Musik, Otak, dan Jiwa

Berawal dari postingan seorang kawan di grup whatsapp tentang BC yang katanya berpangkal dari salah satu presenter program Dr.Ozz tentang narkotika digital, akhirnya aku mencari tahu lagi terkait kedudukan musik. Baik pengaruhnya terhadap otak, emosi, dan kondisi metafisis manusia serta hukumnya dalam Islam.

Pertama terkait klaim yang disebut dalam BC tersebut, bahwa sebuah aplikasi digital menghasilkan binaural beats yang memiliki efek sedatif dan berpotensi menyebabkan kecanduan sehingga patut diwaspadai bahayanya.

Setelah mencari literatur beberapa saat, aku tak menemukan referensi yang mendukung klaim tersebut, paling tidak yang otoritasnya meyakinkan. Kebanyakan testimoni bersifat personal dan berpotensi bias akibat placebo effect  . Bahkan ada keterangan dari BNN yang bertolak belakang dengan klaim tentang ditemukannya beberapa korban:

“Oleh karena itu, meskipun gelombang suara yang dihasilkan oleh I-Doserdiklaim dapat memberikan sensasi seperti memakai Narkotika oleh pendengarnya, I-Doser tidak termasuk dalam golongan Narkotika,” jelas BNN dalam keterangan resminya, seperti dikutip Rabu (14/10/2015).

Pernyataan BNN tersebut merupakan tanggapan terhadap isu yang menyebutkan bahwa I-Doser adalah Narkoba digital. Berbagai pemberitaan yang beredar di media sosial menyebutkan, banyak remaja merasakan sensasi memakai Narkoba setelah mendengarkan konten audio binaural (dua suara) berdurasi 30-40 menit melalui aplikasi tersebut.

Binaural merupakan sebuah teknologi yang diklaim dapat menstimulasi otak dan mengubah keadaan psikis dan mental. “Namun para peneliti dari berbagai universitas tidak menemukan perubahan pola otak pada pengguna I-Doser,” tulis BNN. (Sumber: detik.com, Oktober 2010)

Di laman physicsforum juga pernah ada bahasan (tahun 2008) tentang topik ini, kesimpulannya cenderung nganggap klaim i-doser itu berlebihan, kalaupun berpengaruh kemungkinan besar karena placebo effect. Tidak terlalu ngaruh pada gelombang otak. apalagi mengubah keadaan fisis otak seperti efek narkotika yang digunakan dalam jangka waktu tertentu.

Pada laman ABC News ada kutipan ini: Dr. Nicholas Theodore, a brain surgeon at Barrow Neurological Institute in Phoenix, said there is no real evidence that idosers work. But he noted that musical preference is indicative of emotional vulnerability. Trying idosers could indicate a willingness to experiment with drugs and other dangerous behavior.

Terlepas dari hoax tersebut, secara fisis, menarik juga mencari hubungan antara gelombang suara dengan gelombang otak. Otak merupakan organ elektrokimia yang ketika berfungsi penuh bisa melepas daya sampai sekitar 10 watt. (Sumber: Scientific American ) Aktivitas elektrik dari otak digambarkan dalam bentuk gelombang melalui pengamatan dengan EEG. Dikenal empat jenis gelombang otak.

image
Ned Herrmann, The Creative Brain

Gelombang-gelombang otak inilah (alfa dan beta) yang dapat dipengaruhi oleh ritme musik. Para peneliti merekam aktivitas otak dengan EEG dan menemukan bahwa gelombang alfa dan beta tersinkronisasi terhadap ritme auditori. Psikolog Annet Schirmer melaporkan temuan baru pada pertemuan Society for Neuroscience di New Orleans. Menurutnya, bunyi ritmis “not only coordinates the behavior of people in a group, it also coordinates their thinking—the mental processes of individuals in the group become synchronized.”

Temuan ini menambah panjang daftar kuatnya dampak musik terhadap otak sehingga dapat mengontrol emosi dan gerakan, hingga mengontrol sirkuit otak terkait persepsi sensorik. Penemuan ini menjelaskan “bagaimana tabuhan drum mempersatukan suku-suku dalam (ritual) upacara mereka; mengapa tentara berbaris mengikuti suara trumpet dan menuju pertarungan diiringi tabuhan drum; menhapa (sebagian) persembahan dan upacara tak lepas dari lagu; mengapa perkataan cenderung ritmis, dikarakterisasi secara ritmis melalui penekanan pada suku kata atau kata tertentu; dan mungkin saja termasuk kenapa kita menari.”
(Sumber: Scientific American )

Kita mungkin pernah merasakan sendiri bagaimana musik yang bersemangat cenderung membuat kita bergerak cepat sementara musik yang lambat membuat kita rileks, kadang sendu. Pengelola pusat perbelanjaan menggunakan realitas ini dengan memutar musik-musik lembut yang secara psikologis membuat pengunjung berjalan lebih lambat sehingga meningkatkan exposure produk-produk yang disediakan dan meningkatkan peluang penjualan.

Sadar dengan pengaruh musik yang sedemikian besar, seorang muslim mungkin bertanya lalu bagaimana dengan hukum mendengarkan musik? Dalam ceramahnya, Syaikh Hamza Yusuf menjelaskan bahwa ada perbedaan pendapat di antara para ulama terkait musik. Islam tidak membuka izin absolut maupun larangan absolut terkait musik, namun seorang muslim harus sangat berhati-hati agar tidak melampaui batas pada kedua arah tersebut. Musik sangat berbahaya karena pengaruhnya yang begitu besar pada jiwa dan kebanyakan orang tidak tahu apa yang mereka lakukan dengan musik.

Secara detil ada perbedaan pendapat terkait nyanyian, instrumen musik yang diharamkan, dan sebagainya.
Pendapat tertulis terkait hal ini juga pernah dibahas oleh Ustadz Ahmad Sarwat di rumahfiqih.com.
Kucantumkan saja pembahasannya di sini:

“… Nyanyian dan musik sepanjang zaman selalu menjadi wilayah khilaf di antara para ulama. Dan lebih detail, ada bagiannya yang disepakati keharamannya, namun ada juga yang diperselishkan.

Bagian yang disepakati keharamannya adalah nyanyian yang berisi syair-syair kotor, jorok dan cabul. Sebagaimana perkataan lain, secara umum yang kotor dan jorok diharamkan dalam Islam. Terutama ketika musik itu diiringi dengan kemungkaran, seperti sambil minum khamar dan judi. Atau jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah seperti menyebabkan timbul cinta birahi pada wanita. Atau jika menyebabkan lalai dan meninggalkan kewajiban, seperti meninggalkan shalat atau menunda-nundanya dan lain-lain.

Namun apabila sebuah nyanyian dan musik tidak seperti itu, barulah kemudian para ulama berbeda pendapat. Ada yang masih tetap mengharamkannya namun ada juga yang menghalalkannya.

Penyebab perbedaan pendapat itu cukup beragam, namun berkisar para dua hal.

Pertama, dalilnya kuat namun istidlalnya lemah. Kedua, dalilnya lemah meski istidlalnya kuat.

Contoh 1

Kita ambil contoh penyebab perbedaan dari sisi dalil yang kuat sanadnya namun lemah istidlalnya. Yaitu ayat Al-Quran al-Kariem. Kitatahu bahwa Al-Quran itu kuat sanadnya karena semua ayatnya mutawatir. Namun belum tentu yang kuat sanadnya, kuat juga istidlalnya. Kita ambil ayat berikut ini:

Dan di antara manusia orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.(QS. Luqman: 5)

Oleh kalangan yang mengharamkan musik, ayat ini sering dijadikan bahan dasar untuk istidlal mereka. Mereka menafsirkan bahwa lahwal hadits(perkataan yang tidak berguna) adalah nyanyian, lagu dan musik.

Sebenarnya tidak ada masalah dengan ayat ini, karena secara eksplisit tidak mengandung pengharaman tentang lagu, musik atau nyanyian. Yang dilarang adalah perkataan yang tidak berguna. Bahwa ada ulama yang menafsirkannya sebagai nyanyian musik, tentu tidak boleh memaksakan pandangannya.

Kita bisa membaca pandangan Ibnu Hazm tentang ayat di atas. Beliau mengatakan bahwa yang diancam di ayat ini adalah orang kafir. Dan hal itu dikarenakan orang-orang kafir itu menjadi agama Allah sebagai ejekan. Meski seseorangmembeli mushaf lalu menjadikannya ejekan, maka dia pun kafir. Itulah yang disebutkan oleh Allah SWT dalam ayat ini. Jadi Allah SWT tidak mencela orang yang membeli alat musik apabila bukan untuk menjadikannya sebagai penyesat manusia.

Contoh 2: Hadits Nabawi

Dalam salah satu hadits yang shahih ada disebutkan tentang hal-hal yang dianggap sebagai dalil pengharaman nyanyian dan musik.

Sungguh akan ada di antara umatku, kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr dan alat-alat yang melalaikan`. (HR Bukhari)

Karena hadits ini terdapat di dalam shahih Bukhari, maka dari sisi keshahihan sudah tidak ada masalah. Sanadnya shahih meski ada juga sebagian ulama hadits yang masih meragukanya.

Namun dari segi istidlal, teks hadits ini masih bersifat umum, tidak menunjuk alat-alat tertentu dengan namanya secara spesifik dan eksplisit. Di titik inilah sesungguhnya terjadi selisih pendapat para ulama. Dalil yang bersifat umum masih mungkin dipersoalkan apabila langsung dijadikan landasan untuk mengharamkan sesuatu.

Batasan yang ada dan disepakati adalah bila alat itu bersifat melalaikan. Namun apakah bentuknya alat musik atau bukan, maka para ulama berbeda pendapat.
Contoh 3: Hadits Nabawi

Dari Nafi bahwa Ibnu Umar mendengar suara seruling gembala, maka ia menutupi telingannya dengan dua jarinya dan mengalihkan kendaraannya dari jalan tersebut. Ia berkata:`Wahai Nafi` apakah engkau dengar?`. Saya menjawab:`Ya`. Kemudian melanjutkan berjalanannya sampai saya berkata:`Tidak`. Kemudian Ibnu Umar mengangkat tangannya, dan mengalihkan kendaraannya ke jalan lain dan berkata: Saya melihat Rasulullah saw. mendengar seruling gembala kemudian melakukan seperti ini. (HR Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Hadits ini sudah agak jelas dari segi istidlalnya, yaitu Rasulullah menutup telinganya saat mendengar suara seruling gembala. Namun dari segi kekuatan sanadnya, para ulama hadits mengatakan bahwa hadits ini termasuk hadits mungkar. Dan hadits mungkar kedudukannya lebih parah dari sekedar hadits dhaif.

Dan memang banyak sekali dalil pengharaman musik yang derajat haditsnya bermasalah. Dan wajar bila Abu Bakar Ibnul Al-Arabi mengatakan, “Tidak ada satu pun dalil yang shahih untuk mengharamkan nyanyian.”

Dan Ibnu Hazm juga senada. Beliau mengatakan, “Semua riwayat hadits tentang haramnya nyanyian adalah batil.”

Dari Umar bin Hushain, bahwa Rasulullah saw. berkata tentang umat ini:` Gerhana, gempa dan fitnah. Berkata seseorang dari kaum muslimin:`Wahai Rasulullah kapan itu terjadi?` Rasul menjawab:` Jika biduanita, musik dan minuman keras dominan` (HR At-Tirmidzi).

Sebagian Shahabat Menghalalkan Musik

Dari banyak riwayat kita mendapatkan keterangan bahwa di antara para shahabat nabi SAW, tidak sedikit yang menghalakan lagu dan nyanyian.

Misalnya Abdullah bin Ja`far, Abdullah bin Zubair, Al-Mughirah bin Syu`bah, Usamah bin Zaid, Umran bin Hushain, Muawiyah bin Abi Sufyan, Atha bin Abi Ribah, Abu Bakar Al-Khallal.

Imam Asy-Syaukani dalam kitabnya, Nailul Authar menuliskan bahwa para ulama Madinahmemberikan kemudahan pada nyanyian walaupun dengan gitar dan biola`.

Juga diriwayatkan oleh Abu Manshur Al-Bagdadi As-Syafi`i dalam kitabnya bahwa Abdullah bin Ja`far menganggap bahwa nyanyi tidak apa-apa, bahkan membolehkan budak-budak wanita untuk menyanyi dan beliau sendiri mendengarkan alunan suaranya. Dan hal itu terjadi di masa khilafah Amirul Mukminin Ali ra. Begitu juga Abu Manshur meriwayatkan hal serupa pada Qodhi Syuraikh, Said bin Al-Musayyib, Atho bin abi Ribah, Az-Zuhri dan Asy-Sya`bi.

Imam Al-Haramain dalam kitabnya, An-Nihayah dan Ibnu Abi Ad-Dunya yang menukil dari Al-Itsbaat Al-Muarikhiin; bahwa Abdullah bin Zubair memiliki budak-budak wanita dan gitar.

Dan Ibnu Umar pernah kerumahnya ternyata di sampingnya ada gitar, Ibnu Umar berkata:` Apa ini wahai sahabat Rasulullah saw. kemudian Ibnu Zubair mengambilkan untuknya, Ibnu Umar merenungi kemudian berkata, “Ini mizan Syami(alat musik) dari Syam?”.Ibnu Zubair menjawab, “Dengan ini akal seseorang bisa seimbang.”

Dan diriwayatkan dari Ar-Rawayani dari Al-Qofaal bahwa madzhab Malik bin Anas membolehkan nyanyian dengan alat musik.

Dan jika diteliti dengan cermat, maka ulama muta`akhirin yang mengharamkan alat musik karena mereka mengambil sikap wara`(hati-hati). Mereka melihat kerusakan yang timbul di masanya. Sedangkan ulama salaf dari kalangan sahabat dan tabi`in menghalalkan alat musik karena mereka melihat memang tidak ada dalil baik dari Al-Qur`an maupun hadits yang jelas mengharamkannya. Sehingga dikembalikan pada hukum asalnya yaitu mubah.

Oleh karena itu bagi umat Islam yang mendengarkan nyanyian dan musik harus memperhatikan faktor-faktor berikut:

1. Lirik Lagu yang Dilantunkan. 

Hukum yang berkaitan dengan lirik ini adalah seperti hukum yang diberikan pada setiap ucapan dan ungkapan lainnya. Artinya, bila muatannya baik menurut syara`, maka hukumnya dibolehkan. Dan bila muatanya buruk menurut syara`, maka dilarang.

2. Alat Musik yang Digunakan. 

Sebagaimana telah diungkapkan di muka bahwa, hukum dasar yang berlaku dalam Islam adalah bahwa segala sesuatu pada dasarnya dibolehkan kecuali ada larangan yang jelas. Dengan ketentuan ini, maka alat-alat musik yang digunakan untuk mengiringi lirik nyanyian yang baik pada dasarnya dibolehkan. Sedangkan alat musik yang disepakati bolehnya oleh jumhur ulama adalah ad-dhuf (alat musik yang dipukul). Adapun alat musik yang diharamkan untuk mendengarkannya, para ulama berbeda pendapat satu sama lain. Satu hal yang disepakati ialah semua alat itu diharamkan jika melalaikan.

3. Cara Penampilan. 

Harus dijaga cara penampilannya tetap terjaga dari hal-hal yang dilarang syara` seperti pengeksposan cinta birahi, seks, pornografi dan ikhtilath.

4. Akibat yang Ditimbulkan. 

Walaupun sesuatu itu mubah, namun bila diduga kuat mengakibatkan hal-hal yang diharamkan seperti melalaikan shalat, munculnya ulah penonton yang tidak Islami sebagi respon langsung dan sejenisnya, maka sesuatu tersebut menjadi terlarang pula. Sesuai dengan kaidah Saddu Adz dzaroi` (menutup pintu kemaksiatan).

5. Aspek Tasyabuh atau Keserupaan Dengan Orang Kafir. 

Perangkat khusus, cara penyajian dan model khusus yang telah menjadi ciri kelompok pemusik tertentu yang jelas-jelas menyimpang dari garis Islam, harus dihindari agar tidak terperangkap dalam tasyabbuh dengan suatu kaum yang tidak dibenarkan. Rasulullah saw. bersabda:

Siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk mereka. (HR Abu Dawud)

6. Orang yang menyanyikan. 

Haram bagi kaum muslimin yang sengaja mendengarkan nyanyian dari wanita yang bukan muhrimnya. Sebagaimana firman Allah SWT.:

Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.(QS Al-Ahzaab 32)

Demikian kesimpulan tentang hukum nyanyian dan musik dalam Islam semoga bermanfaat bagi kaum muslimin dan menjadi panduan dalam kehidupan mereka.” (Sumber: Rumah Fiqih Indonesia)

Prinsip kehati-hatian sangat penting dipegang oleh seorang muslim. Apalagi terkait aktivitas mubah yang sangat mungkin melalaikan. Sebagai orang yang paham bahwa manusia tidak saja berdimensi fisis, tapi juga spiritual, kita harus menjaga kondisi jiwa dan menjauhkannya dari hal-hal yang dapat membuat lalai. Adakalanya suatu perbuatan tidak berdampak negatif secara fisis, namun dalam lingkup metafisis menodai qalbu. Demikianlah maka wara’ lebih utama. Wallahu a’lam bishshawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s