Monalisa Smile

Seorang dosen perempuan—digambarkan berpikiran modern—masuk ke dalam lingkungan universitas yang tradisionalis. Alurnya mudah ditebak. Ia hendak melakukan perubahan radikal. Pada perjalanan awalnya ditemui sejumlah resistensi, namun kemudian kesadaran mulai muncul di kalangan mahasiswanya seiring dengan perjalanannya menemukan motif pribadi dan pencerahan bagi dirinya sendiri.

Cerita semacam ini mungkin akan mengingatkan kita pada The Dead Poet Society, polanya hampir sama meski dalam topik dan konteks berbeda. Akan tetapi, meski dengan plot sejelas itu, ceritanya tetap dapat dinikmati dan cukup menarik sebagai target kritik film maupun pemikiran gender yang ditampilkan di dalamnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s