Betah

Setelah beberapa tahun tinggal di kota ini, mulai jamak muncul pertanyaan, “Masih di Jogja?”. Lalu disusul komentar, “Betah ya di sana?”, atau, ” Kalau udah di Jogja sih biasanya orang malas keluar lagi.”

Apa jawabku? Aku nge-hang. Ga bisa jawab. Dalam hati ingin menolak mentah-mentah, tapi rasionalitas menahan dengan menghujamkan jampi, “Penjelasan untuk apa? Dia tak perlu tahu urusanmu.”

Pagi ini aku mengecek definisi “betah” dalam KBBI daring. Ini hasilnya:

http://kbbi.web.id/betah

be·tah a 1 tahan mengalami suatu penderitaan (keadaan yang tidak menyenangkan); tabah; 2merasa senang (berdiam atau tinggal di suatu tempat): mereka sudah — tinggal di sini dan tidak ingin kembali ke kampungnya; 3 kl sembuh: — dari gering;

mem·be·tah·kan v membuat menjadi betah; menjadikan betah: ia – diri untuk tinggal di daerah yang ramai itu

Oow, ternyata pemaknaan pertama untuk betah itu justru tabah. Hmmm, kalo begitu mungkin bisa jadi iya, aku betah, hehe. Tapi, tidak tepat jika yang diambil adalah pemaknaan yang kedua.

Aku tidak hendak mengeluh. Aku malah sedang berkeras untuk belajar bersyukur dan berjuang untuk melihat sisi positif ketika aku bertahan di sini. Meski sama sekali bertentangan dengan keinginanku.

Bagaimana bisa aku bertahan sampai empat tahun di sini? Kota ini awalnya adalah pelarianku. Lari membawa harapan untuk menyelamatkan idealisme yang tak menemukan lahan subur pada tiga kota persinggahan sebelumnya. Tapi jawabannya kutemukan di sini. Ternyata bibit yang kucarikan lahan subur untuk tumbuh baik itu memang bukan benih yang baik. Di mana-mana ia akan tumbuh melawan harapanku. Aku sedih, aku kecewa. Terlampau mahal tiket perjalanan yang kubayar dalam upaya penyelamatannya. Nyaris seluruh masa depanku!

Aku otomatis remuk. Hilang bentuk. Aku belum bisa kemana-mana lagi sebelum berujud. Dan di sinilah setidaknya aku berhasil membuang harapan-harapan palsu yang kupakai membohongi diri: bahwa perjuanganku layak, bahwa aku heroik. Sekarang tidak lagi. Semua itu kebodohan. Tetap berguna, tentu. Tapi, biarkan aku menumbuhkan kaki untuk berjalan lagi. Bukan karena aku senang di sini. Tapi di sinilah aku kehilangan rupa dan ujud.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s