Sampah

Rasanya aku hidup di zaman sampah. Ketika banyak hal diproduksi untuk menjawab kerakusan manusia. Meski kadang sebenarnya hanya ilusi. Demi produksi massal, demi harga murah, demi terjangkaunya pasar yang lebih luas (artinya harus sampai pada rengkuhan orang-orang miskin), kualitas dibanting, material dikurangi, tenaga kerja diperas. Akhirnya orang-orang miskin bisa bergaya dengan sampah yang nampak keren, elit-elit pengusaha semakin kaya mengumpulkan receh (receh dari untung kecil karena harga murah tapi dari kuantitas produksi gila-gilaan). Kasihan alam kita, kasihan peradaban yang tinggal menunggu runtuhnya karena kemajuan sekarang hanya kerusakan.

Dalam bagian pertama tulisan ini, aku menulis “orang miskin” seolah-olah dengan jarak di antara kami. Padahal, tidak. Menurut standar institusi semacam Bank Dunia, misalnya, akupun termasuk orang miskin. Tapi aku termasuk yang berprinsip untuk hidup dengan menggunakan sesedikit mungkin sumber daya. Jika ada keinginan tapi tak terjangkau, lebih baik menahan diri dan mengapresiasi dari jauh daripada mencari versi murahnya untuk sekedar “memiliki”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s