DIY di DIY

Di Yogyakarta, hobi lama yang jarang kukerjakan karena kurangnya waktu dan lain-lain, mendapatkan kesempatan untuk berkembang. Pasalnya, dari tempat tinggalku sekarang, mudah sekali menjangkau toko-toko bahan kerajinan. Selain itu, aku sangat tegas soal me-time belakangan ini.  Kecuali pada keadaan luar biasa, aku menolak kontak, kunjungan, dan sebagainya di akhir pekan.

Dalam dua bulan belakangan, aku membuat beberapa benda praktis. Laptop case, bag raincover, portable harddisk box, dompet, tempat pensil, notebook, dan sejumlah pernak-pernik lain. Ujung-ujung jari tangan kananku mulai kapalan karena terlalu sering tertekan dan kadang tertusuk jarum.  Jempol tangan kiriku malah ditambah cedera, tertusuk paku saat aku memasang gantungan termometer di jendela. Karena terburu-buru aku kurang memperhatikan keselamatan kerja waktu itu.

“Kamu masih punya waktu mengerjakan yang beginian?“

Beberapa orang menanyakan hal itu. Well, aku menyediakan waktu untuk itu. Aku membutuhkannya. Dari segi finansial, untuk beberapa desain benar-benar sangat membantu berhemat ketimbang beli jadi. Tapi dari segi waktu yang diinvestasikan,  jelas akan menghasilkan loss-profit. Sekian jam yang kuhabiskan untuk membuat barang-barang tersebut akan bernilai finansial lebih tinggi jika kugunakan untuk mengajar misalnya. Untuk les komersial, biasanya aku mendapatkan sekitar Rp 25.000-Rp. 30.000/jam. Sementara untuk mendesain dan mambuat sebuah tempat pensil sederhana, aku membutuhkan waktu kurang lebih empat jam, karena semuanya kujahit tanpa mesin. Mulai dari penjelujuran, penyelesaian bagian luar-dalam, dan finishing, semuanya hand-stitch.

simple pencil case

Tapi toh tetap kukerjakan, karena aku membutuhkannya. Lebih karena unsur psikologis. Pekerjaan utamaku hingga saat ini bukanlah pekerjaan yang akan menampakkan hasilnya dalam hitungan hari, minggu, atau mungkin tahunan. Menyusun, mengembangkan, dan menyebarkan wacana adalah pekerjaan massal dan memakan waktu lama. Futur atau rasa bosan yang muncul karena kelelahan tak dapat dihindarkan. Membuat kerajinan seperti ini, selain mengukuhkan kemandirian subjek (well, you Do It Yourself, don’t you?!). Ia menimbulkan sugesti bahwa aku sanggup menyelesaikan sesuatu yang kumulai. Bahkan terbuka peluang sangat besar untukku melihat hasil karyaku sendiri.  Karenanya, meski memakan waktu dan cukup melelahkan, sebenarnya aktivitas ini merupakan pembangkit energi untuk melaksanakan rutinitas di hari-hari kerja berikutnya. Selain itu, menggunakan barang-barang buatan sendiri juga meningkatkan kepercayaan diri.

You are strong enough to survive though you’re alone. You can do it all.

Sekali waktu, pada kesempatan istimewa, benda-benda ini juga dapat menjadi hadiah istimewa bagi mereka yang istimewa 🙂

Salam DIY!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s