Menerima Tanpa Harus Selalu Memahami

 

Rasanya aku sudah memiliki ekspresi yang tepat untuk cinta. Bagiku cinta adalah kekuatan untuk menerima tanpa harus selalu memahami. Dengan demikian, dalam ikatan cinta akan semakin sedikit dibutuhkan penjelasan maupun alasan. Itulah yang menjadi pangkal “kelemahan” bagi orang-orang yang mencinta. Bagaimana tidak, sekali dua kali keistimewaan akal untuk menalar akan tersalip keinginan sekedar untuk menerima saja dahulu.

Dari sini nampak sangat penting untuk tetap memegang kendali dan menahan diri dalam menentukan entitas yang layak dicintai. Bagaimanapun, sedikit banyaknya ia akan mempengaruhinperilaku, penilaian, serta sikap seseorang. Kemandirian akal dalam menalar akan terintervensi oleh emosi ini.

Hal ini tampak sebagai paradoks berikutnya dalam hidup. Untuk menentukan sesuatu yang “diizinkan” melumpuhkan akal sekali waktu, digunakan juga akar untuk menalarnya. Namun demikian, penting untuk disadari bahwa cinta seringkali buta. Perasaan suka, afeksi yang mendalam itu terkadang seperti membuat keputusan sendiri. Jauh sebelum nalar bergerak untuk menghakimi.

Sudah lama dugaan ini muncul, namun aku sendiri baru teryakinkan setelah pengalaman personal memverifikasinya. Sekali curiga tengah jatuh cinta, kutemukan bahwa hati menunjukkan bentuk penerimaan pada beberapa hal yang tidak sesuai dengan parameter-parameter yang sejak awal ditentukan nalarku terkait entitas yang layak dicintai. Tapi memang begitulah kerjanya. Konflik antara kesadaran yang dibangkitkan oleh emosi dengan kesadaran yang dibangun oleh nalar ini harus dipecahkan atau dikompromikan jika bisa.

Fenomena ini bahkan dapat kita temukan dalam lingkup yang lebih luas dari sekedar relasi antarpersonal pada lawan jenis. Dapat kita lihat seorang aktivis gerakan tertentu. Begitu sering kujumpai aktivis yang begitu mencintai organisasinya sering ditemui menyalip nalar dan kekritisan mereka dengan kepercayaan yang berdasar pada gerakan atau tokoh-tokoh pentingnya tanpa melalui proses komparasi antara fakta/pernyataan dengan doktrin utama atau pokok-pokok pemikiran yang mereka pegang bersama. Satu, dua, atau dua puluh teks dikutip secara serampangan tanpa sadar akan resiko menjatuhkan kredibilitas gerakannya sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s