Mimpi Demam Oktober

Dua atau tiga hari ini aku demam, jadi mudah kelelahan dan tidur dua kali sehari. Menariknya, mimpi-mimpinya cenderung lebih “rapi”. Ceritanya normal, cenderung drama, dibanding dengan cerita mimpi saat demam biasanya yang biasanya horor thriller bercampur action. Dahsyat! Bahkan pada salah satu kesempatan sampai ada adegan aku berenang menyebrang selat. Hahaha. Kalau yang kali ini, ini nih:

  1. Hari satu mimpi satu: dirawat di rumah sakit

Awalnya aku berjalan membawa makanan ke rumah sakit untuk menengok ponakan (anaknya teman–sebut saja A– yang kuanggap adik selama di kampus). Makanan yang kubawa agak banyak sepertinya aku berniat jaga atau mungkin memang mengantar bekal untuk yang menjaga. Tiba di sana belum mulai waktu besuk, suasana rumah sakitnya seperti rumah sakit di film Tokyo Family (versi remake tahun 2000-an). Aku menunggu di bawah tangga menuju ruang rawat inap. Ternyata di sana sudah ada kawan lain yang juga sepertinya akan menengok, sebut saja B. Dia datang sendiri. Kutawari makan, dia mau. Aku pun mengeluarkan makanan (ajegile, mau nengok apa piknik?!) dari keranjang (beneran keranjang anyaman buat piknik gitu, gede!). Ternyata makanannya: bakso! Ahaha. Kutuang-tuang bakso dan printilan lainnya di mangkuk. Belum sempat ngobrol, A turun. Kaget sepertinya melihat aku dan B sedang makan bareng.

—missed—

Tahu-tahu aku sudah di tempat tidur pasien, tapi rendah banget hampir seperti dipan. Juga sudah banyak orang, ada adikku, ada A, B, juga  datang beberapa orang lain, C, dan D (ini orang semuanya nonfiktif, ada di dunia nyata dan cukup akrab tapi memang sudah lama tak bertukar kabar). Aku bingung dan bertanya kalian semua ngapain di sini? Aku tak ingat ada percakapan, tapi seolah tiba-tiba mengerti kalau aku jatuh sakit dan mereka semua datang menjagaku. Buset, tapi kalian cowok semua, gila aja (karena ini mimpi maka bisa terjadi ya saudara-saudara, kalau di dunia nyata, ruang rawatku steril pengunjung kecuali ibuku. Teman yang mau menengok biasanya tidak berani masuk karena takut aku marah dan akhirnya cuma ibuku yang menemui :p). Untung saja ada adikku. Aku lalu minum obat sebentar, lalu pura-pura tidur. Kudengar adikku bercerita banyak hal pada mereka. Entah apa saja, sekarang aku sudah lupa.

2. Hari dua mimpi dua: mengambil obat

Mungkin aku sudah sembuh, tapi yang jelas aku sudah kuat berjalan dan masih minum obat. Aku mengantri di apotek, tapi sepertinya ada dokter juga di situ yang mendampingi. Aneh memang tapi biarlah. Entah di rumah sakit mana ini, tapi agak remang-remang suasananya. Tiba giliranku, di hadapan dokter perempuan itu. Ini resepnya bagaimana sih (resepku tulisannya rapi jelas, mungkin aku habis periksa dari temanku yang tulisannya–sepertinya–paling rapi se-FKU, haha). Dia lalu ganti dengan tulisan “khas” (ini ngarang abis, ya. tapi jangan lupa: ini cuma mimpi). Nah ini, baru benar katanya. lalu dia berikan lagi resep padaku untuk diberikan pada apoteker. Dia nampak kelelahan, aku lalu ingat untuk latihan berbuat baik pada orang-orang yang sudah melakukan tugasnya dengan penuh dedikasi, lalu aku berbalik sebentar. Dok, capek ya? Jangan lupa istirahat, dan terima kasih banyak ya… kataku sembari tersenyum manis sekali.

3. Hari dua mimpi tiga: ujian 

Tiba-tiba saja aku duduk di lantai di sebuah ruangan bersih, bernuansa coklat. Dii depanku ada: HAMZA YUSUF! Masya Allah…ini apa? Beliau duduk bersila menghadapku sambil memegang kitab. Lalu menunduk dan membacakan sebait sya’ir yang aku familiar karena pernah mempelajarinya, lantas beliau tiba-tiba memintaku melanjutkan bacaannya.

Aku terhenyak, dan terbata bilang “maa ‘alimtu”. Shock, kaget, lupa.

Aku menengok ke belakang mencari tahu dari murid yang lain, dia pun menggeleng.

–fade out–

4. Hari tiga mimpi empat: adikku disandera

Ini yang paling absurd sepertinya. Settingnya di rumah. Ibuku sedang pergi, aku di rumah berempat dengan Bapak dan adik-adikku. Tapi si bungsu menciut lagi jadi bayi, jadi kugendong-gendong. Ceritanya sedang ada konflik lokal dan hal ini tidak terungkap detil dalam mimpi. Yang jelas posisi keluarga kami tidak aman, karena bbapak dikejar preman-preman (entah kenapa wajahnya juga familiar) dan dipaksa mengubah keputusannya (teuing naon sugan). Untuk keluar rumah membeli makanan aja harus hati-hati. Suasananya ketika tegang mirip saat perang.

Suatu ketika aku baru pulang ke rumah. Lalu kugendong adik bungsuku di depan rumah. Tiba-tiba saja ada mobil pick-up berhenti di depan. Ada pasangan laki-laki perempuan di dalamnya. Sambil menunjuk-nunjuk ke arahku, si perempuan seperti memberi instruksi, Tuh bawa aja!

Si laki-laki kemudian keluar mobil. Aku ketakutan dan lari ke dalam sambil menggendong si bungsu takut dia diculik. Aku disusul lalu bilang jangan. Si laki-laki itu lalu melihat sekeliling dan melihat adikku yang pertama. Langsung ditarik tangannya, press card yang dipakai adikku dia jambret, lalu adikku dibawa pergi.

Aku bingung bagaimana cara menyelamatkannya, yang terpikir aku menulis selebaran “wartawan diculik”.

Sekian –‘

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s