H bis mana?

Lelucon yang mungkin tak lagi lucu tapi selalu kuingat. Memori manusia mungkin bekerja dengan sangat aneh dalam prosedur yang entah kapan akan dipahami para neuroscientist. Siapa yang tahu mengapa lelucon yang kubaca di majalah Bobo tempo itu begitu melekat dalam kepalaku.

Aku sedang berada pada jawaban lelucon itu saat menulis postingan ini. Akhirnya kusambangi juga setelah sekian banyak kesempatan terlewat. Pertama adalah pernikahan kawanku yang kini bermukim di Jepang; lalu dua kali mudiknya yang juga tak sempat kukejar. Kegagalan terakhir adalah rencana main ke tempat kawanku yang akhirnya baru kujumpai tadi pada pernikahannya. Upaya terakhir sebelum hari ini agak tragis ceritanya karena aku bahkan sudah bergerak hingga Magelang namun terpaksa kembali ke Yogya, karena hampir tumbang di tengah perjalanan.

Akhirnya…dalam upaya yang terbentang sepanjang lebih dari lima tahun ini, tadi siang aku menjejakkan kaki di kota ini. Di kota asal dua teman perempuan yang relatif bisa menjadi cukup dekat denganku meski hanya bertemu beberapa kali. Satu pernikahan tak dapat kuhadiri bertahun lalu, tapi syukurlah aku tak melewatkan satunya lagi. Kuberharap kebahagiaan untuk rumah tangga kalian masing-masing.

Kota ini entah mengapa juga menjadi lokasi yang kubayangkan sebagai kotanya ‘A’ (you know who) meski dia tidak lahir di sini, tapi mamanya. Haha… Don’t get it too serious… 


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s