Anak

Sekitar empat tahun lalu aku begitu bersemangat untuk menjadi seorang ibu. Bahkan tanpa pernikahan pun tak apa, adopsi saja, pikirku. Soalnya sudah jelas, pada saat itu aku bukan ingin berpasangan, tapi menginginkan anak, sementara pernikahan juga belum tentu menghasilkan anak. Maka jelas, adopsi saja, putusku.

Aku pun melakukan sejumlah persiapan. Mulai dari survey beberapa panti asuhan, juga melakukan perhitungan biaya yang mungkin dibutuhkan untuk mengasuh bayi. Aku mengontak sejumlah teman yang telah menjadi orang tua. Aku menanyakan anggaran mereka untuk anak-anak dan dengan senang hati mereka memberikannya. Bahkan ada yang menghibahkan beberapa baju bayi putranya padaku. Haha, padahal sejak setahun sebelumnya aku sudah rutin berbelanja kebutuhan bayi setiap bulan di baby shop dekat kampus.

Perkara susu sebetulnya menjadi masalah yang cukup lama kupikirkan. Karena aku tidak melahirkan sendiri anakku, tentu tak mungkin memberinya ASI. Karena itu memberinya susu formula adalah pilihan praktis dan masuk akal. Hanya saja aku terus berpikir tidakkah ada kemungkinan aku bisa memberi ASI pada bayiku kelak agar ia lebih sehat? Lalu aku teringat dalam novel ronggeng dukuh paruk, Srintil yang tidak pernah hamil dan melahirkan meneteki seorang bayi dan ternyata keluar ASI-nya. Ah, itu sebuah cerita saja, tapi siapa tahu, batinku. Aku akhirnya mempelajari mekanisme produksi ASI, hingga kutemukan nama hormon pemicunya. Aku lalu bertanya pada seorang kawan yang kuliah di jurusan biologi, “apakah bisa dilakukan penyuntikan hormon prolaktin untuk intervensi pemicu produksi ASI?”. Waktu itu temanku tak yakin, tapi ada kemungkinan katanya. Aku mencari informasi terus hingga kudapatkan keterangan tentang program induksi ASI bagi ibu adopsi. Yes, ternyata ada jalan, pikirku.

Sementara itu, upaya mendapatkan bayi juga belum berhasil. Sejumlah panti asuhan yang kudatangi hanya mau menerima calon orangtua adopsi yang memang pasangan suami istri. Memang idealnya seperti itu, tapi bagaimana lagi batinku. Aku ingin segera jadi ibu, hingga kapan aku menunggu jika harus ada ayahnya dulu? –‘

Memang tidak semua kawan dekat yang mengetahui rencana ini mendukungku. Ada yang dengan sinis berkata, “Mau dikasih makan apa bayi itu nanti? Buku-bukumu?”. Sementara seorang sahabatku yang laki-laki malah menyatakan keprihatinannya,” Janganlah, nanti kau akan makin sulit menikah. Bagi kami (laki-laki) makin enggan rasanya mendekati perempuan yang sudah membawa anak. Apalagi diketahui itu bukan hasil pernikahan sebelumnya. Berapa orang yang akan menduga anak itu hasil hubungan luar nikahmu?”. Haha, awalnya aku tertawa mendengar alasannya yang pertama. Tapi perkataan dia tentang dugaan orang-orang ada benarnya juga. Belum lagi jika aku berhasil melakukan induksi ASI. Kepada berapa orang harus kujelaskan bahwa bayi yang kususui itu bukan anak kandungku dan mengapa aku dapat menyusuinya juga mengapa aku mau repot-repot melakukan itu semua. Ah, benar aku akan tampak sangat mengada-ada. Seorang sahabatku yang lain, laki-laki juga, dengan santainya berujar,” mudah saja, yang kaubutuhkan adalah seorang duda dengan anak!”.

Hmm, perjalanan ini menuntunku pada spektrum pemikiran yang lebih luas lagi tentang menjadi seorang ibu. Sekali waktu muncul kesombongan dalam diriku. Betapa aku telah bersusah payah menyiapkan diri menjadi seorang ibu. Aku mempelajari berbagai teori parenting; terlibat dalam aktivitas pendidikan anak; rajin mengikuti seminar-seminar terkait semua itu; bahkan pekerjaanku pun menyusun kurikulum pendidikan usia dini. Aku sempat berbangga hati ketika ada yang berujar, “betapa beruntungnya anakmu nanti, aku penasaran akan jadi seperti apa dia.” Seorang teman yang lain malah sengaja memanggilku “bu”. Ketika kubilang, ” Bukan aku, tapi itu tuh yang pantas dipanggil ibu (aku menunjuk seorang kawan yang menanti pernikahannya dalam hitungan hari)”, dia menjawab,” Dia itu calon ibu, kalau kamu ‘ibu’…” Maksudnya mungkin pada saat itu aku sudah “ngemaki” kalau dalam bahasa jawa. Aku terdiam, tapi pernyataan itu membuatku berpikir lagi tentang kepantasan dan kelayakanku sebagai seorang ibu. Lebih jauh lagi aku mempertanyakan ulang motifku menjadi seorang ibu. Apa iya, apa iya? Fiuhhh… astaghfirullah… aku terjerembab juga dalam kelalaian. Semangat memperbaiki diri dan generasi malah membawaku pada posisi meremehkan orang lain, ibu-ibu yang kurang persiapan ilmu (dalam pandanganku, tentu saja) namun diberi kesempatan oleh Allah untuk bersegera menimang buah hatinya.

Hidup bergulir terus. Perenunganku yang terakhir malah menjauhkanku dari keinginan memiliki anak. Kompleksitas hidup yang kuhadapi benar-benar membuatku minder untuk menjadi seorang ibu. Mendidik anak yang cerdas mungkin tidak akan begitu sulit. Tapi mendidik anak yang bahagia dan matang emosinya? Apa aku bisa melakukan semua itu dengan keadaanku sekarang ini? Sepertinya waktuku bahkan sudah habis untuk diri sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s