Raib

Aku menyiapkan catatan ini untuk suatu hari yang pedih, ketika aku tiba-tiba raib tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal. Mungkin suatu saat kita akan tiba pada saat ketika kau takkan dapat mengenalku sebagaimana aku yang jua tak lagi mengenalimu. Aku berharap kita tak pernah sampai pada titik itu. Tapi aku tak dapat menyembunyikan takut, aku di ambang kengerian ketika hal itu benar-benar terjadi. Aku hadir, tapi siapa kau dan aku, aku…tak tahu.

Aku tak dapat memaksa Tuhan untuk membiarkanku dengan segala yang telah Ia berikan. Semua yang diberikan-Nya padaku hanya pinjaman sementara, yang mesti kurelakan jika Ia menghendakinya sewaktu-waktu. Hanya satu yang mati-matian kumohon pada-Nya, agar Ia menyisakan bagiku kesadaranku tentang-Nya, pengalamanku mengenal-Nya. Selebihnya, aku relakan, termasuk engkau. Ia akan menjagamu, kusediakan bagimu sebuah selamat tinggal untuk waktu ketika aku tak sanggup mengucapnya lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s