Berarti Gak?

Tetiba hadir ingatan, dulu pernah kutanya seseorang, “Kalau aku mati duluan, apa kau akan menangis?”
Sudah bertahun-tahun lewat, aku malah lupa responnya waktu itu, seingatku hanya senyap. Sampai kini kami berdua masih hidup, tapi yang di antara kami telah lain.

Beberapa waktu lalu ada yang marah betul ketika sembarang kuucap, “Aku ingin menghilang, aku ingin tak pernah ada!”
Singkat kata, aku egois dan keterlaluan baginya.

Aku lalu memikirkan bapak ibuku waktu kutanya apa yang mereka minta dariku, “Asal kamu sehat, itu sudah cukup.”
Tidak mengada-ada, tulus apa adanya, karena memang mereka tak pernah meminta apapun. Bahkan mereka berikan yang paling kuperlu: restu bagi hidupku.

Aku berpikir ulang tentang nilaiku. Apa yang kubuat, apa yang mereka lihat. Aku kerdil, aku  tak bisa melakukan apapun yang kuanggap baik buat mereka kecuali minta Tuhan melakukannya. Entah lewat siapapun.

Menjadi berarti tak perlu jadi pahlawan besar kan ya? Tak perlu bagi semua orang. Meski mungkin itu lebih baik, mungkin. Ada sekian saja yang buatmu berarti dan begitu juga sebaliknya, sudah jadi hitungan besar.

Lebih jauh lagi soal arti manusia, aku sering membanding-bandingkan. Kisah ainun-habibie misalnya, yang filmnya ditonton jutaan orang menggambarkan arti sosok ainun bagi habibie. Hmm, mungkin timbal balik ya, tapi arti itu kemudian diekspresikan pada publik melalui buku lalu film (aku tak nonton). Lantas kisah itu karena faktor apa saja menjadi lebih berarti dari kisah pasangan tua yang kutemui di salah satu emperan jalan kota jogja. (belok nih)

Saat itu aku gemas ingin memotret atau mampir sebentar dan berbincang. Tapi entah canggung atau khawatir perilakuku akan membuat mereka merasa terobjektivasi, aku menahan langkah. Diam, menatap mereka dari kejauhan. Keduanya paling tidak berusia 70-an tahun; menduduki trotoar, di samping gelaran barang-barangnya. Sang kakek duduk menghadap punggung sang nenek, membalurkan minyak lalu memijitnya. Meredakan lelah, di permukaan. Nampaknya mereka saling berbincang. Sesekali kulihat senyum di wajah nenek itu.

Semakin lama semakin banyak pertanyaan menggayuti benak. Adakah keluarga lain? Siapa yang akan bersedih ketika mereka telah raib? Siapa yang mengenang kepergian mereka atas apa yang telah mereka lakukan di dunia? Mereka pasangan tunawisma tapi sama manusianya dengan orang-orang lain. Ah…, benar-benar tak kumiliki keberanian jenis apapun untuk mengusik dunia mereka.

Dingin dan gelap. Akhirnya kuberanjak. Aku lupa awalnya hendak kemana. Aku pulang. Terekam olehku, mereka berarti satu sama lain. Kini juga bagiku, meski tak pernah lagi kujumpa. Mungkin jua ada yang lainnya. Tapi yang pasti Tuhannya manusia takkan pernah luput atas hitungan. Tak ada yang tak berarti bagi-Nya.

Kita yang harus menerima diri berarti, entah bagaimana juga. “Kamu di sini! Ada, bermakna, berharga, akan ditanya!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s