Toire no Kamisama

“Toire no Kamisama” bila diterjemahkan kurang lebih menjadi “dewa toilet”. Tapi film ini bukan sekedar menuturkan mitos tersebut. Film ini justru memberikanku ruang (berulang-ulang) untuk berefleksi terhadap kehidupan. Seringkali kutonton kembali film ini ketika aku butuh pengarah dalam mengontrol emosi yang sedang tak menentu. Pada momen-momen tersebut rasanya aku dipandu oleh rangkaian adegan dalam film ini untuk menempatkan kembali tawa dan tangisku secara proporsional.

Naskah asli film ini ditulis oleh penyanyi Jepang, Uemura Kana, berdasarkan kisah hidupnya. Terutama pengalamannya selama tinggal bersama neneknya. Kana pindah dari rumahnya untuk menemani sang nenek selepas kematian kakeknya. Kakaknyalah yang mencetuskan ide kepindahan tersebut yang tak disangka Kana seketika disambut baik oleh ibu dan saudara-saudaranya. Dalam perasaan sedikit bingung, Kana akhirnya mengikuti usul itu.

Kehidupan yang dihadapi Kana cukup unik. Ayahnya pergi dari rumah sesaat setelah dia lahir, praktis Kana tak mengenal sosoknya. Sementara itu, ibu Kana dengan kepribadiannya yang cukup unik sangat membenci ayahnya dan hanya menceritakan keburukan-keburukan sang ayah pada Kana. Namun selalu ada neneknya yang menghibur dan melindungi Kana kecil. Sejak Kana masih tinggal bersama ibunya (sebetulnya rumah mereka bertetangga, jadi meskipun Kana tinggal di rumah nenek, ia tetap melihat ibu dan saudara-saudaranya setiap hari), sepintas neneknya memang memanjakan Kana, tapi dengan caranya sendiri ia mendidik Kana hingga membentuk kesan yang kuat dalam diri Kana. Neneknyalah yang pertama kali mengisahkan dia tentang dewi toilet ketika Kana merasa lelah mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Kana kemudian bersemangat dan dapat tersenyum kembali.

Konflik demi konflik dihadapi Kana kecil hingga tiba masa remajanya. Dia mulai serius mengejar cita-citanya sebagai seniman selulus dari sekolah musik. Dia mencoba bermain musik di pinggir jalan, mengikuti audisi, hingga berangkat ke Tokyo untuk mencari peluang yang lebih besar bagi pengembangan karirnya dan memenuhi tantangan neneknya untuk dapat menciptakan lagu “yang benar-benar miliknya”.

Konflik yang berkesan kuat padaku selain dari perjuangan Kana meraih mimpinya adalah relasi dengan ibunya. Mereka saling mencintai, tapi interaksi mereka tidak mudah. Kadang kurasa juga demikianlah alaminya, bukan semata perkara kejujuran atau keterbukaan, tetapi pengalaman yang membentuk diri kita kadang membuat kita sulit mengekspresikan emosi kita dengan tepat. Kita mencintai tapi sering mengekspresikannya dengan tindakan menyakiti. Kita merindu tapi yang hadir adalah kemarahan. Seringkali kita gagal menjadi tuan atas hati kita sendiri. Relasi pun naik turun. Kadang hangat, pada waktu lain menyayat. Seringkali kita merasa diri kita adalah kesalahan. Perasaan terbuang, tidak diinginkan, dan kesiaan kadang meledak dalam jiwa ketika yang kita cintai mengekspresikan sikap yang kurang dapat kita terima. Begitu pula yang kusaksikan dalam relasi ibu-anak ini. Kana, sejak kecil merasa dibenci ibunya karena sang ibu yang kurang perhatian, dan merasa dibuang saat sang ibu mendukung penuh kepindahannya ke rumah nenek. Tak disangka pada suatu pertengkaran bertahun-tahun berikutnya, justru terungkap bahwa sang ibulah yang merasa ditinggal kabur oleh Kana.

Terlalu ringkas halaman ini untuk menuliskan kembali kesan-kesan yang kutangkap. Aku hanya dapat merekomendasikan untuk menonton film ini. Banyak pelajaran terkait emosi dan relasi antarmanusia yang kupelajari darinya.

Kita tak pernah merencanakan akan menemui siapa saja sepanjang hidup kita. Orang-orang yang hadir dalam hidup kita adalah “hadiah Tuhan”, namun membangun relasi unik dengan setiap orang tadi adalah seni unik yang kita pelajari seiring kedewasaan kita tumbuh.

Ada sebuah kalimat yang kubaca malam ini secara tak sengaja: “Cinta bukanlah perkara memberi dan menerima, tapi memberi dan terus memberi. Ketika kau bertemu seseorang yang memberi sebanyak yang kauberi, itulah saat kau menemukan orang yang tepat untuk dicintai.” Aku merenungkan kalimat ini cukup lama sembari menonton ulang film ini. Ada kebenaran yang kurasa di dalamnya tapi tetap terasa sulit ditelan. Berat mencintai tanpa pamrih, berat mencintai tanpa setidaknya mengharapkan perhatian balik dari yang kita cintai. Tapi, cinta yang selalu menuntut juga melelahkan, bukan? Aku jadi teringat kedua orangtuaku. Mereka mungkin satu-satunya model teladan yang paling dekat atas cinta yang demikian. Memberi dan memberi saja…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s