Satu lagi episode gagal move on

Mertua yang tidak bisa melepas posisinya. Itu adalah tema dari penggalan kisah ini.

Dimulai dari wafatnya sang anak saat melahirkan untuk ketiga kalinya. Sayang sekali, waktu itu ibu dan bayi (bayi-bayinya?) tak terselamatkan. Bukan hanya meninggalkan duka pada ayah dengan kedua putranya, tapi juga menggoreskan luka di hati kakek dan nenek, orangtua sang ibu.

Ayah dua anak itu seolah diganduli beban “anakku mati saat bersamamu” oleh mertuanya. Hubungan memang tetap dijaga tapi seolah ada ikatan hutang yang besar, entah sesal, entah dendam.

Urusan harta pun terkait. Ketika ibu baru hendak hadir dalam kehidupan dua lelaki kecil itu, kecemasan muncul, jangan sampai harta hasil keringat anakku jatuh ke tangan perempuan asing.

Saat pinangan diajukan sang ayah pada perempuan itu, sang nenek maju dan bersikeras duduk di muka. “Aku tetap orangtuamu!” seolah itu yang bergema. Duduklah dia di sana, di kursi itu. Di samping mantan suami almarhum putrinya; menyaksikannya meminang perempuan itu.

Aku melihatnya di sini, pedih menahan luka yang ia cipta sendiri. Iba rasanya. Kubayangkan ia dilayarkan ingatan pada saat putrinya dipinang, oleh lelaki yang kini ada disampingnya. Apa yang sesungguhnya ia rasa? Takut? Terkhianati? Sedih? Ketakrelaan?

Wajahnya seolah noda hitam di tengah lukisan musim semi. Semua orang tengah bahagia di sini, tapi senyumnya tak hadir. Tertambat pada duka, pada luka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s