Antara rasa takut dan keimanan

Fear”, rasa takut adalah bagian dari kemanusiaan kita. Banyak hal dapat membuat kita takut. Mulai dari bakteri, kecoak, bawang mentah, iguana, film horor, rumah angker, kulit berkerut, atau bokek. Jika dilanjutkan, daftarnya bisa menuju infinit.

Rasa takut berguna karena bagian dari faktor agresi untuk melindungi diri kita sendiri. Takut terbakar setidaknya menghindarkan orang dari iseng menyate telunjuk sendiri. Masih banyak orang yang menghindari zina sekedar karena ketakutan tertular HIV. Ada yang takut korupsi karena takut diciduk KPK. Orang mengunci pintu dan pagar karena takut ada maling. Hingga yang sifatnya lebih spiritual semacam semata mencari rezeki halal karena takut tidak berkah.

Mengingat banyak manfaat dari rasa takut dan kebaikan-kebaikannya, maka dapat kita katakan takut itu baik. Tapi ternyata kita temukan hal-hal demikian: anak berbohong karena takut dimarahi, ada yang aborsi karena takut ketahuan berzina, ada yang operasi plastik karena takut kelihatan tua, ada yang ngeles ngalor ngidul karena takut terlihat bodoh. Loh, ternyata takut juga tidak selalu baik.

Akhirnya, takut secara independen bukanlah virtu. Ada saatnya kita perlu takut, ada kalanya tidak. Penentuan kapan takut dan kapan tidak ini dilandaskan pada hal-hal ilmiah terkait sunatullah, serta lebih dalam lagi terkait aqidah. Yup, rasa takut erat kaitannya dengan iman.

Rasa takut bermula dari kesadaran atas keterbatasan menangani sesuatu. Pada titik itu kepercayaan diri luruh perlahan karena ancaman atau bayangan ancaman menguat. Itulah sebabnya latihan presentasi tugas akhir di depan cermin terasa lebih mudah dan meyakinkan dibanding dengan di depan penguji. Semakin tinggi pemahaman atas yang diucapkan, semakin tinggi kepercayaan diri atas penguasaan topik, semakin rendah disparitas level ketakutan pada dua kondisi tadi.

Sayangnya kadang manusia terlampau empiris dalam ketakutan-ketakutannya. Hanya bahaya yang mengancam fisik atau ego sajalah yang diindahkan. Lebih takut dicaci orang, lebih takut diasingkan orang, lebih takut miskin, lebih takut tidak cantik, lebih takut kalah berdebat, dan seterusnya, dengan motivasi rendah dan sesaat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s