11 Hari Memulihkan Diri

 

Aku tidak sakit, hanya lelah. Lelah menghadapi berbagai kejutan yang kujumpai selama setahun ini. Terlebih lagi yang kuhadapi beberapa bulan belakangan. Aku seperti habis terengah-engah, berlari sekuat tenaga lalu, “Aaaaa……!” dikejutkan oleh—satu, dua, tiga, ah mungkin lebih— hal-hal asing yang muncul tiba-tiba dari balik lampu jalan, dari gang gelap di pojokan, dari balik bayanganku sendiri.

Saking terkejut dan gagapnya, ada masa ketika aku seperti ditinggalkan diriku sendiri. Aku menggapai-gapainya. Tak tahu bagaimana bersikap, tak mengerti apa yang harus dibuat, tapi aku masih ada, masih di sini. Mungkin aku terlalu lama berkubang di sini. Aku harus beranjak, mesti pergi segera. Karena itu, tak perlu menunggu lagi, begitu urusan ujian rampung aku segera bertolak. Pulang!

Day 1: makanku banyak, tetap gak ketemu si Alice

Pagi-pagi aku tiba, ngantuk rasanya karena bertahan tak tidur sepanjang perjalanan, tepatnya dalam waktu di antara terdengarnya “saya kembali, mbak” dan “sampai jumpa”. Ditambah rasa lapar ketika disambut udara dingin membelai-belai lambungku. Memberi sensasi banyaknya ruang kosong di sana untuk diisi sesuatu. Lagipula ini di rumah! Makanlah, makanlah selama tak ada protes soal selera, soal rasa masakan yang kemanisan, yang bumbunya terlalu banyak modifikasi, yang sayurnya jarang, yang ini dan itu.

Benarlah, aku makan seperti tak pernah jumpa sesuatu yang enak selama berbulan-bulan. Dari pagi hingga malam entah berapa porsi kuhabiskan. Jika begini terus mungkin jeans-jeansku yang cuti karena kedodoran akan siap digunakan lagi. Aku harus mengukur massa begitu kembali ke sana. Ah, tapi segala yang berlebihan tak baik juga. Besok aku harus puasa, tak ada libur untuk yang satu itu.

Soal Alice, aku membutuhkannya ketika benakku telah menumpul dan rasanya terlalu normal, terlalu gersang untuk imajinasi. Tapi bukunya tak kujumpa di mana-mana. Aku mengacak tumpukan buku di lemari, di rak, di antara tumpukan buku adik-adikku. Tidak ada. Oh tidak, tak mudah mendapatkannya. Dulu aku membelinya di MPH dengan harga diskon. Entah berapa harganya jika misalnya sekarang aku mencari dia di Kinokuniya, Times, dan semacamnya. Lalu aku terpekur bodoh. Mengapa aku begitu kukuh harus bertemu Alice dalam bentuk yang kuingat senormal itu?

Day 2: menikmati dingin yang belakangan dirindu

Dingin ini tak kujumpai di kota yang di dalamnya banyak kuhabiskan waktu untuk berdoa sambil menatap termometer di dinding, “turunlah, turunlah, sejukkan diriku”. Kulitku sebetulnya tak tahan dingin, langsung kering bila aku lupa mengoleskan baby oil atau lotion di sekujur tubuh. Ah, bagaimana menghadapi winter kelak, pikirku nakal, mungkin aku takkan dapat menginjak bumi bermusim empat. Tapi ya sudahlah, jangan bermain pikiran terlalu jauh, nanti tersesat.

Tapi dinginnya benar-benar kurindu. Dingin yang mengganggu kulit tapi nyaman untuk benakku. Tak hanya membekukan waktu, tapi membuatku bertahan pada satu titik. Terpaku, termangu, aku lebih mudah fokus dalam udara dingin. Aku berkemul seharian. Mengulat dan bergelung menciumi harumnya udara dingin. Membiarkan kelopak mataku dibuai lembut hembusan hawa sejuk yang diiringi melodi gemericik air dari langit. Sesekali aku mengintipnya, itu dia, dingin berputar dan menari di antara derai hujan. Tak ada tirai antara aku dengannya. Sesekali dia menoleh dan tersenyum, kau di sini, katanya. Kau memupus jarak untuk bersamaku.

Day 3: masih berbenah di antara derai hujan; merapikan kenangan dan mengagendakan esok

Aku sudah makan, sudah melepas rindu. Masih ada yang berantakan. Sesuatu yang bercampur-aduk di dalam kepala. Hal-hal yang perlu diingat dan semestinya dilupakan tak karuan bertaut, tersimpul, kusut. Aku perlu mengurainya satu-persatu. Ini cukup berat dan memakan waktu. Seharian aku menata catatan, tumpukan surat, serta sejumlah buku harian yang selamat dari aksi vandalisme 2007 dan yang ditulis setelahnya.

Lalu aku segera menyusun agenda untuk hari-hari berikutnya. Waktuku tak lama lagi. Aku harus bergegas. Kata pepatah Sunda, wanci teh nyerelek. Dia takkan menunggu kita menyelesaikan tugas-tugas kita, mengeringkan air mata, membenahi rambut yang kusut, atau menormalkan bekas-bekas lipatan pada wajah sehabis terbenam pada bantal—meredam isakan.

Day 4: persiapan usai, mulai aktif di kantor darurat

Sudah hari keempat saja. Masih ada catatan yang mesti kuselesaikan, laporan yang dituntaskan. Bahkan aku belum merampungkan laporan keuangan pribadiku semester lalu. Ah, mengapa awal tahun ini terasa sangat kacau. Dua kejutan besar di Yogyakarta bulan lalu cukup kuat menghantamku sepertinya. Ada saat-saat di mana aku merasa asing dengan diriku sendiri.

Sudahlah, kadang aku tak punya waktu untuk mengurai benang kusut hingga benar-benar rapi. Aku hanya mencari ujungnya, menelusuri hingga mendapatkan benang sepanjang yang kugunakan untuk menjahit lalu menyisakan kekusutan sisanya. Dengan terus bekerja, menghabiskan benang, sedikit demi sedikit kekusutan tadi akan lenyap juga. Memang jadi lebih lama bila dibandingkan ketika mengkhususkan waktu untuk mengurai kekusutan dulu. Tapi yang mendesak tetap mendesak.

Day 5: sampai di sini saja ceritaku, rentetan titik berguguran dari langit.

Konsisten curhat membosankan juga. Ya, sudah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s