The Art of Letting Go

Desember 2013 – Januari 2014

Sejak dulu aku selalu menekankan pada diri sendiri bahwa dunia ini fana, diri ini juga fana. Dengan demikian aku berusaha untuk tidak meletakkan hatiku pada hal-hal yang merupakan urusan keduniawian dan segala turunannya. Apalagi yang sifatnya juga mudah hilang sejak di dunia, seperti harta benda. Namun demikian, tetap saja aku tak dapat menahan diri untuk memiliki beberapa hal yang kujadikan benda kesayangan. Ya, misalnya eM. Berpisah dengannya cukup berat, tapi memang tak tertolong lagi, ya sudah.

Hal yang lebih sulit adalah ketika berhadapan dengan  manusia. Aku termasuk orang yang memeriksa hubunganku dengan orang perorang secara teliti. Aku mengklasifikasikan orang-orang di sekitarku sebagai kenalan, kawan, kawan dekat, semacam saudara, dan seterusnya. Hubunganku dengan mereka tentu dinamis, kadang naik atau turun level, bergantung pada perkembangan hubungan yang kami jalani. Kadangkala ketika hal-hal tidak berjalan mulus dan aku perlu memalingkan muka dari seseorang, dengan jujur kukatakan kami tak dapat berteman lagi, mari saling menjauh agar tidak saling menyakiti. Kulakukan itu beberapa kali. Berbagai kegagalan itu membuatku tidak percaya diri dapat menjadi seorang teman baik bagi siapapun. Bahkan sampai saat ini aku senantiasa heran ketika menerima pesan dari beberapa orang bahwa mereka merindukanku. Aku tak dapat membayangkan ada orang lain seperti aku lantas aku betah berdekatan dengannya.

Masalahnya sebagian besar tentu ada pada diriku sendiri. Meski orang lain juga mungkin memiliki masalah sehingga hubungan tidak berjalan baik, tapi itu bagian mereka untuk menyelesaikannya. Seseorang yang sudah kuanggap seperti adik sendiri sampai mengatakan bahwa aku depresi akibat overdosis romantisme lalu dia menyarankan agar aku lebih fokus pada berpikir tentang hal-hal yang sifatnya lebih teknis (termasuk dalam relasi interpersonal sepertinya).

“Can’t you just focus to the problem at hand?” [Zeus, Die Hard 3].

Bapakku bilang jangan terlalu banyak memikirkan hal yang tidak-tidak. Ia memintaku untuk lebih sabar dan melunakkan hati (eh,bukankah aku lemah justru karena hatiku terlalu lunak? Ah, tidak ada parameter jelas juga tentang lunak tidaknya hati, tapi dikaitkan dengan kesabaran, ah ya mungkin aku dapat menangkap juga maksud beliau). Seorang sahabat mengatakan bahwa aku terlalu keras kepala sehingga relasiku dengan kawan-kawan dekat selalu bermasalah.

Perlu waktu lama untuk memikirkan semua itu. Dalam sebulan liburan awal tahun ini, aku belum dapat merumuskan jawabannya, meski sedikit demi sedikit telah muncul seberkas cahaya yang dapat kujadikan petunjuk. Aku terlalu terpaku pada asumsi pemodelan relasi secara rasional. Kupikir relasi interpersonal dengan sederhananya dapat diejawantahkan dalam berbagai pemodelan yang mencakup sejumlah variabel tertentu. Kemudian diklasifikasikan sesuai kategorinya. Tapi tidak semudah itu.

Dalam beberapa kesempatan sepertinya mudah saja aku meindah level hubungan secara formal. Tapi, normalnya, proses dalam hati tidak senatural itu. Kode-kode yang dibangun dalam otak terkait pemodelan relasi tadi tidak begitu saja diterima oleh hati. Arrgghhh…Hanya romantisme sajakah? Pada titik ini aku masih bingung dan penuh kesangsian. Apakah naluri ini termasuk yang bisa kuatur atau tidak…

Hmmm, sebentar aku mungkin akan memeriksa dari gangguan yang terjadi dalam jangka waktu terdekat. Aku cenderung posesif dalam berhubungan. Loyalitas adalah hal penting. Ada sebuah paradoks sebenarnya. Aku tidak suka privasiku diganggu sampai batas tertentu. Namun bagi seseorang yang suda aku libatkan sampai lingkar tertentu dalam hidupku, aku menuntut komitmen yang sama darinya untuk menjaga hubungan ini bertambah atau bertahan baik-baik saja.  Padahal tentu saja terbuka peluang yang sanga besar tentang persepsi maupun interpretasi hubungan yang sedang dijalani. Bisa saja aku kegeeran menganggap seseorang sebagai kawan dekat, namun baginya aku hanya satu dari sekian banyak kenalannya tanpa keistimewaan apapun. Karena hal itu, dalam sejumlah kasus, deklarasi “kau temanku”, “kita sahabat” menjadi diperlukan untuk menyadarkan kedua pihak atas komitmen yang dipegang dalam sebuah relasi.

Sepertinya ketidaksinkronan dalam aspek itu yang seringkali menjadi sumber masalah dalam setiap konflik relasi yang kualami sampai akhirnya aku memutuskan untuk mundur. Misalnya sejak 2012 aku memperoleh sejumlah teman baru yang begitu akrab. Kami berasal dari latar belakang beragam, tapi entah mengapa tetiba begitu mudahnya menjadi klop hingga membentuk semacam genk. Kami beraktivitas bersama seperti mengobrolkan hal-hal yang menarik, makan bersama, bahkan mengunjungi pameran bersama. Lalu satu orang terlepas karena pernikahan. Sesuatu yang natural tapi ya, meski secara matematis pernikahan mestinya justru menambah jumlah kawan, kenyataan yang lebih sering terjadi justru sebaliknya. Pernikahan mengeliminasi kawan. Disusul yang kedua, lalu yang ketiga semakin sibuk dengan pekerjaannya. Tetiba pula kami mencapai titik di mana kebersamaan itu sebatas kenangan. Bahkan ketika kami berjumpa lagi sekarang, hampir bisa dipastikan tidak akan seakrab dulu lagi. Akhirnya kusimpulkan mungkin dulu aku saja yang menaruh ekspektasi terlalu tinggi pada hubungan tersebut. Mungkin beberapa kawan lain tidak seserius itu memandang hubungan kami. Karena ketidaksinkronan inilah, maka proses letting go  menjadi lebih sulit. Sebabnya aku kecewa dan merasa bodoh.

Oh ya, ketimbang kawan perempuan, sebetulnya aku lebih banyak mempunyai kawan pria yang “relatif” dekat.  Mengapa demikian? Karena sedekat-dekatnya aku dengan teman pria, tak mungkin bakal sedekat hubunganku dengan teman-teman perempuan. Kesempatan menghabiskan waktu bersama sangat terbatas bahkan mungkin tak ada, interaksi begitu sempit sehingga mereka tak mungkin masuk ke dalam ranah privat dan hubungan yang sifatnya emosional cenderung lebih mudah dihindari karena segala keterbatasan itu. Malah akhirnya dalam setiap kontak, kami terfokus pada isu yang dibicarakan. Mungkin ada yang heran jika demikian dari mana dapat dikatakan dekat? Ya, kedekatan itu relatif, misalnya dari intensitas kontak yang lebih banyak dari kawan lain yang kemudian memungkinkan untuk mengenal corak pemikiran dan kecondongan emosi satu sama lain, mesipun hubungannya less-emotional dibandingkan dengan hubungan sesama perempuan.

Dengan pola begitu aku merasa aman karena pola pikirku yang juga cenderung maskulin. Aku tidak mudah ge-er ada yang menaruh perhatian lebih padaku, misalnya. Karena aku paham ketulusan mereka sebagai kawan. Dan, ah, aku tahu betul diriku yang mungkin menarik dan menyenangkan sebagai kawan bicara tapi kalau untuk dijadikan kekasih, uhmmmm berabenya bikin mikir seribu kali sebelum nembak. Hehe, itu kutipan langsung dari seorang temanku di SMA, ya, laki-laki Smile

Meski begitu, tetap saja banyak yang mengingatkanku, tentang ketidakmungkinan terbangunnya “pure relationship between man and woman“. Akhirnya, masa bodohlah bagiku. Yang jelas aku sendiri tidak punya masalah apa-apa dan kami tidak pernah melanggar batas pergaulan. Namun memang harus kuakui bahwa bonding emosi itu terbentuk. Ya, alamiah memang pada manusia. Ada rasa kasih yang mengikat kemanusiaan, cinta platonik, yang membuat diri penasaran kabar kawanku jika lama tak ketemu, rasa iba saat mereka dalam masalah, juga yang membuatku mengingat mereka dalam untaian do’a. Hanya saja semua itu tak kentara karena mereka kan laki-laki yang tak banyak mengumbar problematika hidupnya pada orang lain.

Semua berjalan lancar dan harmonis hingga…mereka menjumpai cinta romantiknya. Sebagai kawan perempuan, biasanya aku harus siap dibuang dan dilupakan untuk menjaga perasaan kekasih mereka. Siapa? Ya, pacar, istri… Ketika kuliah, kawan akrabku sejak SMP menjauh seketika setelah jadian dengan kawan sejurusannya. Dia hilang, aku sakit. Tidak, bukan karena aku naksir. Soal itu ada ceritanya di bab lain. Tapi karena aku punya ekspektasi terhadap loyalitas dalam persahabatan yang kami bangun. Aku kecewa dia akhirnya pacaran juga, tapi misalkan dia menikah dan istrinya bisa jadi sahabatku juga, kebahagiaanku akan berlipat. Malah aku senang karena punya perantara akses sesama perempuan.  But, well yeah that’s too good to be true. Akhirnya harus kurelakan dia hilang, lepas. Is it hard to let him go? Yeah, actually.

Kesalahanku aku tak pernah berusaha benar-benar melepas tautan itu ketika waktunya dilepas. Bahasa lainnya aku masih  ngarep. Menganggap suatu saat kawanku bisa kembali, membawa keluarganya lalu kami memperbaiki hubungan kami, menjadi akrab dan bahkan bersaudara, hingga kami menjadi keluarga besar, aku mendapat ipar, lalu ponakan-ponakan, dan seterusnya. Tapi ah, kawan perempuanku berkata, “Mengertilah, setiap istri itu berbeda kadar kecemburuannya, dan laki-laki begitu menikah, ketergantungannya tinggi pada istri sehingga bukan berarti kau jadi tak berharga, tapi pada titik itu mempertahankan keharmonisan rumah tangga lebih penting daripada menjaga hubungan dengan kawan lama”. Ya, aku tahu. Sudah lama aku merumuskan itu. Cinta melemahkan mereka sehingga mengurangi independensi mereka dalam bertindak. Tapi… tapi… aku hanya tak bisa terima….! Yah, mungkin itu saja, fiuuhhh. Aku semakin yakin bahwa unsur “ngarep” inilah yang membuatku sulit move on. Karena belum lagi sedih ditinggal seorang kawan, yang lain menyusul raib.

Sebetulnya bukan hanya relasi dengan manusia, akupun masih belum bisa mengobati luka keterputusanku dengan mimpiku. Mimpi yang terkait dengan karier dan jalan hidupku. Aku tak hendak melepasnya, tapi takdir menyodorkan jeda sejenak bagiku untuk jauh dan melupakannya. Luka batin ini Gusti, Duh pedih.

April 2014

Hingga April 2014 ini, pukulan bertubi bertambah ketika seorang sahabat bahkan kuketahui rencana pernikahannya dari kabar burung. Tak ada berita langsung, apalagi undangan menghadiri acaranya. Pernikahan tahun 2013 lalu rasanya masih lebih baik karena kami sempat membicarakannya, kawanku yang satu itu sempat bercerita tentang calon istrinya, meski kemudian istrinya tidak membuka pintu pertemanan itu. Tapi kawanku yang ini lebih sadis. Ah tidak, mungkin bukan sadis. Tapi seperti yang kubilang ekspektasiku terlalu tinggi. Aku hanya kenalan biasa tanpa keistimewaan, Then so what? Oh, baiklah. Aku harusnya makin kuat.

Sebenarnya, di sisi lain, aku sedang menjalin hubungan persahabatan yang baru dan begitu cepat mengerat dengan seorang kawan perempuan yang kuanggap seperti belahan jiwa yang hilang, kadang terasa sebagai puteriku sendiri. Rasa keibuan itu muncul begitu kuat sehingga aku senang merawatnya. Hanya saja karakter kami sangat rentan konflik. Aku yang keras sementara perasaannya sangat halus sehingga seringkali aku tanpa sengaja menyakitinya. Lalu ketika ia sakit, tentu sakit yang kurasakan juga berlipat karena aku telah terlemahkan pula. Ah, Tuhanku, rasanya ingin kubuang saja hati ini.

Dalam situasi seperti itu aku memilih pulang dan menghabiskan waktu dengan keluargaku dalam sebuah liburan singkat. Hanya tujuh hari dan pada hari terakhir kami menyempatkan diri berjalan-jalan dan makan bersama. Aku merasakan suatu hal yang hilang. Mengapa formula relasi dalam keluarga kecilku ini begitu sederhana? Kompleksitasku tidak menjadi masalah bagi mereka dan hal itu tidak merenggangkan hubungan kami. Ketika diperlukan kami bisa dengan mudahnya terbuka menceritakan permasalahan dan beban berat yang sedang dihadapi. Tapi kami tak perlu banyak tetek bengek dan waktu-waktu cengeng just to assure each other’s love. Apa yang dimiliki keluargaku sebagai tim sehingga aku bisa begitu saja fit in dalam pergaulan dengan mereka, apakah sekadar karena we belong to each other as a family?  Aku tidak bisa menerima alasan itu karena ada banyak juga ikatan darah yang tidak menjamin sehatnya hubungan interpersonal. Ini yang harus kupecahkan karena mungkin saja formulanya bisa kuadopsi untuk menyehatkan hubunganku denganorang lain di luar keluarga atau justru sebagai modalku jika mungkin aku membangun keluargaku kelak, sesuatu yang masih tampak mustahil dalam bayanganku saat ini.

Waktu berlalu, negara ini kemudian larut dalam pesta demokrasi kambuhannya. Masa pileg masih tampak normal. Tapi aduhai, begitu saat pilpres tiba, semuanya terasa asing bagiku. Menjadi penting karena sungguh terkait dengan urusan-urusan letting go yang sedang kuhadapi. Kali ini aku dihadapkan untuk menimbang-nimbang relasi yang sifatnya tidak seintensif yang kusebutkan sebelumnya. Tapi loyalitas dengan kolega, kenalan, kawan sepermainan atau sepekerjaan. Semua tabir yang awalnya tertutup, terbuka di dalam media sosial.  Berubah-ubah sikapku. Ada level respek yang meningkat  pada satu orang namun menurun pada yang lain. Tapi bila dihimpun, semuanya berkumpul pada berita kekecewaan. Sedihnya, aku tidak bisa mempertahankan ekspektasi yang sama ketika banyak isi kepala kawan-kawan media sosialku itu keluar. Ah, ternyata dia demikian. Ujiannya memang berat. Otoritas dan kredibilitas seseorang sangat dipertaruhkan ketika dihadapkan untuk menyikapi pilpres indonesia tahun ini. Kemudian, ujung-ujungnya, aku disadarkan lagi hoh, benar, terlalu banyak  attachment tak perlu yang kadung terbangun, itu yang membuat aku kecewa.

Juli 2014 (Ramadlan 1435H)

Kemudian tersungkurlah aku pada Ramadlan. Ramadlan yang dibuka dengan kegemasan dan kecemasan. Kecemasan atas reputasi orang-orang yang kuhormati namun menggadaikan kredibilitasnya sendiri. Hatiku hancur. Aku berduka, tapi juga marah karena banyak sekali kebodohan yang beredar, kecewa pada kualitas bangsa ini yang mudah terpecah dan teraruskan fitnah, isu, kepentingan sesaat, atau fanatisme buta. Duh Gusti, memang kami masih pantas dijajah makanya belum pernah merdeka sejati.

Ramadlan, ketika kecondongan hati dialihkan untuk lebih menitikberatkan pada hubungan transenden, membuka mataku akan sebuah kesejatian. Yang tidak nampak tapi justru yang abadi. Bukan ragam terlihat tapi hanya onggokan kefanaan. Relasiku dengan Tuhan. Hubunganku dengan Rabb-ku sendiri. Selama ini aku selalu mengevaluasi relasiku dengan sesama manusia dalam berbagau bentuknya; menaik-turunkan ekspektasiku terhadap mereka. Namun bagaimana akan relasi yang hakiki? Hubungan hamba-tuan antara aku dan Rabbii..?

Demikianlah, aku berusaha mengubah orientasiku agar tidak terlalu membebani diri dengan soalan-soalan di luar kuasaku yang berkaitan dengan hati dan pikiran orang lain yang tak kukuasai. Aku harus kembali fokus memahami bahwa semua bisa terlepas dan hilang karena semuanya fana, baik dengan cara menyakitkan ataupun tidak. Tapi ada satu hal yang tak boleh kuabaikan yakni hubunganku dengan Tuanku yang tak pernah luput cintaNya. duh Gusti…, padahal adzabMu kelak juga sangat berat. Aku takkan sanggup. Ah. Ramadlan ini bukan akhir perjalanan. Aku belum selesai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s