Alkisah A

A kembali dari menziarahi kubur sendiri. A tidak mengerti mengapa dia ingat sudah mati. Semestinya dia lupa. Sebagaimana orang-orang percaya hal itu mengada-ada.

A ingin menghapus ingatan bahwa dia mati sekali. Ingin sekali menganggapnya sebagai mimpi. Tapi tak ada penjelasan atas bekas tikaman di dada kiri yang masih diingat sakitnya sesaat sebelum ia beku.

A berjalan lagi. Dia tertatih hingga dilihatnya pagar untuk bersandar. Pagi hari, matahari membuka matanya. Di depannya, jejeran pintu menyambut, namun tak ada. Tak satupun memang untuknya. Ada dua pintu saja terbuka dan lainnya tertutup. Dia meraba bekas luka. Sakit lagi terasa. Tidak, ia tak boleh berakhir di sini. Berjalan lagi. Berjalan lagi. Meskipun. Berjalan lagi ia, menuju pintu satu, pintu dua, menutupnya.

A berbelok, menunggu pintu lain terbuka hanya membuang waktu percuma. Dia melepas pandangan ganjil pada sebuah pintu yang tertutup rapat. Pernah sekali ia masuki, lalu mati di dalamnya. Tak berani ia kembali. Meski lirih doanya, meminta keajaiban.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s