Yang tercecer dari tahun 2011

Sehari setelah merasa cukup baikan untuk mulai beraktivitas di luar rumah, aku ikut ibu berkeliling; mewawancarai warga untuk keperluan pemutakhiran data statistik demografis. Setapak demi setapak berjalan mengungkap realitas masyarakat di sekitar.

Tak jauh dari tempatku menghabiskan waktu membaca data-data statistik kemiskinan, ada sebuah keluarga hidup dalam pondok bambu sempit, kontrakan pula. Tak ada jamban, mendapatkan listrik tanpa meteran, tak punya ijazah, dengan putra-putranya putus sekolah. Kalau listrik padam sehari dan kuota internet habis sudah membuat uring-uringan, hendaknya ingat pada mereka.

Hanya beberapa puluh meter dari lokasiku menulis status keluhan terlalu banyak tawaran serta tuntutan bekerja di saat aku ingin menggunakan waktu sesuai keinginanku, ada seorang ibu menggunakan sebagian besar waktunya tiap hari demi enam ribu rupiah. Seorang yang lain mengeluh, “Orang-orang kaya sekarang curang. Kenapa ya, semua beli mesin cuci. Tak ada lagi kesempatan kami mencari uang dari upah mencuci pakaian.”

Di sekitarnya ada sebuah keluarga tanpa ingatan tentang tanggal lahir.

“Aki mah lahir teh bareng pas tangkal suren dipelak, tuh tunggulna aya keneh.”

“Si nyai mah bareng keur melak tangkal dukuh nu di hareup.”

Bukankah lebih sulit untuk bertanya pada pohon tentang usianya? Apa perlu menghitung lingkar tahun yang nampak pada pokok sebuah pohon agar dapat memperkirakan usia si kakek? Juga mengukur keliling pohon duku, menghitung diameternya, lalu mencocokkannya dengan data rataan pertumbuhan pohon duku agar dapat memperkirakan usia anaknya? Tanggal lahir yang diingat banyak orang untuk berbagai alasan bukan hal penting buat mereka. Hari ini anak lahir, pikiran yang terlintas adalah “harus dapat mencari makanan yang lebih banyak karena bertambah mulut yang harus disuapi”.

“Kartu keluarga mah teu aya. Kumaha atuh da carogena ge nu batur.” Aku kembali terhenyak. Apakah terdapat diskriminasi administratif atas istri kedua dan seterusnya? Pencantuman nama sang suami sebagai kepala keluarga pada dua keluarga yang berbeda memang akan menyulitkan administrasi. Ada tumpang tindih data nantinya. Kenapa tidak digabung saja sebagai sebuah keluarga besar? Toh dalam kartu keluarga tersedia kolom terpisah untuk mencantumkan nama ayah/ibu setiap anggota keluarga. Jadi, takkan ada kekacauan keterangan anak ini dari istri yang mana, dan sebagainya. Tapi, bukan itu masalahnya. Apakah pernikahan ini diketahui istri pertama? Akhirnya sang istri kedua, dst. rela mencatatkan diri sebagai PEKKA (Perempuan Kepala Keluarga), dan negara mencatatnya sebagai janda, padahal suaminya ada. Anak-anak seperti punya keterbatasan “memiliki” ayah mereka sebagaimana sang ibu yang terbatas “memiliki” suaminya. Sssstt…rahasia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s