Ketulusan

Orang-orang tulus yang masih memiliki harga diri tinggi berangkat dan menyentuh hati orang yang menyaksikannya. Tindak heroik memang selalu mengagumkan. Tidak semua paham, kadang itu tak diperlukan. Tapi sayang, mereka kurang berhitung. 

Penyakralan kitab yang dipegang erat membuatnya terlalu jauh untuk diakrabi dan dijadikan navigator. Baris-barisnya diperlakukan seperti mantra bertuah yang dihapal dan dirapal, tapi tidak untuk dipahami, terkadang seolah ditabukan. Perlakuan profan terhadapnya langsung dihadang dan ditantang. Seolah semua hak atasnya telah dipenuhi dan sang perusak hanyalah penggugat kesakralannya.
Ketulusan yang menggerakkan langkah membentuk barisan pembelaan ini hendaknya telah melewati fase membangun pembela ajaran sejati dalam tingkat pribadi. Ketulusan membangun hujjah di akhirat ini bukan semata menghentak tanah untuk menantang tapi pada langkah-langkah panjang menuju lumbung ilmu dan majlis-majlis pengkajinya. Ketulusan ini yang menjadi pelantang takbir, hendaknya telah sejak mula menjadi pelantun setia ayatnya di sepi malam. Ketulusan ini yang menghembuskan amarah demi Yang Mahakuasa, hendaknya telah juga menjadi perpanjangan tangan Yang Mahaadil bagi mereka yang tertindas. 
Ketulusan ini hendaknya tidak membuat buta. Ketulusan hendaknya dapat memandang lebih jernih. Karena ketulusan berlandaskan bimbinganNya akan menyibak semua tabir. Tak ada lagi penghalang. Mata ini, hati ini, lurus tertuju padaNya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s