Love is Easier When You’re… Young or Old?

Ada anekdot yang sering sekali dibagi dan diperdengarkan di antara kawan dekat hingga orang-orang asing. Terutama pada momen-momen pembullyan jomblo. Katanya waktu muda, bilangnya “Siapa elu?” sampai pas sudah tua akhirnya menyerah dan bilang “Siapa aja, deh”. Anekdot itu mungkin berlaku bagi orang-orang yang perjalanan hidupnya dilalui dengan modal sebelah jiwa saja, sehingga pencarian separuhnya lagi sangatlah esensial.

Pada kenyataannya, semakin dewasa dan semakin kuat determinasi seseorang, lingkaran “orang-orang nyamannya” akan mengecil. Semakin independen, maka semakin sedikit motif untuk membangun hubungan intensif dengan orang lain. Pada suatu sisi tentu saja kedewasaan membuatnya lebih bijak dalam memandang perbedaan dan pergaulan dengan orang lain (meski ini tidak berlaku umum), tapi untuk relasi intensif, parameternya malah menjadi makin kompleks.

Itulah mengapa “love is easier when you’re young”. Karena saat muda, masih banyak pintu terbuka lebar, dan peluang menjalani hidup masih terbilang beragam. Semakin tua, kita semakin spesifik, dengan keahlian tertentu, ruang pergaulan yang mengerucut, minat yang semakin solid atas beberapa hal dari yang sempat dicicipi saat muda. Maka, jika saat muda belum sempat coba ini-itu, jangan heran jika kecemburuan kadang muncul pada orang tua terhadap orang muda (salah sendiri kenapa saat muda tidak optimal memanfaatkan waktu?). Ketika sudah tua, kesempatan dan energi berkurang. Kegemasan juga hadir saat melihat anak muda tidak memanfaatkan kemudaannya untuk meraih hal-hal yang semakin sulit dilakukan saat usia menua. Tapi itulah manusia, selalu gandrung dengan yang tidak dimiliki akibat kurang syukur. Orang muda ingin segera tua karena iming-iming kuasanya, orang tua ingin kembali muda setelah merasakan semua kelelahannya.

Kembali lagi soal cinta, jadi bagaimana? Ah, semua hal menjadi penting atau tak penting karena persepsi, karena nilai. Lagi-lagi. Apalagi jika bicara soal rezeki, jelas di luar kuasa kita. Aku sendiri termasuk yang berprinsip, sendiri lebih baik jika terkopel justru membawa lebih banyak kemudharatan. Manusia memang secara natural akan selalu mencari sesamanya, makhluk sosial. Tapi relationship tidak mesti diletakkan dalam kerangka keintiman. Cinta bisa dirasakan secara platonik. It’s not all about being passionate. Terkadang kondisi sendiri justru memudahkan perempuan untuk belajar lebih banyak, tidak direcoki urusan anak dan suami (kalau perkara rumah tangga seperti cucian, bersih2, atau masak tetep ngurusin lah ya, kecuali jomblonya diurus baby sitter). Meski ya, upaya menjaga diri agar tidak terjerumus pada keburukan zaman ini juga jauh lebih keras. Semua itu iA bisa dihadapi saat cinta yang utama tetap jadi bekal kita, seumur hidup. Idealnya begitu, tapi begitu bicara ekspektasi orang, menjomblo di usia tua itu kadang dibuat merasa seperti orang cacat. 😩😩

Ada satu cinta yang tidak kenal usia, tapi bermula kesadaran dan ingatan primordial dari jiwa kita. Cintanya Sang MahaCinta yang bisa kita kejar kapanpun asal kesadaran telah hadir. Bahkan, dalam hal ini, orang-orang tua biasanya diuntungkan. Bersyukurlah jika usia dipanjangkanNya sedikit sebagai pemberian kesempatan terakhir mengingatNya, karena siapa tahu sepanjang usia muda malah telah habis mengejar cinta lainnya. Ada perkataan menarik,

even when we don’t have any shoulder to cry on, there’s always ground to put your head down and shed your tears on

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s