Pisah

Ada masanya ketika keluarga akan terpencar. Kemarin, saat kumulai menulis catatan ini, kami berlima saja terpisah jarak lumayan jauh. Seorang di Bandung. Satunya di Gunung Sewu, Gunung Kidul. Satunya sedang mendaki Argopuro. Aku sendiri beristirahat di Pasar Beringharjo. Hanya seorang saja tinggal di rumah: ibuku. Yah, masih dalam bentangan satu pulau saja sih, hihi.

Pagi ini, datang petugas sensus ekonomi. Ia bertanya tentang kegiatan usaha kepala keluarga. Haha! Tempat tinggalku ini memang dijadikan tempat usaha. Tapi tak ada sangkut pautnya dengan urusan keluarga kami. Masing-masing penghuni kost ini tercatat sebagai anggota keluarga di tempat lain.

Begitulah, pada satu saat, yang terbangun akan terurai, yang berkumpul akan berpencar. Perpisahan selalu nyata meski berbeda cerita. Perceraian bisa bermakna hukum atau semata keadaan. Aku kembali menekuri semuanya sejak mendengar berita perceraian terakhir dalam keluargaku. Bahkan yang tetap terikat oleh hukum, tak pernah berjarak domisili sekalipun kelak akan tercerai oleh maut.

Belakangan, dalam usia yang beranjak meninggalkan kemudaan, aku mulai berpikir saat renta nanti, jika memang berumur panjang. Tepatkah jika kuputuskan untuk berkeluarga sekedar untuk mendapat teman di hari tua? Seseorang yang dapat diajak bicara tentang apapun hingga bertahun-tahun lamanya? Tapi, dalam kesejatian yang sendiri, harapan itu mudah dipunahkan melalui kerahasiaan ajal. Tidak ada yang dapat menolaknya bahkan dengan lobi, “pernikahan kami baru sehari saja!”. Opsi lebih rasional justru menyiapkan pendanaan untuk dapat tinggal di rumah jompo dengan pelayanan dan lingkungan yang baik–kalau kekhawatirannya sekedar kesepian di masa tua.

Mungkin ada pertanyaan, omong-omong, mengapa pula kekhawatiran itu dapat mampir di pikiran ketika–bahkan hingga sekarang– solitary moment itu tetap menjadi kemewahan yang menyenangkan? Itu gara-gara bisikan seseorang, “Saat tua akan berbeda”, sempat menggangguku. Aku menyaksikannya pada orangtuaku. Belakangan ini, orangtuaku–terutama bapak yang menjelang pensiun–mulai rewel meminta anak-anaknya pulang. Tahun ini pertama kalinya, beliau terang-terangan bilang kangen ketika bertanya kapan pulang. Pada titik itu aku sadar, orangtuaku menua, sebentar lagi akan memasuki batas usia senja yang ditetapkan pemerintah. Sementara anak-anak, seberapa tuanya tetap akan jadi anak-anak bagi mereka. Ah, tapi pengalaman menjadi tua tentu akan berbeda bagi setiap orang. Jadi balik lagi pada formula: why worrying something uncertain?

Tentang keluargaku, beruntung kami sempat tinggal di masa modern yang mengizinkan untuk tetap kontak meski berjauhan jarak. Setiap hari, paling tidak sekali, sekitar pukul dua pagi, bapak atau ibu akan bergantian membangunkan kami semua lewat pesan di grup wa. Itulah saat reuni yang entah sejak kapan menjadi tradisi. Aku sendiri hampir tidak pernah membalasnya. Hanya senang membacanya meski seringkali pukul dua justru saat aku baru bersiap tidur. Tapi rasanya masih terasa seperti dibangunkan saat kami semua masih serumah.

Mungkin kita memang harus mendefinisikan kembali makna kebersamaan dalam keluarga. Keeratan hubungan yang naik turun tidak akan menghempaskannya pada keterasingan jika semua berupaya untuk tetap berimbang dalam proses tumbuhnya. Bagaimana caranya? Dengan berbagi! Pemahaman baru, pengalaman baru, bukan berarti semua harus tahu. Tapi poin-poin yang bisa menggeser posisi nilai, keyakinan, prioritas, semua perlu diketahui meski mungkin tidak untuk diamini bersama. Mungkin itulah cara untuk membangun kesepahaman. Pada umumnya keluarga terikat oleh darah, tapi darah bukanlah tali yang mati. Sekuat-kuat ikatannya hanya pada level hukum positif. Lebih dari itu, ada keyakinan, ada kasih sayang, yang ikatannya bahkan bisa melampaui kentalnya darah.

Dengan begitu dan majunya teknologi, kebersamaan masih akan terasa, meski urusan masing-masing sudah tak bisa lagi dilakoni dengan berbagi ruang yang sama. Meski, pada akhirnya, paling tidak sekali-kali, jumpa adalah hadiah istimewa yang sangat dinanti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s