Pondering on Yusuf a.s. Story

Reflecting on it, I could see how Akram’s space-cycle model could comfort a migrant, homesick or not. In recent decades, terror analysts have suggested that the dislocations of the migrant experience helped create conditions for breeding extremism. Ripped from their ordinary contexts and networks, migrants are often vulnerable to being recruited by Muslim extremist networks. Greatly simplified, the theory goes as follows: The children of the migrants, at home neither in the culture of their parents’ homeland nor in the West, find a cultural home in the mosque. Radicals, savvy to the vulnerability of this in-between generation, target these lost youths as recruits.

Yet here Akram was proposing an entirely different response to the challenges posed by a fragmented world: prayer and acceptance. Reading the sura, I could see how Yusuf’s endurance, as he is bounced from slave market to jail, spoke to millions of Muslim migrants. To the Mumbai-born day laborer in Dubai, or the Punjabi gas station attendant in Texas, or indeed to the Lucknawi sheikh missing his old madrasa, the taqwa cycle gave control over circumstances. The conscious practice of patience and faith lent dignity, comfort, and meaning to lives spent far from home. For those who had to tell themselves that it would be just one more year before they went home, it served as an engine. The men who’d promise themselves daily that they’d quit the Gulf after just one more season, after earning just another thousand dollars, got strength from taqwa. “Every time when the sun rises, think what Allah is,” said Akram. “Do what he commands. And the space will be changed.”

To do otherwise, he went on, was to court disappointment. The problem with many Muslims today: they were too concerned with their immediate conditions, and not concerned enough with their taqwa. “For a long, long time, Muslims have been very concerned with the space. We think, ‘If I had a better space, it would be better.’ The Muslim reformers think, ‘If we had the caliphate, it would be better. If we get a Muslim state, it will be better.’ Are there Muslim states?”

Nods from the crowd.

“Are we better?”

Silence.

In Egypt, Muslims said that when the Muslim Brotherhood took charge, all would be well. All is not yet well in Egypt, said the Sheikh.

Or, he said, just as sternly, there are the Muslims who contemplate hijra. The term, which means emigration, refers to the Prophet’s flight from Mecca to Medina, to try to find a place where his Companions could worship freely. Today, some Muslims invoke the concept of hijra in their own lives, aspiring to move from non-Muslim environments to Muslim ones. “We think, ‘The people around us, they are not Muslims.’ We think, ‘If we go to Saudi Arabia, it will be a better country.’ Go to Saudi Arabia … and you’ll see there’s no freedom!”

He went on. All the complaining, all the protests that the Muslim world had seen over the last century were counterproductive. India’s Muslims thought they’d be better off when they got a proper space of their own? Well, they got Pakistan—and look how well that turned out. After the great struggle by Indians to get the British out, after the traumatic slicing up of territory to create Pakistan, what did the children of these freedom fighters do? “They’re all running away!” he said. “They all want to leave Pakistan and come to live in the UK!”

All this energy spent looking for the perfect space in which to create the ideal Islamic state, and yet the Muslims living in so-called Islamic states were desperate to get to the West. Only last year, he’d met a scholar from Mecca—the epicenter of Islamic civilization—whose great aim was to go work in the United Kingdom. All time wasted: “When you come to the space given to you by Allah, don’t complain!” he exhorted his students. “Learn how to use it. Think!”

Terjemahan

Jika dipikir-pikir lagi dapat kulihat bahwasanya model “ruang-siklus” yang diajukan Akram dapat memberi ketenangan pada seorang migran–terlepas dia merindukan kampung halamannya atau tidak. Dalam beberapa dekade belakangan, sejumlah analis aksi terorisme mengajukan teori tentang sejumlah dislokasi pada pengalaman migran menyumbang pada terbentuknya kondisi yang menyuburkan terorisme. Tercerabut dari konteks dan jejaring asalnya, para migran menjadi rentan direkrut oleh jaringan ekstrimis. Jika disederhanakan, kurang lebih begini teorinya: Anak-anak para migran tidak merasa seperti di rumah sendiri, baik di tengah budaya tanah air orangtuanya, atau di Barat. Mereka menemukan suasana itu di mesjid. Para radikal yang mengenali kerapuhan generasi tanggung ini lalu menarget mereka sebagai kader.

Akan tetapi Akram mengajukan respon yang sama sekali berbeda untuk menghadapi tantangan yang dihadirkan oleh ‘keterpecahan dunia ini’: sabar dan salat. Saat membaca surah (Yusuf, pen) dapat kulihat bahwa ketangguhan Yusuf–ketika ia terhempas ke pasar budak, lalu ke penjara–seolah berbicara untuk jutaan migran muslim. Entah bagi buruh harian kelahiran Mumbai yang bekerja di Dubai, atau petugas SPBU dari Punjab di Texas, bahkan bagi Syekh dari Lucknow yang merindukan madrasah lamanya, siklus ketakwaan memberikan kontrol untuk (menghadapi, pen) berbagai keadaan. Praktik sadar dari kesabaran dan keimanan menghasilkan ketabahan, ketenangan, dan memberi makna hidup yang dihabiskan jauh dari rumah. Bagi mereka yang harus mengatakan pada diri sendiri,”Tinggal setahun lagi saja setelah itu aku akan pulang”, hal tersebut berfungsi sebagai mesin (penghasil energi, pen). Mereka yang tiap kali menjanjikan diri sendiri untuk meninggalkan daerah Teluk setelah semusim lagi, setelah menghasilkan seribu dolar lagi, takwa memberikan kekuatan. ” Setiap matahari terbit, pikirkan Allah”, sahut Akram, ” Lakukan perintah-Nya, lalu lingkungan akan terasa berbeda”.

Melakukan hal sebaliknya, lanjutnya, hanya akan membawa kekecewaan. Masalah yang dihadapi banyak muslim saat ini adalah mereka terlalu mencurahkan perhatian pada kondisi sesaat, bukan pada ketakwaannya. “Sejak waktu yang sangat, sangat lama, terlalu serius memikirkan sekelilingnya. Pikirnya, ‘jika kita memiliki lingkungan yang lebih baik, keadaan akan jauh lebih baik.’ Para muslim reformis berpikir jika kita memiliki khilafah maka akan lebih baik. Jika kita punya negara sendiri keadaan akan jauh lebih baik.’ Pertanyaannya, apakah saat ini ada negara muslim?”

Audiens mengangguk.

“Apakah kita lebih baik?”

Hening.

“Di Mesir, Ikhwanul Muslimin menyatakan bahwa jika mereka berkuasa, semua akan baik-baik saja. Semua belum baik di Mesir ” , sahut Syekh.

Atau, katanya lagi, dengan ketegasan yang sama, “Ada muslim yang berhijrah (bermakna emigrasi, istilah yang disematkan pada keberangkatan Rasulullah dari Mekkah ke Madinah untuk menemukan tempat di mana para sahabatnya dapat bebas beribadah). Hari ini sejumlah muslim menggunakan konsep hijrah dalam hidup mereka masing-masing dan bercita-cita untuk pindah dari lingkungan non-Islami pada lingkungan Islami. ” Kita berpikir, ‘Orang-orang di sekitar kita bukan muslim’, lalu kita berpikir, ‘Jika kita pergi ke Arab Saudi, keadaan akan lebih baik’. Pergilah ke Arab Saudi … dan temukan bahwa di sana tak ada kebebasan”.

Beliau melanjutkan, seluruh keluhan dan protes yang disaksikan dunia muslim seabad terakhir kontraproduktif. Muslim India berpikir bahwa mereka akan jauh lebih baik ketika memiliki ruangnya sendiri? Oke, mereka memperoleh Pakistan. Lihatlah seberapa baik mereka perubahannya. Setelah perjuangan hebat orang-orang India mengusir Inggris dari negerinya, setelah melewati trauma pembagian teritori untuk menciptakan Pakistan, apa yang dilakukan putra-putri pejuang kemerdekaan itu? “Mereka semua melarikan diri ” , katanya, ” mereka semua ingin meninggalkan Pakistan dan tinggal di Inggris! ”

Seluruh energi dihabiskan untuk mencari lingkungan sempurna demi tegaknya negara Islam, sementara para muslim yang kini tinggal di negara yang katakanlah negara Islam begitu putus asanya ingin tinggal di Barat. Baru saja tahun lalu ia berjumpa seorang ‘alim di Mekkah–anggap saja episentrum peradaban Islam masa kini– yang cita-cita terbesarnya adalah dapat bekerja di Inggris. Semua waktu terbuang: “Ketika kamu mendapati dirimu berada di lingkungan yang Allah telah berikan padamu, jangan mengeluh! ” , serunya pada murid-muridnya, ” belajarlah untuk mengambil faedahnya. Pikir itu!”

wp-image-335054734jpeg.jpeg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s