Change Needs the Right Infrastructure

“Nobody would listen,” he said. “People would say, ‘Oh, he’s gone to Nadwah,’ or ‘Since he’s gone to Britain.’ I can say it in Lucknow. I can say it in Oxford. I can’t say it in the village. If you’re going to change people’s minds, you can’t start from the village.”

Changing tradition, like putting in electricity or running water, needed the right infrastructure.

“To behave differently just because someone is weaker or stronger than ourselves,” he later wrote, “implies a weak understanding of our equality of being as creatures of the Creator.”

Terjemahan:

“Takkan ada yang mau dengar”, katanya. Mereka akan berkata, “Oh dia lulusan Nadwah”(Nadwatul’Ulama, sebuah kampus Islam di Lucknow, pen), atau “(Itulah akibat, pen)  Dia pergi ke Inggris”. Saya bisa saja menyampaikan hal ini di Lucknow. Atau bisa juga di Oxford, tapi tidak di desa saya. Jika kita hendak mengubah pemikiran orang, kita tidak bisa memulainya dari desa. Mengubah tradisi bisa dibayangkan seperti memasang instalasi listrik atau air bersih. Dibutuhkan infrastruktur yang tepat untuk melakukannya.

Pada kesempatan lain beliau menulis:

“Membeda-bedakan perilaku terhadap orang lain terkait posisinya yang lebih lemah atau kuat dibanding diri kita, menunjukkan pemahaman yang lemah atas kesetaraan sebagai sesama ciptaan Tuhan.”

Komentar: 

Muslim sering didorong untuk berdakwah, ‘menyampaikan meski satu ayat saja’. Di sisi lain ada ayat yang menyatakan bahwa Allah-lah yang mampu membolak-balik hati.  Bukan da’i yang memberi hidayah, tugasnya hanya menyampaikan, bukan mengubah orang. Prinsip-prinsip tersebut, bila dimaknai secara dangkal dapat membuat muslim begitu awas dengan kesalahan orang lain untuk kemudian ‘menembaknya di tempat’ demi ‘satu poin pahala dakwah’. Ketika orang lain yang didakwahi tak berubah, ya sudahlah, mungkin belum dapat hidayah saja, begitu ujarnya. Di era medsos  saat ini, ‘sampaikan meski satu ayat’ mendapatkan varian baru, ‘bagikan meski satu artikel atau satu status’.
Orang-orang berlomba membagi yang mereka baca (anggap saja begitu) meski kemungkinan besar belum mereka pahami, apalagi jalankan. Kadang dibagi ke publik begitu saja tanpa peduli di sana ada orang dengan beragam latar belakang. Seolah hanya butuh disaksikan bahwa ‘ia telah berdakwah’.

Benar bahwa hidayah di tangan Allah, benar pula bahwa muslim wajib berdakwah. Tapi ajakan dakwah bagaimana yang seharusnya dilakukan? Mengajak orang lalu menudingnya ahli bid’ah atau ahli maksiat saat menolak? Membombardir dengan harus ini dan itu serta larangan ini itu sebelum ada upaya menyiapkan keimanan mereka untuk tunduk dan ta’at?

Ujaran Syaikh Akram memberi seberkas cahaya pada pemahamanku. ‘Mengubah tradisi membutuhkan infrastruktur yang tepat’. Menggali ilmu membutuhkan prerequisite tertentu. Tentu saja! Membabi buta ‘berdakwah’ dan mengoreksi praktik berislam yang dianggap kurang tepat seolah heroik. Seperti ‘polisi syari’ah’, istilahku dulu di kampus untuk orang-orang tertentu yang kadang menemui kita pulang malam-malam, atau terlihat ngobrol dengan lawan jenis, lalu mengadukannya pada guru kajian. Satu hal yang kuherankan saat itu, jika dia melihat kesalahan yang dianggap maksiat, mengapa tidak mencari cara menasehati langsung dengan cara yang baik, malah menyampaikan aduan-aduan yang justru menyebar kesalahan orang. Ah ya sudahlah.

Beberapa bulan terakhir di tahun 2016 sikapku berubah-ubah. Satu semester pertama aku deaktivasi akun dan sesekali muncul untuk melihat-lihat saja. Lalu aku aktifkan akun lagi dengan spirit tidak akan mudah terganggu dengan isu apapun, berusaha lebih toleran pada orang lain. Namun ada kejadian besar di trimester terakhir membuatku terasa sumpek lagi bermedia sosial. Kali ini dampaknya lumayan besar karena membuka tabir cara dan level berpikir orang-orang yang mulanya kuanggap positif. Ternyata kekurangan kebijaksanaan dalam beragama bisa menimpa siapapun. Aku takkan melanjutkan lagi pembahasan tentang mereka (tentang topik perdebatannya sih, mungkin saja, nanti) karena akupun seperti mereka tak berkapasitas menghakimi manusia. Namun dengan spirit berdakwah itu aku awalnya masih saja berkomentar sana sini merespon hal-hal yang kupikir butuh input.

Hasilnya? Percuma. Rata-rata mereka adalah orang yang sudah terkooptasi dengan pemikiran gerakan tertentu, atau silau mengikuti ulama tertentu (dengan kecenderungan menganggap para ‘alim lain tidak memenuhi standar utama mereka). Hal itu kubaca dari beberapa komentat seperti “loh kalau ulama itu kan dari pihak ormas anu, memang pendukung ‘mereka'”(entah siapa mereka yang dimaksud, mungkin pemerintah saat ini), atau ” orang-orang suku itu tidak menganggap pak anu sebagai buya” (buya di sini menjadi sinonim ‘alim). Entah sejak kapan satu suku tertentu punya otoritas mewisuda seseorang sebagai ‘alim atau bukan. Terakhir, pada kesempatan lain aku memposting sebuah pendapat yang membolehkan muslim mengucap selamat natal pada kristen, tiba-tiba saja ada yang mengomentari betapa kapasitas berpikirku sudah menurun. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala, untung aku sudah tahu tabiat bocah itu, adik teman sekelasku dulu.

Begitulah kondisinya. Mungkin lingkunganku di media sosial fb tidak kondusif menghadapi perbedaan pendapat. Tidak semua tentu saja. Masih banyak yang merespon perbedaan dengan bijak dan mengapresiasi baik keberanian mengemukakan pendapat. Namun, aku pikir tidak ada gunanya lagi mengeluhkan hal-hal seperti itu, lagi-lagi di media sosial yang komposisi populasi utamanya mungkin agak homogen, orang-orang seusiaku yang sibuk membangun kariernya hingga prioritas terhadap perubahan sosial sedikit berkurang. Merasa mulai mapan dalam finansial, mempengaruhi tabiat dan posisi dengan kecenderungan yang sulit diubah. Tidak banyak waktu lagu untuk merenung-renung atau berpikir bebas, lebih aman mengutip otoritas dan mengikutinya begitu saja. Aku sudah terlalu tua untuk banyak nongkrong dan komentar secuil-secuil. Aku harus belajar lebih serius dan banyak menggali lalu merumuskan pemahamanku sendiri dengan lebih terstruktur lalu mengujinya dengan orang-orang tertentu yang siap bergulat dalam pemikiran. Meminjam kata Syaikh Akram, “perubahan sejati (mungkin) takkan bisa dimulai dari desa (media sosial)”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s