Pengalaman Auditorik

Selama ini, selama menggambarkan suatu tempat, kita seringkali dominan menggunakan penanda yang ditangkap oleh sensori visual. Rumahku dekat sawah, posisi ketiga dari perempatan, di seberang rumah berwarna hijau, di sebelahnya ada warung. Mungkin itu atribut yang lebih mudah dipersepsikan dan dioperasikan di benak. Bukan hanya saat mencari alamat, bahkan saat menyimpan memori tentang suatu situasi atau tempat. Kita lebih dulu mengasosiasikan nama orang dengan wajah, alih-alih suaranya kan?!

Saat berlebaran tanpa mudik sementara tetangga sekitar pulang kampung hampir semuanya, perbedaan yang terasa adalah adalah sensasi suara yang dialami. Ada elemen-elemen bunyi yang absen, tapi ada juga yang makin sering terindera. Mercon yang seperti bom karbit, suara klakson dari rentetan kendaraan macet, hingga peluit tukang parkir pusat kuliner yang pengunjungnya membludak. Sementara itu, dengan hilangnya suara gelindingan ban plastik anak-anak di atas aspal, lengkingan suara khas bocah seberang rumah, tangisan rutin bayi di belakang bengkel, bahkan bersinnya tetangga hampir setiap pagi, seolah-olah membawa kesan aku sedang berada di tempat lain.

Hal yang menarik adalah bagaimana elemen-elemen bunyi tadi membangun persepsi pendengaran berbeda yang membantu kita membangun kesan terhadap dunia. Apa sebenarnya bunyi dan bagaimana ia bekerja mempengaruhi pikiran kita?

Aku takkan mulai dari pembahasan bunyi sebagai gelombang mekanik, tapi langsung fokus pada bahasan persepsi terhadap bunyi. Di dalam pembahasan filsafat persepsi,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s