Musim Air Mata

Luka bersemi di balik guguran tawa. Awalnya ia hanya sebenih duka. Sayang ia hadir saat musim air mata.

Musim air mata yang baru… Seharusnya ia hanya lalu, menyapu lesu yang tak terhanyut waktu. Tapi, tersapa sebenih duka itu. Mereka tak seharusnya bertemu.

Luka ini… Kau tahu, berbuah pedih. Pada musim air mata, benih duka tumbuh menjadi luka, berbuah pedih.

Sakitkah? Pedih, semakin tajam, memerih, dalam buaian musim air mata.

Aku ingin tak pernah jumpa dengan…,
tak pernah menghabiskan waktu dalam…,
tak pernah kenal akan…,
Musim Air Mata.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s