Berlebaran dalam hening

Pukul dua pagi aku terbangun, kudengar lantunan takbir yang sesungguhnya jauh dari merdu atau syahdu, hehe. Tapi kekhusyukan itu memang posisinya di hati. Kita yang harus mengondisikan. Akhirnya kupejamkan mata kucoba untuk merasakan kebesaran Allah yang telah menghamparkan kesempatan demi kesempatan hingga aku tiba di sini. Akupun beranjak mengambil wudlu lantas bersujud.

Subuh masih agak lama. Iseng-iseng kubuka percakapan semalam dengan kawan-kawan, soal pemilihan ucapan lebaran via media elektronik yang sederhana, berkesan, dan lumayan menarik tampilan visualnya, haha.

Hampir subuh, akupun ke dapur. Menghangatkan opor yang kumasak semalam dan memasak bihun yang sudah kubumbui juga. Yes, selesai pas adzan subuh. Akupun mandi, salat, lalu sarapan. Tenang sekali. Tidak ada keriuhan yang biasanya saat pagi-pagi lebaran saat banyak orang mengantri kamar mandi satu-satunya di rumahku. (Di kostanku ini ada tiga kamar mandi, dan saat ini aku hanya sendirian, heu, salah satu bentuk ketidakmerataan.)

Pukul setengah 6 aku sudah siap. Jika aku di Sukabumi, sudah waktunya segera berangkat karena salat dimulai pagi-pagi. Tetapi di sini, salat dilaksanakan pukul 7, jadi masih ada banyak waktu. Akhirnya aku sempat menyiram tanaman di depan rumah. Sepiii sekali, tidak ada iringan orang berjalan menuju masjid. Sepertinya tetangga-tetangga terdekatku juga tidak salat di masjid dusun, akhirnya aku masuk rumah, menyiapkan mukena dan menghampiri tetangga yang sudah janjian pergi bersama ke masjid sejak hari sebelumnya.

Wildan dan ayahnya sudah berangkat duluan mengendarai sepeda motor. Aku menunggu ibunya dan si bungsu yang masih bayi di depan rumah mereka. Lalu kami berjalan beriringan.

Hingga sepuluh meter mendekati masjid barulah terlihat keramaian. Para perempuan rata-rata bermukena dari rumah dan sebagian sudah memenuhi halaman masjid yang telah dipasangi tenda. Sementara lelakinya rata-rata menggunakan baju koko dengan sarung atau celana panjang (note: tidak ada yang cingkrang kayaknya, hihi).

Tetanggaku menepi ke halaman rumah di depan masjid dan bergabung dengan ibu-ibu lain yang juga membawa bayi, sementara aku langsung masuk ke pelataran masjid dan mencari tempat untuk salat. Oh ya, di sini kotak infak dipasang di muka halaman masjid, tidak diedarkan ke setiap barisan salat seperti yang biasa kutemukan. Jadi, orang-orang diharapkan untuk mengisinya sebelum salat.

Salat ied dimulai, dilanjutkan dengan ceramah dalam bahasa jawa halus yang kumengerti sedikit demi sedikit. Jika kuperhatikan memang yang salat di sini semuanya orang kampung sini juga, jarang sekali ada pendatang yang bukan suku jawa jadi memang tidak ada keperluan menggunakan bahasa nasional mungkin. Satu hal yang mengganjal dan masih jadi pertanyaan hingga kini: aku mendengar khotib mengucapkan ngarso dalem gusti Allah subhanahu wa ta’ala, aku sempat bingung karena biasanya istilah ngarso dalem digunakan untuk merujuk Sultan yang berkuasa. Lah ini kok digunakan di sini? Aku harus mencari tahu makna harfiah dan terminologinya.

Selesai khutbah dan berdo’a, jamaah bersalaman keliling. Owalah ini yang sebenarnya aku enggan. Tapi karena sejak awal aku memutuskan salat ied di sini agar bisa berbaur, aku tetap tinggal. Hasilnya, dari awal hingga akhir aku tidak menemukan satu wajahpun yang familiar, karena tetangga-tetangga terdekat sepertinya malah tidak ada yang hadir salat di sini. (Posisi rumah dan tetangga-tetanggaku itu berjejer pada satu ruas jalan yang membatasi dua hamparan sawah di utara dan selatan, maka daerah kami sering disebut njobo deso tengah sawah alias (kawasan) luar desa, tengah sawah.) Jadi, mereka yang hadir memang warga desa yang ada di kawasan utama pemukiman.

Agak ganjil, tapi aku mensugesti diri, salahmu tidak kenal. Mereka semua ini saudaramu sendiri. Jadi aku berusaha menghadirkan keceriaan dalam diri dengan tersenyum ramah selama bersalaman. Terbayang jika saja aku tinggal di tempat di mana muslim menjadi minoritas, mungkin perasaan bersaudara dengan orang-asing-terduga-muslim di jalanan akan sedemikian mudahnya tumbuh. Terlepas dia bermadzhab apa, belajar Islam di mana, dan lain-lain. Tapi kenapa di saat kita menjadi mayoritas, perasaan ekslusif yang lebih dominan, sebagaimana warga kampung sini tetap beranggapan orang bercelana cingkrang atau bercadar itu muslim yang lain, tidak biasa, dan tidak umum.

Ada yang hilang sebenarnya, di Sukabumi, sebelum bersalaman dengan tetangga-tetangga dan saudara selepas salat ied, aku terlebih dahulu bersalaman dengan ibuku lalu mencari bapak di barisan jamaah pria. Kali ini aku hanya mendengar suara mereka saat kutelpon di malam takbiran. Semoga idul adha kelak aku berkesempatan salat bersama mereka lagi.

Aku berjalan pulang sendirian dari masjid karena tetanggaku harus segera kembali ke rumah untuk berangkat ke luar kota. Terlalu lama jika menungguku bersalaman dengan orang-orang sekampung. Kubuka pagar, lalu pintu rumah, lalu bernapas lega. Indah sekali rasanya ketenangan ini. Tidak kulihat makanan berhamburan, parade kemewahan dalam pakaian lebaran yang biasanya bermacam-macam. Yang kusaksikan di tengah-tengah lebaran tadi benar-benar kesederhanaan. Karena akupun sendiri di rumah, masakan yang kubuat hanya sedikit, yang mampu kumakan saja.

Kusadar ternyata aku masih sangat butuh pengkondisian eksternal untuk menghadirkan kesyahduan. Hatiku belum mampu mengalirkan energi ketenangan tadi bila ruang eksternalnya belum benar-benar kosong. Masih banyak peerku pasca ramadan tahun ini. Bismillah, aku berjalan lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s