Inside Out

Ketika ditayangkan di bioskop, film ini sepi apresiasi, mungkin hanya di sini. Yah, janganlah dibayangkan seperti frozen, misalnya. Jauh! Tapi sejak awal aku mendengar beritanya, aku langsung menanti penuh harap.
Film ilmiah (meski spekulatif) yang disajikan dalam abstraksi visual yang harusnya sangat menantang. Setiap emosi memiliki representatif persona. Aku betul-betul penasaran jadinya akan seperti apa.

Lalu tibalah saat menonton. Wow! Pembukaannya ciamik

“Do you know what inside one’s head?”

I talked to myself, “Even I don’t know what’s inside my head.”
It said,

I know, at least Riley’s

Lalu musiknya…. Wohoo, musik yang mengetuk dengan hangat… Ngepas rasanya, oke kuraih bantal, akan kutonton sampai selesai nih kayaknya. Jadi harus dibuat posisi wenak…

Satu persatu karakternya keluar. Interaksi antarpersonal-nya mulai terbaca. Joy adalah yang dominan dari semua emosi. She’s the one who thinks she is in control. Dialah juga yang menjadi narator sejak pembukaan film. Omong-omong aku penasaran juga terkait preferensi gender untuk setiap representasi emosi, hehehe… (Bisa jadi clue untuk analisis selanjutnya, nih).

Saat mengenalkan satu persatu, Fear, Anger, Disgust, dia merujuk pada peristiwa saat masing-masing berperan. Hingga tiba giliran Sadness, mulai muncul ekspresi judgmental

“I don’t know exactly what’s she doing, but…

dilanjutkan dengan deretan rekaman Riley yang menangis, merajuk, merengek. Oke, here is the conflict. Roger that.

Semua seolah berjalan lancaaaar sehingga suatu peristiwa terjadi–warning: spoiler, kalau mau menghindar lewati satu paragraf berikut ini.

Semua kaget ketika orangtua Riley memutuskan pindah. Riley harus meninggalkan semua hal yang menyenangkan di Minnesota dan beradaptasi di kota besar San Fransisco. Kekacauan pun terjadi di headquarter (pusat kendali emosi di kepala Riley. Semua tampak kebingungan bertindak, termasuk Joy, meski dia berusaha tetap tenang dan menjaga Riley tetap senang. Umm, maaf karena struktur penceritaanku yang agak berantakan, dalam film digambarkan bahwa ekspresi Riley diatur oleh salah satu atau kerjasama dari representasi emosi yang ada. Mereka bekerja dengan mengendalikan semacam panel, dan mereka dapat melihat dunia luar sebagai Riley, dari mata Riley. Sebagai contoh, Joy memegang kendali pertama saat Riley lahir (saat itu hanya ada sebuah tombol dalam panel kendali), ia memencet tombol dan Riley tersenyum, Joy takjub. Sesaat kemudian Riley menangis meraung, ternyata tanpa disadari Sadness sedang memencet-mencet tombol tersebut. Semakin bertambah usia, tombol dalam panel kendali emosi di headquarter semakin banyak. Simbol meningkatnya kompleksitas.

Nah, pada saat menghadapi sejumlah hal baru yang asing, seluruh anggota headquarter bingung! Lucu juga melihat setiap representasi emosi diimajinasikan memiliki kesadaran mandiri, sementara otak, kesadaran, nalar organismenya sendiri (dalam cerita ini, Riley) berada di sisi lain yang berbeda meski tetap terkoordinasi. Seolah seluruh komponen itu hidup dan bergerak dengan kesadarannya masing-masing lalu mereka mengatur Riley. Who is Riley, then? Apa atau siapa yang mendefinisikan dirinya ketika Joy dan Sadness berebut kendali untuk merepresentasikan ekspresinya ketika merespon sesuatu?

Pertanyaan itu tidak terjawab dalam film–dan memang bukan tesis film ini, haha. Film ini secara sederhana menurutku hanya berupaya menjelaskan kompleksnya proses internal yang ada dalam diri (kepala?) seseorang saat merespon sesuatu. Bukan sekali dua kali kita merasa ada pertempuran batin, konflik antara kenapa aku harus bersedih saat semua orang berharap aku seharusnya senang? Bagaimana seorang anak bisa tiba-tiba mengamuk padahal orangtua telah merasa menjelaskan sesuatu dengan baik?

Emosi merupakan sesuatu yang kompleks dan terproses dalam diri manusia dari kanak-kanak hingga dewasa. Emosi yang terkait dengan memori pengalaman pribadi dan pengetahuan yang dianggap valid akan terakumulasi dan membentuk sebagian kepribadian kita.

Tidak ada emosi yang baik atau buruk secara dasein. Semua adalah bagian dari modal kemanusiaan kita. Perkaranya hanyalah mampukah kita mengekspresikan emosi yang tepat pada waktu yang tepat, dengan kadar dan cara yang tepat? Kebijakanlah yang bisa mengatur semua kompleksitas itu. Proses yang rumit dan melelahkan dalam latihannya.

Film ini mengimajinasikan kerumitan proses itu dan samar-samar aku mendengar pesannya,”Hello, aku sungguh tak tahu apa yang terjadi di dalam kepalamu, di dalam dirimu. Tapi sebagai anggota ras kita, kita mengalami kompleksitas yang kurang lebih sama. Perasaanmu dan perasaanku sama pentingnya. Jadi, mengapakah kita tak bisa…umm…memberi…sedikit waktu untuk satu sama lain memahami perasaan kita sendiri, lantas untuk sementara waktu mengafirmasinya sebelum mengekspresikannya? Ketidaksabaran kita dalam memahami diri sendiri membuat kita geram satu sama lain dan akhirnya kita saling memaksa keluarnya emosi yang tidak tepat…”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s