Pulang (2)

Sekali waktu aku melangkah ke luar rumah, kupikir ini hanya kepergian sementara. Tak lama setelah beberapa urusan selesai aku ‘kan kembali. Akan pulang. Tetapi di luar, yang kujumpai ternyata kenyataan bahwa satu tapak membuka pintu pada tapak-tapak lain yang makin menjauh dari apa yang mulanya kusebut rumah. Semakin lama semakin kusadari bahwa perjalanan ini bahkan mungkin takkan pernah berakhir. Dengan waktu yang singkat, luasnya tanah terhampar di hadapan, apakah akan ada waktu untuk benar-benar pulang, ketika lelah, lalu beristirahat yang penghabisan. Kemudian aku sadar bahwa sejak awal aku tidak memulai perjalanan ini dari rumah. Rumah dan pulang yang sesungguhnya bukan yang pernah kualami. Sejak awal kesadaran ini muncul aku harus selalu siap dengan kondisi berjarak dari akar. Sesuatu yang kudapatkan sebagai anugrah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s