Milikku

Jujur, aku rada pelit. Tapi sekali memberi, aku serius. Aku selalu berusaha memberi yang (setidaknya kuanggap) berharga. Misalnya, sesuatu yang kubuat khusus untuk seseorang. Tapi, lagi-lagi karena berpikir ini itu, seringkali aku kehilangan momen. Entah berapa bayi yang gagal kuhadiahi beberapa hal sebagai ungkapan selamat datang ke dunia, dan syukur atas kebahagiaan orangtua mereka, karena untuk menjahit selimutnya saja aku bingung pilih kain yang mana. Tahu-tahu mereka sudah merangkak, berjalan, berlari… 😐

Kadang aku tidak memberi karena tidak merasa punya apa-apa. Dibandingkan kawan-kawan yang mapan, sedekahku tak seberapa.
Kadang aku tidak memberi karena malas. Malas terhadap orang yang kurang apresiasi. Malas menemukan wajah kecewa atas pemberianku yang tidak seberapa. Atau takut, takut yang bersangkutan tersinggung, takut pemberianku tidak termanfaatkan, takut ini, itu…

Kadang ingin memberi tetangga pun malu, karena sebagian makanan yang kubagi mungkin tak ada apa-apanya dibanding milik mereka. Sampai akhirnya, pada suatu hari, aku terpaksa memberi nasi yang hampir basi untuk dijadikan pakan ayam tetangga. Jika dibuang langsung sama sekali tidak bermanfaat, akhirnya kekhawatiran atas kemubaziran lebih besar dari rasa malu. 😈

Sampai aku kenal seorang kawan yang begitu ringan tangan. Tidak butuh waktu banyak baginya untuk memberi. Setiap rezeki yang berlebih, dicarikan pemiliknya di sekitarnya sendiri. Mulai dari hal yang serius hingga yang kecil-kecil seperti makanan di rumah, pakaian yang tak terpakai, barang-barang yang salah beli. Jika ada yang butuh bantuan dalam jumlah melampaui kapasitasnya, bukan berarti dia menyerah. Dia mencari dan mengumpulkan orang yang dapat membantu! Masya’a-llah, darinya lantas aku belajar, memberi bukan masalah kelebihan harta, tapi merupakan mentalitas.

memberi bukan masalah kelebihan harta tapi merupakan mentalitas

Kemudian dalam salah satu cuplikan episode Kajian Qur’an Ramadlan Eksklusif Surat al-Baqarah disampaikan bahwa nilai sedekah itu bukan kita yang menghitung. Adakalanya satu dirham lebih utama dari seratus ribu dirham. Karena sedekah terkait dengan keimanan, setiap muslim diperintahkan untuk bersedekah meski dengan separuh kurma dari sebuah kurma yang dia miliki. Masya’a-llah.

Aku jadi berpikir ulang, jangan-jangan aku termasuk pada orang kikir yang menumpuk harta, meski jumlahnya tidak seberapa. Jangan-jangan kekhawatiran tidak dapat memberi yang terbaik (duh, baju bekas masa iya diberikan?!) itu bentuk keangkuhan. Apa pilih-pilih orang yang diberi hadiah itu bentuk pamrih, hanya baik pada yang baik padaku. Jangan-jangan menahan diri dari berbagi itu tanda lemahnya iman, ketakutan rezekinya habis. 😭

Aku masih harus belajar untuk melihat melampaui batas-batas keduniawian. Aku harus lagi menghayati janji-janji Allah yang memang tidak akan ternalar di bumi, tapi fitrahnya dapat dikenali oleh jiwa yang selalu berusaha membersihkan diri. Menautkan hati dan harapan hanya pada-Nya sehingga bisa melepaskan tautan-tautan salah pada apapun yang sifatnya keduniawian. Termasuk apa yang kuanggap milikku. Tak ada “milikku”, semuanya milik Allah. 😥

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s