Kelemahan Kita

Kita tahu bahwa akibat menerima segala keganjilan ini hanya akan membuka diri untuk saling menyakiti. Tanpa berbuat apapun, hanya menghilang sekejap dari pandanganmu, sudah kusiksa kau dengan rindu. Aku membayangkan gara-garaku kau menjadi pembenci jarak lalu duniamu menjadi sempit karenanya. Aku membuatmu jadi pembohong. Terbiasa mengatakan “tak apa-apa”, hanya agar terlihat kuat. Hanya untuk berusaha agar tak khawatir satu sama lain, padahal jelas terdengar gemuruh badai yang tak jua terjinakkan di dalam sana. Aku masih terlalu bodoh untuk menebak nama fenomena ini, apalagi menafsirnya. Kau gila memintaku untuk mengatasinya?!Segala kejahatan yang kulakukan padamu, kautimpakan jua padaku. Kita impas. Samar-samar aku mendengar mereka berbisik ini cinta. Aku tak mau percaya. Aku hanya percaya Tuhan tidak mencipta hati untuk menyiksa kita. Ini ujian, mungkin, karenanya kita harus lulus mesti entah bagaimana. Tentu bukan dengan membuang kertas ujian. Kita tak bisa memangkas dan mengenyahkan hati untuk terlepas dari deritanya. Mungkin bukan cinta yang salah, hanya kita yang terlampau lemah. Karena itu kita mencoba untuk tahu diri, menghindari satu sama lain, membentengi diri dengan doa. Tapi jawaban-Nya berbeda. Aku meminta kekuatan untuk tegap sendiri, dibiarkan-Nya aku terpincang untuk dapat bersandar padamu. Aku meminta untuk terkubur di sini, dalam kata-kata. Tapi gaungnya yang menuntunmu menemukanku. Lantas jika aku tak boleh bersuara, untuk menyembunyikan aku ada, mengapa aku ada? Apa artinya ada untuk menjadi tiada. Bahkan tanpa semua petunjuk itupun entah bagaimana akhirnya kita tiba jua di sini, untuk mengenal satu sama lain. Kurasa tak ada jalan lain bagi kita kecuali menyerah saja. Setelah jumpa memang tak dapat berpisah lagi atas keinginan sendiri. Biar Tuhan yang putuskan siapa yang akan tinggal belakangan dengan duka yang lebih panjang, kelak. Untuk saat ini, mungkinkah kita genggam perih yang kita bagi, sambil berjalan, berjalan terus? Aku bodoh. Aku lemah. Aku lelah. Aku tak tahan lagi. Aku mencintaimu.

Lucu memang, kasih dalam berbagai bentuk, termasuk persaudaraan dan persahabatan, bisa dipandang sebagai tragedi. Kadang aku berpikir apa yang salah. Misalkan kautinggalkan aku untuk menempuh kehidupan baru yang lebih baik, atau bahkan kau wafat. Pada dua kebaikan itu, seharusnya kau bahagia. Karena yang pertama membebaskanmu dari yang tidak cukup baik, sementara yang kedua membebaskanmu dari segala keburukan duniawi menuju kebaikan ukhrawi, menjumpai Rabb-Mu. Karena kau (seharusnya) berbahagia maka akupun mesti berbahagia. Tapi yang kurasa justru kepedihan. Senyum yang nampak merupakan hasil upaya luar biasa seperti menolak gravitasi. “Itu akibat terlalu rumitnya hatimu, begitu banyak aturan di sana. Berteman ya berteman saja, membangun hubungan ya, begitu saja. Kok bisa sesuatu yang manis menjadi pahit bagimu. Mungkin memang lidahmu yang pahit. Kau sakit!”, ujar seseorang suatu kali. Entah berapa kali aku berkata seandainya aku tak pernah ada. Seandainya aku hanya debu yang hilang tertiup angin, hingga tak pernah sakit atau menoreh rasa sakit bagi siapapun. Ya, mungkin memang aku sakit, hatiku terlalu lemah, rapuh.

Ini bukan kisah pertama, dan sepanjang napas yang masih berlanjut mungkin belum akan berakhir pula. Aku tak boleh menyesalinya ya? Aku tak bisa berkehendak memutus semua ini begitu saja. Memandang semua ini aku kembali teringat Sisifus. Dia dihukum para dewa untuk menanggung derita kesia-siaan. Menggulirkan batu menuju bukit untuk kemudian menatapnya terguling deras ke lembah. Kemudian digulirkannya kembali ke atas bukit, dan demikian berlanjut tak habis-habis. Oh tidak, bukan maksudku menganggap semua ikatan batin ini kesia-siaan. Tapi pedihnya. Jika yang kusebutkan di atas hanya merupakan kecengengan semata, lebih menyedihkan lagi yang pernah kualami ketika menghadapi kenyataan hubungan tak dapat berlanjut karena nyata di depan mata, jalan yang bercabang sementara tujuan tak dapat disatukan. Lalu akhirnya muncul alasan untuk memiliki kehendak sendiri atas perpisahan. Terkadang itu lebih baik, tapi tak kurang menyakitkannya. Namun biasanya kuhibur diri, setidaknya aku yang membuat putusan untuk bertolak. Aku yang mengatakan, “Kita putus!”

Ada sejumlah kisah yang menarik dari para sahabat Rasulullah. Aku berkaca pada para pendahulu kita. Bagaimana mereka menempatkan sesuatu yang terasa sangat berlebihan untuk kita tanggung saat ini. Satu kisah tentang Abu Hudzaifah dengan maula(budak yang sudah dimerdekakan) nya, Salim. Mereka memiliki hubungan yang begitu erat.

Abu Hudzaifah bin ‘Utbah bin Rabi’ah, saudara laki-laki Hindun binti ‘Utbah—istri Abu Sufyan— merupakan salah satu bangsawan Quraisy yang disiapkan ayahnya untuk menjadi penerus sebagai pembesar Quraisy.Namun ada satu hal yang membuat ‘Utbah bin Rabi’ah berang. Abu Hudzaifah nampak tidak memandang penting status kebangsawanannya. Suatu kali dipergokinya sedang makan bersama budaknya, Salim. Puncaknya ia murka ketika Abu Hudzaifah mengumumkan bahwa Salim telah menjadi anak angkatnya. Sejak saat itu Salim menjadi Salim bin Abu Hudzaifah bin ‘Utbah bin Rabi’ah.

Hubungan mereka berdua memang sangat erat. Lama kelamaan ‘Utbah bin Rabi’ah pun melunak dan dapat menerima posisi Salim. Hanya saja, ketika suatu hari ditemukannya mereka berdua telah memeluk Islam, kemurkaannya kembali. Abu Hudzaifah tidak peduli. Ia menjaga persaudaraannya dengan Salim setelah diturunkan ayat larangan menisbahkan nasab seseorang pada ayah angkatnya. Karena nama ayah Salim tidak diketahui, namanya menjadi Salim maula Abu Hudzaifah.

Mereka berdua saling mencintai dalam keimanan. Salim merupakan penghapal Qur’an yang brilian. Abu Hudzaifah banyak belajar padanya. Mereka mengikuti beberapa peperangan bersama, hingga saat Perang Yamamah mereka saling mewasiatkan untuk memakamkan yang lainnya bila salah satu dari mereka terbunuh. Masya Allah, mereka berdua akhirnya syahid bersama dalam peperangan melawan Musailamah al-Kadzdzab dan pengikutnya itu. Panglima Perang Khalid bin Walid kemudian memerintahkan para shahabat untuk memakamkan mereka berdua dalam satu liang lahat.

Aku membayangkan, dua sahabat membincangkan kematian yang menghadang dengan manisnya. Tak ada ketakutan dan kekhawatiran karena mereka yakin akan menghadapi kehidupan yang lebih baik setelahnya. Jika salah satu pergi meninggalkan yang lain, sangat mungkin masih akan ada hati yang teriris. Bukan karena ketidakrelaan. Akan tetapi emosi yang natural bagi pihak yang ditinggal, bercampur kerinduan untuk segera menyusul kekasihnya menghadap Yang Mahapengasih. Namun sungguh betapa Mahakasih-nya Rabb kita, dipersatukannya dua sahabat itu dalam hidup, dalam iman, dalam perjuangan, hingga dalam kematian.

Kembali pada kita, jika salah satu dari kita pergi, apa yang akan dirasakan yang lain selain pedih karena kehilangan? Kekhawatiran menghadapi persidangan akhirat, atau justru kelegaan karena keyakinan atas rahmat Tuhan? Seberapa yakin kita? Lalu apa yang telah kita lakukan? Bagaimana kita membawa hubungan ini ke arah yang diridhai-Nya? S\Jangan sampai terjadi sudahlah ini terasa berat, lalu tidak menuai ridha-Nya pula. Alangkah celakanya kita. Aku ingin menjadi berkah dalam hidupmu. Mengokohkanmu dalam keimanan dan memantapkanmu dalam ketaqwaan. Kita datang sendiri dan kembali sendirian. Tapi, di sini, kita bersua, aku tak dapat membuang muka. Banyak luka yang memang belum atau takkan dapat sembuh, sementara hati kita pun belum menguat. Tapi, sudah kubilang, kita di sini sekarang, kita punya pilihan. Semoga Allah menuntun kita pada kebaikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s