Berbuat baik

Sejenak aku berpikir tentang berbuat baik. Rasanya, aku teraruskan dengan pemikiran bahwa kebaikan kita hanya berhak diterima oleh orang-orang tertentu. Merekalah orang-orang yang baik juga pada kita. Kalau dipikir-pikir, pelit amat. Juga, apalah urusannya kita mengurusi orang yang masih kesulitan berbaik-baik dengan kita dengan memperlakukannya serupa? Toh, tugas kita di dunia bukan sebagai hakim yang menilai atau menentukan balasan, imbalan. Kita ada di posisi sama yang dituntut untuk berbuat baik juga. Sudah tidak diperlakukan baik, kita malah meneladani keburukan itu dan membubuhkan cacat pada perilaku kita. Rugi dua kali, dong?

Sebagai sesama manusia, mungkin kita perlu belajar memahami rumit dan sulitnya untuk senantiasa bersikap positif. Jiwa yang bergejolak kadang menjadi ganjalan untuk mengukir senyum, untuk berkata manis, untuk menghadiahkan do’a. Sementara diri juga belum tentu dapat selalu hadir sebagai penyejuk mata bagi orang lain. Lha iya, kalau lu songong dan nyebelin, baru keliatan aja udah buat mata sepet, yang bener aja minta dimanis-manisin, ciiing… #uaassseeem

Kadang memang terasa ada perkataan, gesture, atau diamnya orang lain yang terasa ga enak di hati. Masih bisa kita kenali rasa itu. Itu baik karena berarti kita peka. Tapi langkah selanjutnya mesti diwaspadai, analisis kita terhadap sikap tersebut. Hal ini yang akhirnya bisa membawa kita untuk memutuskan, baiklah kalau kamu maunya begitu, fine let’s play the game. Done. Ikutan rusak. Sebenarnya kita masih selalu bisa bersikap independen, meski suliiiiittt… Tidak dikendalikan orang lain. Proaktif, bukan reaktif harusnya.

Ingat lagi bahwa “Ya Ayuhan naas, Inna Bagyakum `a la Anfusikum” – Hai manusia, perbuatan burukmu pada orang lain hanyalah kejahatan pada dirimu sendiri. Perbuatan buruk orang jelas akan kembali pada dirinya, mencelakakan diri sendiri, tapi bagi kita bisa jadi berdampak buruk (bila respon kita sama atau lebih buruk lagi), atau ladang kebaikan (bila dijadikan kesempatan berbuat baik, sabar, dan diambil hikmahnya).

Dipikir-pikir, andai berbuat baik itu butuh syarat diperlakukan baik dulu. Bagaimana mulanya perbuatan baik ini dimulai? Kalau misalnya hanya mutual antara kedua belah pihak yang saling bersikap baik, bagaimana kebaikan akan menyebar? (Kembali ke pertanyaan pertama). Kemudian saat “hak seseorang untuk diperlakukan baik” hilang ketika ia sekali alpa, lantas di mana memaafkan yang juga adalah perbuatan baik? Pusinglah…

Padahal Allah saja berbuat baik kepada semua orang tanpa membedakan ketaatan mereka. Diberi rezeki semuanya, serta kesempatan hingga batas tertentu. Kalau seseorang harus shalih dulu untuk mendapat rezeki, di mana posisi kita sekarang?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s