True Friendship

Saat membaca buku ‘If Ocean Were Ink’ aku sampai pada suatu bagian ketika Syaikh Akram ditanya apa yang dirindukannya dari kampung halaman. Beliau menjawab singkat, ‘true friendship’. Lalu beliau bercerita tentang kebiasaannya bersama kawan-kawan sekampus di Nadwatul ‘Ulama, Lucknow. Selepas subuh berjama’ah di masjid, biasanya ia dan kawan-kawannya akan berjalan-jalan menyusuri sungai sembari berdiskusi tentang apapun. Di sini (Oxford), sambungnya, setiap orang langsung bergegas pada urusannya masing-masing begitu selesai salat subuh di masjid. 

Belakangan akupun sedang memikirkan makna pertemanan. Mungkin jamak ya, merenungkan hal semacam itu di awal kepala tiga, saat tidak lagi mudah bertemu orang baru dan menjalin hubungan dekat seperti masa muda. Apalagi bagi seorang introvert yang memang tidak terlalu nyaman bergaul dengan orang banyak.

Pemicu utama dari memusatnya persoalan itu adalah ketika empat orang yang kuanggap teman ‘tiba-tiba’ menikah di penghujung tahun lalu, tanpa kabar. Satu orang memang mengundang lewat fitur fb. Tapi ya, begitu saja tanpa ada pembicaraan apapun, diundang massal dengan banyak orang lain, dan sesungguhnya selentingan kabar itu sudah kuketahui beberapa minggu sebelumnya secara tidak sengaja dari orang lain, padahal ia bisa dibilang salah satu muridku dulu waktu aku masih suka mengisi pengajian. 

Aku sempat terhenyak. Aku memang tak suka pergi menghadiri resepsi pernikahan, kecuali pesta privat. Jikapun diundang biasanya aku hanya mengucap selamat lalu pergi, seringkali bahkan tanpa menyempatkan makan. Maka tak heran ketika suatu saat aku menghadiri suatu resepsi di luar kota lalu berjumpa beberapa kenalan di sana, aku mlipir permisi duluan dan melewatkan kongkow- kongkow minum kopi sepulang dari resepsi. Aku sudah cukup lelah melihat banyak orang di pesta dan butuh recharge  menyendiri. I’m trully socially misfit. Keesokan paginya aku bergegas beres-beres untuk pulang dan kembali melewatkan kesempatan kumpul-kumpul yang ternyata agendanya (kutahu belakangan dari postingan foto beberapa hari kemudian) sarapan pagi dengan kedua mempelai. No regret. Meskipun aku merasa berteman dekat dengan kawanku yang baru menikah itu, tapi aku lebih memilih menghabiskan waktu bersama kawan dalam suasana lebih privat, bukan kumpul-kumpul begitu, kecuali dengan kumpulan kawan yang sama semua level kedekatannya. Lagipula waktu itu aku baru mendapat kabar darurat tentang suami kawanku yang baru kecelakaan. Aku harus segera pulang.

Balik lagi pada keempat orang tadi, perkaranya bukan sedih tak diajak resepsi, haha. Aku lebih baik tak diundang resepsi terutama jika cukup menyulitkan untuk hadir, tapi jika dianggap teman, bukankah setidaknya memberi kabar, mohon do’a dan sebagainya. Berbagilah sedikit kebahagiaan meski sekedar kabar baik. Aku yakin, orang-orang yang dianggap penting sudah pasti mengetahuinya duluan. Kenyataan itu hanya menegaskan bahwa aku memang tidak dianggap teman.

Friend, dalam definisi pada kamus Longman, diterjemahkan sebagai someone who you like so much and like to spend time with.  Ada juga yang memberi batasan, di luar hubungan famili atau romantik. Jadi teman bisa kusimpulkan sebagai orang dekat yang kita pedulikan tanpa hubungan darah atau kecenderungan seksual. Ketertarikannya murni sebagai fellow human. Afeksinya sebatas keinginan agar hal-hal yang baik terjadi pada yang bersangkutan dan kesenangan menghabiskan waktu bersama untuk ngobrol-ngobrol, makan-makan, atau mungkin jalan-jalan. 

Pada seorang teman, kita ingin melihatnya senang. Ingin membantunya saat susah. Ingin menghiburnya saat sedih. Ingin mengenal keluarganya. Berbagi minimal satu topik atau kegiatan yang sama-sama disukai. Ingin menghabiskan waktu bersama sekali-sekali. Senang kalau direpotkan sehingga saat tak bisa membantu rasanya tidak enang. Lalu, kecewa  jika diabaikan atau tidak dilibatkan pada banyak hal atau minimal hal-hal pentingnya saja. Tapi merepotkan teman atau melibatkan diri dalam urusan teman juga jangan sampai keterlaluan hingga melanggar privasi. Tentu akan risih jadinya.

Ya, kita memang tidak ingin terlalu bergantung atau merepotkan orang lain. Tapi, manusia, meski tertutup, mesti ingin membagi hal yang membahagiakannya dengan orang yang dia pedulikan, dengan teman. Karenanya saat jalan hidup telah terlalu jauh bercabang dan kita tak lagi punya banyak kesempatan untuk crossing path dengan kebetulan. Satu-satunya cara untuk menjaga orang-orang yang kita anggap berharga adalah dengan mempertahankan kontak, meski jarang-jarang. Berbagi kabar meski sekenanya, biarkan mereka tahu kondisi secara umum. Titip do’a kalau mau, tertutama saat ada keinginan spesifik. 

Ya, pada akhirnya memang waktu yang akan menunjukkan mana yang benar-benar dapat menjadi teman, tulus, tanpa suatu agenda atau keterpaksaan. Mana yang sekedar numpang lewat karena ada urusan atau keperluan. Juga mana yang merasa “ada kamu syukur, nggak ada juga ga beda”.

NB: Terima kasih untuk sedikiiit sekali teman yang membuatku tak pernah meragukan ketulusan mereka, setidaknya masih ada upaya mengingat dan menghubungiku (memastikan aku masih hidup, haha) meski aku masih relatif sedikit memberi kini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s