The Labels

 

The more I studied with the Sheikh, the less helpful I found all the available labels, both Western and Muslim. What is the Sheikh, anyway? A traditionally trained scholar who scandalizes conservatives and disappoints progressives. And sometimes just the reverse. A champion of women’s rights who accepts that Islam allows polygamy. A defender of individual conscience, but not Western-style individualism. A champion of creative thought, so long as it’s based on proper Islamic scholarship and classical sources. Think for yourselves, he counsels students, but don’t change Islam’s God-given Truth. “The Message,” he cautions, “is the Message.” He is traditional, yet is frequently criticized by others claiming to be traditional. He is a proponent of fundamentals who draws fire from fundamentalists. Every time I thought I’d found a term to describe him, the opposite also seemed to apply. To try to categorize the Sheikh was to flail.

As it turned out, flailing was entirely appropriate. I discovered this, to my relief, when I visited Tim Winter, a professor of Islamic studies at Cambridge University. Trying to fit Islamic thinkers into Western categories was a nonstarter, he told me. “Islam doesn’t have a spectrum,” said Winter, who also goes under his Muslim name, Abdal Hakim Murad. “There are Muslims who come from very literalist traditions who are massively pro-women. There are others who are very mystical, but also very political. Any combination is possible. The danger is always when you try to impose the idea that Christianity is the default religion.” I left Winter’s office vowing to try to avoid rigid categories. I’d flail on.

Terjemahan: 

Semakin lama aku belajar dengan Syeikh, semakin sulit kutemukan label yang tepat, entah dari (khazanah) Islam atau Barat. Apa yang pas menggambarkan Syeikh? Seorang ‘alim yang mengejutkan para konservatif dan sekaligus mengecewakan para progresif? Kadang malah sebaliknya. Terdepan dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, tapi juga mengakui bahwa Islam mengizinkan poligami. Pembela kesadaran individu tapi bukan semodel individualisme Barat. Pendukung pikiran-pikiran kreatif, selama masih didasarkan pada tradisi keilmuan Islam dan sumber-sumber klasik. Pikirkan sendiri, anjurnya pada murid-muridnya. Tapi jangan mengotak-atik kebenaran Islam yang diturunkan Tuhan. “Risalah tetaplah risalah”, tegasnya memperingatkan. Beliau dapat disebut ulama tradisional, tapi tak kurang juga kritik yang diajukan padanya oleh mereka yang mengaku tradisionalis. Dia pembela hal-hal fundamental tapi juga tak absen dari kritik para fundamentalis. Setiap saat kupikir telah menemukan label untuk mendeskripsikannya, pada saat itu juga terasa kalau kebalikannya juga berlaku. Upaya mengkategorikan Sang Syeikh nampak seperti mengambang.

Belakangan kuketahui ternyata begitu malah memang cocok. Hal ini kutemukan, untungnya, saat mengunjungi Tim Winter, seorang profesor kajian islam di Universitas Cambridge. Upaya mencocokkan pemikir muslim dalam kategori Barat tidak tepat sedari awal. ” Islam tidak memiliki spektrum,” sahut Winter yang nama muslimnya Abdal Hakim Murad. “Ada muslim yang berasal dari tradisi yang sangat literal, tapi habis-habisan membela perempuan. Ada juga lainnya yang berkecenderungan mistis tapi juga sangat politis. Kombinasi bagaimanapun mungkin saja. Bahaya kalau kamu memaksakan Kristen sebagai standar agama.” Kutinggalkan kantor Winter sembari bersumpah takkan menggunakan kategorisasi kaku lagi. Biarkan saja mengambang.

Komentar: 

Upaya pengkotak-kotakkan muslim seperti itu tidak hanya jamak dilakukan oleh nonmuslim. Muslim saat ini yang sudah tidak familiar dengan pengajaran Islam klasik yang menunjukkan keluasan ajarannya. Kebanyakan anak muda muslim di Indonesia misalnya, memulai ghirah atau semangat kajiannya dari lingkar-lingkar kajian di mushola sekolah umum (yang biasanya sekuler) atau di kampus saat mereka kuliah yang diselenggarakan oleh berbagai gerakan Islam (harakah) lokal maupun transnasional.

Karena belajar Islam melalui satu interpretasi (dan itulah satu-satunya Islam yang mereka ketahui) mereka menyaring peristiwa dan memandang dunia dengan sudut pandang Islami versi harakah terkait, mulailah terpilah mana yang dipandang syar’i  (valid berdasarkan hukum syara’) dan mana yang tidak. Sebisa mungkin berpegang pada apa yang dianggap syar’i dan mendakwahkannya. Dakwah di sini juga kadang bisa berarti menghakimi dan melabel orang lain sesuai cara pandangnya.

Jujur saja, kadang perilaku eksklusif seperti itu tidak disadari. Seseorang bisa merasa berpikiran terbuka karena bergaul dengan banyak orang dari berbagai kalangan; atau membaca buku dari berbagai akar pemikiran; atau bahkan mengutip ucapan orang-orang terlepas latar belakangnya. Namun dugaan open mind  itu hanya ilusi ketika ia memandang semua diversitas itu lewat framing yang mengikat. Di sini kita bertanya, apa salahnya? Bukankah keterbukaan juga bukan berarti harus plinplan ? Bukankah kita tetap harus berprinsip? Patut dibedakan antara teguh pada prinsip dengan memaksakan framing atas suatu peristiwa atau bahkan hal yang lebih abstrak lagi: pemikiran. Dalam sebuah kutipan lain On Reader’s Agenda, ada sebuah anekdot menarik bagaimana pembaca yang berbeda bisa menarik kesimpulan yang jauh dari makna yang dimaksudkan ketika ia tak berhasil menangkap aspek pragmatik penutur ujaran. Ketika suatu teks–lisan atau tulisan–dipaksa penerjemahannya sesuai agenda masing-masing, pintu diskusi sudah tertutup.

Pada metode perekrutan salah satu harakah, ada tahap ketika calon kader diminta mengevaluasi berbagai gerakan Islam yang dapat ia temui, lalu di bawah bimbingan mentornya, ia menyeleksi satu persatu hingga menemukan yang paling syar’i (tentu saja maksudnya adalah kelompoknya sendiri). Dalam beberapa aspek hal ini seperti perlu diapresiasi karena memberi ruang pertimbangan. Tapi dalam waktu yang dibatasi dan dengan parameter yang sepihak, hasilnya memang sudah jelas dan hanya nampak sebagai formalitas.

Pengalaman pribadiku dekat dengan beberapa harakah (dalam arti sempat rutin mengikuti sejumlah kajian khususnya, bukan hanya tabligh akbar) sulit memahami atmosfer dan motif mereka jika sekedar mengamati dari luar. Sering ditemui beberapa interpretasi yang melenceng padahal fundamental dalam satu gerakan oleh peneliti yang bahkan menulis untuk level disertasi sekalipun. Sementara itu penulisan oleh ‘orang dalam’ juga terancam bias. Jadi memang tidak mudah untuk mendeskripsikan sesuatu yang diyakini ‘pihak internal’ dalam bahasa umum apalagi untuk digamblangkan dalam satu set parameter universal sebagai sarana menilai suatu gerakan.

Saking terkooptasinya dengan pikiran bahwa Islam direpresentasikan oleh gerakan-gerakan tersebut, hal yang berulang muncul dalam pikiran adalah, ‘jika keluar dari gerakan ini, lalu akan mengkaji dan berdakwah di (gerakan) mana?’ Hal ini terkait interpretasi jama’ah/’sekelompok umat’ yang diterjemahkan sekelompok orang dari umat. Tanpa berafiliasi pada suatu kelompok seolah ‘tidak berpegang teguh pada jama’ah seolah menggigit akar pohon’. Dengan pandangan seperti itu, seringkali para kader yang merasa belum dapat menemukan jama’ah lain yang lebih baik berusaha bertahan dengan kekurangan kelompoknya, atau jika lebih berani buat kelompok baru. Akhirnya berkelompok atau berjama’ah itu seperti kewajiban baru bagi muslim. Seorang muslim yang dianggap lumayan ilmu agamanya tak bisa lepas ditanyai ‘daru kelompok mana’ atau ‘ngaji-nya dimana’. Jika tidak bilang, paling tidak dianggap mengikuti thariqah sufistik tertentu. Jika dijawab, “Islam” saja, berikutnya akan dicecar, “Ya, tapi belajar di mana?” Karena yang tidak ‘berjama’ah’ hanyalah orang awam. Lucunya hal itu bahkan menjadi sarana perekrutan di masjid kampus yang memang didominasi gerakan tertentu. Dalam suatu tahap seleksi mereka menyuruh mahasiswa baru melingkari nama-nama tokoh gerakan yang bukunya pernah dibaca. Jelas hal tersebut adalah filter awal untuk menjaring ‘kawan seperjuangan’ atau orang awam yang belum tersentuh gerakan manapun, untuk kemudian mereka warnai.

Dulu kupikir banyaknya kelompok itu memperkaya khazanah pemikiran Islam. Belakangan setelah diperhatikan, dampaknya ternyata cukup signifikan dalam menyempitkan makna Islam itu sendiri. Terutama nampak pada gerakan yang berorientasi kekuasaan, ekstra maupun intraparlementer, atau gerakan yang mengaku nonpolitis tapi justru melindungi faksi politik tertentu yang seolah Islami.

Islam bukanlah spektrum. Tidak ada parameter yang mengikat untuk mendeskripsikan Islam paling konservatif hingga yang palung moderat. Tidak juga dibagi secara rigid atas tradisi harakah tertentu. Jika ada yang berpendapat bahwa keluar dari kategorisasi rigid tersebut berarti membuat kategori baru, ya silakan saja. Tapi, kenapa sih begitu sibuk melabel aku ini kamu itu, petbedaan kita anu dan anu, aku di sini kamu di sana. Kenapa begitu jeli pada perbedaan dan tidak cukup mengakui dengan hangat, kita saudara muslim. Kita mengucap salam satu sama lain, saling berharap keselamatan dunia akhirat, tulus begitu tanpa ada kesumat ‘biar Allah saksikan di akhirat mana yang benar di antara kita’. Duh, Rabbii…faghfirlanaa… 

wp-image-335054734jpeg.jpeg

Advertisements

One thought on “The Labels

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s