Jangan umpankan anak-istri kalian pada feminisme

Kurasa ada sebuah paradoks ketika ingin memberi penyadaran pada para muslimah bahwasanya feminisme bukanlah solusi, dan tidaklah semestinya hukum-hukum islam dinjak-injak atas nama kesetaraan gender, selama para muslim–lelaki yang seharusnya mendasarkan kepemimpinannya pada Islam–justru menjadi promotor kesewenangan dan kesemena-menaan terhadap perempuan. Kita jangan dulu bicara mana mungkin seorang muslim taat menyiksa istrinya, bukankah memukul istri yang dibolehkan syari’at itu semata dalam proses ta’dib (pendidikan) dengan pukulan yang tidak menyakitkan dan berbekas, hanya untuk impresi ketegasan? Itu teorinya, kenyataannya di Pakistan sana banyak korban KDRT, mungkin warisan kultur patriarki penyebabnya yang bergabung dengan dangkalnya pengetahuan agama sehingga hukum agama diperkosa dan dijadikan legitimasi.

Tidak, aku tidak merujuk pada kasus tersebut. Tapi, miris melihat muslim dari kalangan menengah terdidik yang masih tidak paham anjuran berlomba-lomba menjadi orang yang paling baik terhadap keluarganya. Entah berapa banyak aktivis yang membuat istrinya depresi dengan berbagai tuntutan menjadi shalihah dan qana’ah sebelum mereka sanggup menghadirkan diri menjadi pemimpin yang dicintai dengan qawwamah (kepemimpinan/kepengayoman) yang kuat.

Kepemimpinan kuat berbeda dengan kekuasaan absolut. Penguasa adalah pengatur, penggenggam hak yang dikuasai, posisinya antara atas dan bawah. Sementara pemimpin lebih dibayangkan sebagai pembimbing, pelindung, secara visual aku membayangkan pemimpin adalah orang yang berjalan bersama dengan fasilitas sama tetapi posisinya di depan ketika membimbing dan menjadi teladan, fleksibel pindah ke samping bila perlu mengawal, bahkan bergeser ke belakang bila saatnya mendukung yang dipimpin. Terdengar terlalu ideal? Terlalu indah untuk jadi kenyataan? Tapi memang demikian tuntutan Islam pada muslim dalam menjalankan tugas qawwamah. Itu mengapa disebutkan bahwa tugas pertama seorang muslim adalah menghindarkan keluarganya dari api neraka. Terdengar aneh? Bukankah pahala dan dosa, surga dan neraka adalah tanggung jawab masing-masing jiwa? Justru itu, tanggung jawab individual itu bila tersimpangkan gara-gara kurangnya bimbingan sang pemimpin, sang qawwam, dosanya juga menimpa yang bersangkutan.

Mengingat hal sedemikian itu, bagaimana aku tidak merasa jengah ketika para bapak yang mengaku aktivis muslim bisa bercanda berhaha-hihi membicarakan poligami, “bikin anak”, memperbudak perempuan ajnabi’ saat futuhat, dll yang terasa kurang adabnya? Aku tidak tahu bagaimana perlakuan mereka terhadap istri masing-masing. Apakah mereka telah bahagia dalam ikatan yang sakinah, mawaddah, wa rahmah? Atau justru karena kealpaan dalam tugas besar yang hadir pasca mitsaqan ghaliza lah yang membuat mereka bisa seperti itu?

Padahal Allah swt, bahkan telah mengajarkan adab berhadapan dengan wanita shalihah. Andaikan mereka mau lebih menghormati istri mereka dan memuliakannya. Allah swt, membuat pengecualian pada ayat-ayat tentang surga setelah membicarakan keagungan akhlaq fathimah binti rasulullah saw dalam berderma. Pengecualian apa? Tidak disebutkannya sama sekali tentang imbalan bidadari pada deskripsi surga di segmen tersebut. Kenapa? Ya, kita tahu bahwa Fathimah tidak ridho dipoligami, dan suaminya, Ali r.a. pun tidak beristri lebih dari satu kecuali setelah wafatnya beliau.

Tulisan ini sama sekali bukan bertujuan menghujat poligami atau apa. Jelas bahwa poligami disyari’atkan, mubah. Mubah artinya boleh. Boleh itu pilihan. Hal yang sifatnya pilihan diputuskan terkait manfaat atau madharatnya.

Tujuan utamanya adalah mengusik kelelakian muslim yang seringnya sudah ternoda karat patriarki dan lupa bahwa Islam datang untuk memusnahkan itu. Islam mengganti kuasa absolut yang kuat pada yang lemah dengan tanggung jawab pengayoman yang berat. Lelaki muslim tidak bisa meneriakkan syari’at jika belum bisa memuliakan istrinya sebagaimana tuntutan syara’. Berbuat baik dan penuh kasih pada mereka yang telah berupaya taat dan respek padanya demi ridla Allah. Membuatnya paham, dan bahagia dalam pelaksanaan tanggung jawabnya sebagai istri. Jika tidak, yah memang dialah yang mendorong istrinya untuk mengejar kebebasan dari sumber lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s