Ronin

Sejak memutuskan untuk berjalan sendirian kurang lebih lima tahun lalu, aku tahu ini bukan jalan yang mudah. Menjadi seorang Ronin berarti harus dapat membaktikan seluruh energi dan pengetahuan (tentu sembari tak putus mengembangkannya) berdasarkan kehendak sendiri. Lalu orang-orang senantiasa bertanya, apa pencapaianmu? Apa yang sudah kamu lakukan sejauh ini? Pergerakan macam apa yang kamu bangun?

Bertahan dalam keraguan bukanlah sebuah pencerahan. Tapi mengabaikannya merupakan kecelakaan, kematian akal sehat. Pilihan paling tepat adalah terus mengujinya hingga menggenggam jawaban yang dapat menenteramkan hati, sesaat atau selamanya, karena pencarian terhadap kebenaran mungkin takkan final meskipun telah tahu apa saja sumbernya. Karena seperti kata Rumi, “Engkau yang meminta cahaya harus siap menerimanya”. Cahaya, penerang itu bahkan bisa membutakan karena silaunya, itulah saat kita tak siap.

Guru selalu dicari dan dapat ditemukan dimanapun. Dalam arti, selalu ada pelajaran yang diambil dari hal-hal yang kita temui setiap hari. Akan tetapi, guru yang bersedia menerima khusus seorang murid dan telah bersiap diri bersabar mendidik dan menempanya, merupakan rezeki yang tidak diterima semua orang. Aku khawatir aku termasuk diantaranya.

Bila itu terjadi, maka keraguan-keraguan ini harus kutangani sendiri, dengan bantuan guru yang “mati”. Melalui perantaraan ilmu yang mereka ikat dan abadi pada lembaran-lembaran buku yang takkan habis dilahap. Dengan demikian aku harus berlatih lebih keras menempa kemampuan belajar otodidak. Selain mengefektifkan teknik membaca, aku harus membaca lebih banyak dan bergaul dengan lebih banyak orang dari berbagai kalangan agar pikiranku tidak buntu dan abstraksiku tidak eksklusif.

Kata “sendiri” mungkin terlalu mengada-ada. Aku masih punya teman yang dapat diajak bertukar pikiran, ngopi dan ngobrol mencerahkan. Aku berharap rezekiku yang satu itu selalu ada. Setiap aku pergi ke tempat baru, aku bersyukur senantiasa ada kawan dekat yang siap membantu, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Juga ada orangtua yang kadang menganggapku seolah anak sendiri. Ah, apa kabar ibu di Magelang. Aku kadang kurang romantis menjaga hubungan seperti itu. Tidak seperti dulu, sekarang aku mulai lelah.

Sebetulnya, tak lama setelah aku memutuskan keluar dari pergerakan terakhir yang menjadi afiliasiku, aku sempat membangun sebuah pusat studi dengan beberapa rekan lintas gerakan. Kami berjalan tersendat-sendat dengan pendanaan swadaya. Namun ketika dituntut untuk makin serius dengan membuat penelitian berkualitas, tak dapat dipungkiri, dana memang krusial. Upaya kami kandas karena tak ada yang hendak mengalirkan infak pada elemen dakwah yang “tidak menghasilkan produk” (maksudnya mungkin yang bisa dijual, karena bagaimana bisa hasil penelitian dikatakan tak berproduk, fruitless). Tak lama kemudian aku diperlihatkan banyaknya dana yang dimiliki umat ini dan mereka begitu mudah menyalurkannya untuk sesuatu yang terkait persimbahan darah atau hal-hal heroik (yang belum tentu landasannya kuat). Bah! Pantas saja produksi sinetron dan film Indonesia pertahunnya mencapai angka fantastis yang sama sekali tak mencerminkan kualitasnya. Jelasnya, duit itu sebenarnya ADA!

Sudahlah, memang tak mungkin bergantung pada yang lain. Terkait kontribusi atau output, aku akan mencari jalan sendiri. Sejauh ini sudah ada beberapa rencana, diantaranya kolaborasi. Hanya saja aku belum terlalu kukuh menjalankannya. Masih terlalu banyak cabang pikiran. Namun ketika beberapa kawan memintaku mulai menulis, akhirnya kulakukan juga. Meski belum dapat dihitung sebagai kontribusi, kuanggap sajalah sebagai catatan belajarku.

Kedisiplinan masih menjadi hal berat bagiku.Karenanya, pelajaran bahasa asingku terbengkalai. Italia, Persia, dan Jepang, sudah tak berbekas lagi rasanya, kecuali nuansanya. Mungkin aku memang belum belajar cukup banyak hingga cukup energi untuk take off. Tidak seperti Inggris atau Arab. Padahal bahasa penting untuk memperluas akses pada sumber pengetahuan. Aku tak tahu hingga ke mana aku dapat melangkah tapi dengan penguasaan bahasa aku bisa meluaskan pandangan bahkan tanpa perlu membuka pintu rumah.

Aku harus lebih serius dan makin banyak berhitung tak lain karena usiaku juga. Entah sampai kapan aku punya waktu dan energi untuk belajar dan bekerja, juga bertahan hidup. Kadang ada titik-titik di mana aku merasa semuanya terlalu berat sementara masih terlalu banyak yang belum aku tunaikan. Hal, yang kukhawatirkan adalah aku hanya menua menghitung waktu, bukan karya. Aku masih sentimentil jika terlintas kabar kawan-kawan sebangku pelajaran dulu yang sudah menapaki karier profesionalnya, aku bahagia campur sedih tak ketulungan. Ada yang menghibur dengan berkata, “Great talent matures late”. Tapi ini sih keterlaluan telatnya.

Beberapa hari lalu aku menonton film Kurosawa tahun 1957, “Seven Samurai”. Film bagus memang tak lekang waktu. Aku mengenali beberapa keterbatasan teknologi dalam pengambilan gambarnya, tapi visualisasinya tetap indah, tentunya dengan cerita yang kuat. Aktingnya baik, bahkan hingga pemeran figuran, seperti menyaksikan teater. Baik, takkan kulanjutkan terkait apresiasi filmnya, perlu satu wadah khusus nanti. Aku hanya ingin membahas pesan yang kutangkap.

Para samurai yang membela petani di balik gunung itu adalah para ronin, samurai tak bertuan, yang sepertinya hidup miskin. Karakter dan kemampuan mereka beragam. Dari ahli kenjutsu hingga dikatakan yang permainan pedangnya hanya kelas dua; ada yang nampak bersih dan sopan hingga yang urakan, kotor, dan kasar. Tapi ada hal berbeda pada diri mereka yang memang membedakannya dari kalangan lain. Sedikit banyak, mereka tetap terpelajar, juga memiliki nilai-nilai khusus, punya kode etik. Meski di awal banyak yang menolak membantu karena para petani itu tak mampu memberikan apapun sebagai kompensasi perlindungan atas mereka, sebagian akhirnya bersedia. Kepada salah satu di antara mereka dikatakan, “ Aku akan mengajakmu pada sebuah pertarungan besar. Kita mungkin mati di sana. Tapi kali ini, pertarungannya tidak akan membawa kita pada kemakmuran maupun kejayaan. Kau mau turut serta?” Kegilaan macam apa mengatakan “ya” pada tawaran semacam itu. Tapi mungkin “noble virtues”  yang akhirnya menuntun langkah mereka, integritas itu yang menjadi motif meski mereka tak punya keyakinan akan hari akhir. Tak ada balasan yang mereka ingin tagih kelak. Akhirnya…, pada akhirnya semua mati kecuali sedikit. Sisanya hanya pusara dengan katana masing-masing yang ditancapkan di atasnya. Sementara para petani yang desanya sudah aman dari perampok, melanjutkan hidup seperti biasa seolah tak ada apa-apa. Tak ada kesan kehilangan besar atau bagaimana kecuali bahwa kini mereka sudah merasa aman. Hingga kata terakhir yang diucapkan samurai sebelum meninggalkan desa adalah, “Lagi-lagi kita selamat dan bertahan hidup dari peperangan. Tapi, lagi-lagi kita kalah (Meski mereka berhasil menumpas semua bandit tanpa sisa seorangpun). Pemenangnya adalah para petani itu,” (yang kini mulai menanami ladangnya dengan bernyanyi-nyanyi).

Akhirnya, bagiku ronin adalah simbol kemerdekaan bergerak disertai kesediaan untuk mengabaikan kemakmuran maupun popularitas demi memegang teguh nilai yang dimiliki. Ronin harus memiliki misi meski pada saat berjalan sendirian. Harus memiliki agenda yang dijalankan meski hasilnya mungkin takkan nampak selama dia masih berjalan di muka bumi.

In such a politically riven environment, he explained, it was hard to convince people that one is truly independent. “In the beginning, when I started lecturing, people thought ‘everyone belongs to a group,’” he said. “Now, most people realize that I don’t belong to one.” (Syaikh Akram Nadwi)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s