Sepertinya pintu itu akan benar-benar tertutup dan mempersilakanku mencari jalan lain. Meskipun aku sedang menyiapkan langkah panjang, tak ada waktu selama itu untuk menungguku. Meski pada akhirnya aku siap mengulang semuanya lagi, dari awal. Keputusanku terlambat.

Bahkan aku harus benar-benar melepasmu, merelakan kehilangan yang bertahun-tahun kuanggap tak pernah ada. Menyadarinya sebagai ketiadaan total, lalu menerima diriku sendiri dengan utuh. Aku harus kuat sendirian, tanpa bersandar pada bayang-bayang.

Kemudian akupun harus menghapus harapan melangkah di tanah itu, di rumah itu. Alasanku telah lenyap, jalanku serupa kabut. Tak usah lagi menipu diri sendiri.

Banyak orang di sekitarku. Ada yang percaya padaku, menyuruhku berlari. Ada yang berharap padaku. Tapi sebatas itu, ia masih ingin mengujiku, melihatku berjalan sendiri. Ada yang senang aku terbang tapi belum tahan menyertaiku, mungkin baginya lebih baik membiarkanku menghilang. Ada yang penasaran dan gemas tapi masih menahan diri untuk tidak menekanku.

Pada akhirnya harus aku yang putuskan. Aku harus berhenti menipu diri sendiri dengan bayanganmu. Kamu bahkan tak lagi ada di antara mereka. Ada guru yang bersiaga, tapi ia menantiku terjaga. Kamu bahkan tak tahu aku turut menutup mata denganmu.

Berkali-kali harus kuyakinkan diri bahwa kau tiada dan tidak mengikatku. Bahwa aku bebas terbang dan melangkah. Bahwa sudah tak ada lagi jatah waktu denganmu dalam setiap paket waktuku, meski dulu semuanya kita mulai bersama. Kau bersamaku sejak pertama kali kusanggup mengeja masa depan, yang kemudian kuabaikan.

Banyak yang telah menyerah dengan kelemahanku dan akhirnya mengutukku yang telah menyia-nyiakan bakat dan kesempatan untuk hal yang tidak pernah mereka paham. Mereka hanya tidak tahu pertanyaan yang terus kucari jawabnya, atau mereka hanya tak peduli. Tapi mereka tahu jauh lebih dulu tentang apa yang seharusnya kulakukan. Kini aku telah membangkang dan mereka tak dapat lagi membantuku.

Oke, tujuanku pupus, jembatanku lenyap, kaupun hilang. Aku bisa pilih binasa atau sendiri berjalan lagi. Benar-benar berjalan, tapi mungkin tak benar-benar sendiri, masih ada orang-orang itu, hanya benar-benar tanpamu pada arah yang benar-benar beda. Syaratnya satu, aku harus benar-benar kuat.

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s