalam melaksanakan aktivitas harian. Suatu saat nanti bilapun waktunya tiba, insya Allah ia akan hadir secara naluriah,” sambung Kinan.

Menghindari pernikahan secara umum atau berniat hidup melajang seumur hidup memang tidak sesuai ajaran agama, sebagaimana yang diungkap dalam hadits Rasulullah di atas. Tapi bagaimana dengan mereka yang tidak menikah karena alasan lain?

Coba tengok, beberapa ulama besar ternyata menghabiskan kehidupannya tanpa pernikahan sama sekali. Macam-macam pula ceritanya, ada yang diriwayatkan saking sibuknya mencari ilmu hingga tak punya waktu berkeluarga; ada juga yang pujaan hatinya keburu dipinang orang lain, dan akhirnya tak menikah hingga akhir hayatnya. Bukan dijadikan sebagai pembenaran, namun hanya menunjukkan realitas bahwa jalan kehidupan orang sedemikian beragam.

Perkara yang dihadapi banyak kawan-kawan ini memang lebih cenderung sesuatu yang sifatnya prinsip alih-alih sekedar dilema kehidupan berkeluarga vs karier, dan semacamnya.

“Ya, sekarang memang sibuk kerja, tapi sekalinya menikah dan punya anak, semua ini ditinggal.”, ungkap Imas.

“Dulu pernah ada orang yang memiliki pertautan denganku. Tapi pemikiran dia dan gaya hidupnya seperti apa, sementara bapakku kayak gimana. Ujung-ujungnya sih, gue mungkin bakal nikah dengan siapa yang bisa nekat. (Mau memperjuangkan hubungan ini, pen)”, kata Kinan.

“Gimana ya, Ra, orang-orang mungkin agak silau melihatku, segan atau apa. Terutama kalau beda almamater. Tahu sendiri lah cap-nya I**. Jadi belum apa-apa sudah gimana, gitu. Sementara dia sendiri meski sealmamater dan bahkan sekarang rampung S3, ya begitu. Entah ketidakyakinan akan jalan yang mungkin ditempuh nanti atau seperti apa.”, aku Mia.

Sementara Vivi pernah bercerita bahwa orangtuanya sempat khawatir ketika ia hendak melanjutkan studi S2. “Nanti dulu lah, bekerja dulu boleh, tapi jangan terus-terusan sekolah, nanti makin sulit menikah”, nasihatnya. Tapi apa iya mesti menunda suatu kebaikan demi sesuatu yang tidak pasti? Mencari ilmu umum merupakan fardlu kifayah sementara menikah adalah sunnah. Keduanya tak perlu dipertentangkan. Siapa yang salah ketika para pria semakin enggan dan minder dengan level intelektualitas seorang perempuan hingga tak ada keberanian untuk meminangnya? Apakah perlu seorang perempuan menahan diri mengembangkan diri dan menahan aktualisasi dirinya, atau menyembunyikan kecintaannya yang tinggi pada ilmu sekedar memperbesar peluang pernikahan? Tunduk pada mitos “yang senang diskusi biasanya tak pandai memasak” alih-alih melawannya?

Mme de Rênal’s menyatakan bahwa “Love does not seek equals; it creates them.” Kemudian kukatakan pada kawanku itu, “Dia yang menaruh hati tapi merasa minder, dan merasa dirinya lebih rendah dari dirimu, atau merasa silau oleh kemilaumu, adalah satu dari dua kemungkinan: satu, yang rendah percaya dirinya dan tidak yakin atas kepemimpinannya hingga ketakutan akan dominasi dirimu kelak, bersyukurlah ia tidak datang padamu, ia bukan pemimpin yang baik; atau dua, dia yang begitu bijak dan rendah hati menahan tangannya untuk menjangkaumu dan hendak mempersilakan orang lain yang menurutnya lebih layak mempersuntingmu hanya demi kebaikan dirimu, orang seperti itu layak dihormati dan do’akan saja ia pun mendapat yang lebih baik darimu. Ya, kalau ternyata Allah menentukan bahwa yang terbaik baginya adalah kamu dan begitu pula sebaliknya, dia yang terbaik bagimu, berarti do’a itu merujuk semoga ia dikuatkan hatinya untuk datang padamu, haha. Tapi kita tak pernah tahu mana yang sesungguhnya terjadi, karena tak ada kabar dari kebisuan. Karena itu, apapun kebenarannya, do’akan saja semoga semua yang terjadi adalah kebaikan bagi masing-masing pihak dan takkan berbuah penyesalan di masa yang akan datang.”

Secara umum aku menangkap dan menyimpulkan bahwa yang diharapkan dan mungkin ditunggu oleh saudari-saudariku tadi (aku termasuk gak ya? hahaha) adalah belahan jiwa yang telah disiapkan Allah baginya untuk menuntunnya meraih ridla Allah PADA JALAN YANG RELATIF LEBIH DISUKAI. Apa maksudnya? Sebetulnya tidak usah repotlah, tinggal tundukkan diri untuk memenuhi hak dan kewajiban, selesai. Tapi kenyataannya, manusia bukan robot, faktor ridla, sentimen emosional, dll akan selalui mewarnai relasi interpersonal, apalagi yang seintim pernikahan. Hal ini mau tidak mau akan sangat berpengaruh pada sehat-tidaknya hubungan dan jelas dampak lebih jauh akan terlihat pada kualitas penghambaan seseorang pada Rabb-Nya.

“Antoine de Saint-Exupéry : ‘Life has taught us that love does not consist in gazing at each other but in looking outward together in the same direction.’ Wind, Sand and Stars (New York, 1992), Chapter 9.6, p. 215.”

Bagi banyak orang, konsepsi ini mungkin nampak seperti dibuat-buat dan dijadikan rumit. Nikah ya nikah ajalah. Kalau sudah tiba waktu dalam menargetkan pernikahan, tinggal cari calon yang sesuai. banyak jalan, minta dicomblangkan, dicarikan, sebar biodata, dan lain-lain. Bagi banyak orang pernikahan bisa saja sesederhana itu. Bahkan lebih dari itu, semata tertarik atas menariknya wajah seseorang, pernikahan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan seksual dalam jalan yang dihalalkan. Tapi buat sebagian orang lainnya tidak seperti itu. Berbagi hidup bagi sebagian orang yang memiliki determinasi tinggi dan konsep tertentu dalam mendefinisikan eksistensinya, pernikahan merupakan sesuatu hal yang akan berdampak besar pada tapak-tapak kehidupan yang akan dijalani berikutnya. Kehidupan keseharian sebagai seorang individu, seorang profesional, sesosok subjek di dalam masyarakat tak bisa dilepaskan dari kehidupan pernikahan itu. Meski mungkin attachment sedikit banyaknya direduksi, tetap saja seorang pasangan akan mempengaruhi performanya dalam menggali potensi diri menurut konsep yang dia bangun. Dia harus memastikan, kalaupun terjadi sebuah pernikahan, mestilah dengan pasangan yang dapat saling mendukung visi misi hidupnya, kalaulah tidak mempercepat dan memberikan hasil yang lebih baik dalam pencapaiannya, ia dapat memantapkan dan mengokohkan langkahnya ketimbang ketika berjalan dalam kesendirian. Akan tetapi jika pernikahan malah memperlambat atau bahkan memutar arah (bukan pada yang lebih baik), maka mungkin lebih baik menghindari ujian yang tak perlu.

Semua mukmin yang lurus berkehendak meraih ridla-Nya. Namun terhampar berbagai jalan yang bisa ditempuh tanpa menihilkan atau menolak yang lainnya. Hanya saja pemberian-Nya pada satu manusia dan manusia yang lain itu berbeda. Sebagaimana rezeki, perkara jodoh juga terpaut dengan qadla. Tidak semua orang mendapatkan jodoh atau jodohnya yang ideal. Bukankah menikah juga berhukum asal sunnah menurut jumhur ulama? Bukan wajib. Bahkan ada yang mengatakan hukum asalnya mubah saja. Selama perkaranya bukan terkait menolak konsep pernikahan atau semata-mata menolak pinangan karena hal-hal yang sifatnya relatif kental dalam perkara duniawi seperti harta, kemolekan, dll, biarlah Allah saja yang memutuskan apa-apa yang terbaik, jalan mana yang terbaik.

Seperti kata Kinan, “Jadinya hal itu (pernikahan, pen) menjadi sesuatu yang nothing to lose buatku. Andaikata Allah berkenan menganugerahkannya, maka aku bersyukur atasnya, jikapun tidak, ada hal lain yang lebih baik yang telah Ia siapkan bagiku”.

Jiwa-jiwa yang bebas akan senantiasa terbang mencari relungnya dalam angkasa hidup menuju keabadian. Kadang satu dengan yang lain bersinggungan dan memiliki kunci satu sama lain untuk bisa membuka pintu yang tak terbuka sembarangan. Tapi siapa dapat menjamin hal itu berlaku untuk semua? Ada saja kunci dan pintu yang tak berkesempatan bersua, atau memang ada sejumlah pintu yang kuncinya tersimpan di langit sana, menantinya kembali dalam keabadian.  Janganlah keresahan akan hal-hal semacam itu menghalangi kita untuk tetap terbang dan tekun mengumpulkan remah-remah rahmat dari Tuhan, sebagai bekal selamat, kini dan di masa yang akan datang, masa yang akan sangat panjang.

Disclaimer: Seluruh nama yang digunakan dalam tulisan ini merupakan nama samaran.

Advertisements

One thought on “Pernikahan yang Tak Kunjung Tiba

  1. ulasan yg menarik. Saya bertemu dg belahan jiwa jg belum, tetapi sedikit demi sedikit saya mulai membangun kepercayaan bahwa jodoh itu benar2 rahasia Allah, sehingga perlu selalu berserah namun tidak putus asa. Terlebih, ada kerabat berusia belia, belum menikah, tapi sudah tidak lagi hidup di dunia. Hal ini menambah keyakinan bahwa dapat atau tdk jodoh di dunia semakin membuat bertanya bagaimana sebenarnya keterampilan muamalah saya? (terlepas adanya ajal dan tes dari Allah), atau malah jangan2 keterampilan utk menggenapkan setengah agama belum lengkap (krn dlm menikah kita dihadapkan kewajiban utk saling meluruskan akidah,akhlaq,syariat,dan muamalah bersama pasangan shg terpenuhi stengah agama(?)). Afterall, tulisan ini cukup mencerahkan utk mengetahui bhw perasaan2 tsb memang ada di sekitar saya. Trims.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s