Pandangan Hidup sebagai Kendali Perilaku Individu dan Masyarakat

Pandangan Hidup adalah sekumpulan konsep mendasar yang dimiliki individu dalam memandang, merumuskan, dan membentuk kerangka kaidah-kaidah yang diadopsi terkait alam semesta dan kehidupan, serta posisi manusia di dalamnya. Dalam istilah lain, Pandangan Hidup adalah Worldview atau Weltanschauung. Ash Gobar menyatakan bahwa ‘Weltanschauung’ merupakan upaya menjawab tiga pertanyaan Kantian. Yaitu, “Apa yang dapat saya ketahui?”; “Apa yang seharusnya saya lakukan?”; “Apa yang dapat saya harapkan?”. Tiga pertanyaan itu dirangkum Kant dalam esainya “The Critique of Pure Reason” (Seifert, 1998). Sementara Nabhani dalam bukunya “Nizhamul Islam” merangkum unsur-unsur mendasar itu dalam tiga pertanyaan lain: “Dari mana manusia berasal sebelum muncul di dunia?”; “Kemana ia akan pergi setelah kehidupan dunia (kematian, pen)?”; “Apa yang semestinya ia lakukan di dunia?” (an-Nabhani, 2001).

Dengan uraian-uraian tersebut, nampak bahwa dalam Weltanschauung atau Pandangan Hidup (selanjutnya disebut ‘PH’) mencakup unsur-unsur epistemologis hingga aksiologis. Dengan pengertian semacam itu, dapat kita simpulkan bahwa PH akan membentuk individu. Bagaimana individu berpikir, bersikap, dan bertindak dalam hidup akan ditentukan oleh PH yang diadopsinya. Dalam lingkup yang lebih luas, PH tertentu diadopsi oleh suatu masyarakat sehingga corak relasi, hukum, dan kecenderungan masyarakat tersebut dibangun sesuai dengannya.

Sepintas nampak bahwa kajian ini bersifat ekslusif karena sifatnya yang filosofis. Akan tetapi, tidak demikian. Bukan hanya dalam kajian-kajian filosofis, dalam karya senipun topik ini tak luput. Salah satunya, lukisan Paul Gauguin yang dilukis tahun 1897 diberi judul “Where do We come from? What are We? Where are We going?” (Gauguin). Pada dasarnya, PH merupakan persoalan setiap individu ketika dia merenungkan eksistensi dirinya. Persoalan PH menjadi penting karena ia menjadi standar bagi seseorang atau suatu komunitas ketika menilai dan menyikapi pemikiran, berbagai dampak sosial serta teknologi baru yang datang. PH menjadi penyaring yang akan menolak keyakinan-keyakinan maupun fakta yang berlawanan dengannya.

Proses Terbentuknya PH

Kant, dalam “Critique of Pure Reason”, menyebutkan bahwa setiap manusia sejak lahir telah memiliki pengetahuan awal yang disebut pengetahuan a priori. Kemudian, dalam perkembangan hidupnya, baik melalui interaksi dengan lingkungan atau proses pendidikan, manusia secara berangsur memperoleh pengetahuan tambahan, disebut dengan pengetahuan a posteriori (Kant, 1992). Kumpulan pengetahuan ini membentuk sistem atau jejaring ilmu yang menjadi landasan bagi PH.

Acikgenc menjelaskan bahwa PH terbentuk secara alamiah maupun melalui upaya sadar, atau perpaduan keduanya. Pembentukan alamiah (natural process) terjadi melalui pendidikan, budaya, dan lain-lain yang melingkupi kehidupan individu. PH yang didapat melalui cara ini disebut dengan natural worldview. Berbeda dengan upaya sadar yang merupakan upaya sengaja individu untuk mendapatkan dan membangun ilmu. Jadi, pada jenis kedua ini terdapat upaya sadar untuk mencari dan mengembangkan ilmu. PH yang dibangun dengan cara ini disebut dengan transparent worldview. (Zarman, 2013).

Urgensi Memahami PH bagi Muslim

Dalam uraian sebelumnya telah disinggung bahwa PH merupakan persoalan sangat mendasar yang menjadi landasan perilaku manusia. Caranya memandang hidup, menentukan posisi dirinya, mendefinisikan kebahagiaannya akan diarahkan oleh PH tersebut. PH yang dianut sebuah masyarakat akan menentukan corak peradaban yang dibangunnya.

Individu dalam masyarakat mungkin mengadopsi PH yang sama atau berbeda hingga menimbulkan konflik. Perbedaan tersebut dapat saja bersifat parsial dalam unsur-unsur pembentuk PH maupun keseluruhannya. Menurut Ninian Smart terdapat enam elemen penting PH, yaitu (1) Doktrin, (2) Mitologi, (3) Etika, (4) Ritus, (5) Pengalaman, (6) Kemasyarakatan. Penekanan utama adalah pada unsur agama dan kepercayaan sehingga unsur-unsur lain dibangun terkait dengan konsep tersebut.

Sementara Al-Attas menyebutkan elemen-elemen dasar PH Islam, yaitu mencakup konsep-konsep tentang (1) Tuhan, (2) Wahyu, (3) Agama, (4) Dunia, (5) Manusia, (6) Ilmu, (7) Adab, (8) Kebahagiaan, serta (9) Perubahan, Pembangunan, dan Kemajuan. Konsep Tuhan menjadi konsep sentral dalam pembangunan PH Islam. Ditambahkan pula bahwa PH Islam memiliki dua karakteristik khas. Pertama, PH Islam tidak hanya mencakup dunia inderawi tapi juga yang ghaib. Kedua, basis PH Islam merupakan wahyu yang sifatnya final. (Zarman, 2013). Berbeda dengan PH lainnya, PH Islam bukanlah akumulasi sejarah, konflik dan perkembangan peradaban manusia yang senantiasa berubah sesuai ruang-waktu. Idealnya, seorang muslim tentu mengadopsi PH Islam. Masyarakat Islami merupakan masyarakat yang peradabannya dibangun di atas PH Islam.

Akan tetapi, peradaban yang dominan saat ini merupakan peradaban Barat yang dibangun atas PH sekulerisme-liberalisme. Hamzah Tzortzis membahas bahwa liberalisme yang berkembang di Barat berakar pada paham individualisme-atomistik. Norma tertinggi yang dianut adalah kebebasan individu (Tzortzis, 2008). PH yang dibangun akan melahirkan pemikiran hingga produk-produk budaya serta teknologi yang mengagungkan kebebasan individu. Muslim yang tidak membangun PH secara sadar, sedikit banyak akan terpengaruh oleh PH dominan saat ini karena proses pembentukan alamiah. Padahal ia bertentangan secara mendasar dengan PH Islam. Akibatnya banyak muslim yang kehilangan identitas. Mengaku muslim tapi sekuler, tapi liberal.

Dengan demikian, memahami PH merupakan persoalan mendesak agar setiap individu memiliki kesadaran dan tanggung jawab penuh dalam sikap, perilaku, dan pilihan hidupnya. Terutama bagi seorang Muslim agar tidak sembarang teraruskan oleh PH yang malah bertentangan dengan yang diakuinya sebagai keyakinannya.

Referensi

an-Nabhani, T. (2001). Nizhamul Islam.

Kant, I. (1992). Critique of Pure Reason. (N. K. Smith, Trans.) London: MacMillan Press.

Seifert, J. (1998). The Critical Role of Weltanschauung, Axiological Reflections. 20th World Congress of Philosophy. Boston.

Tzortzis, H. (2008). Liberalism and Its Effect to Society: Introduction

Zarman, W. (2013). Pengantar Islamic Worldview. disampaikan dalam Kuliah IW Tim CGS

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s