QUIET

Dalam dua tahun belakangan ini aku bolak balik menonaktifkan akun medsos. Alasannya? Terlalu berisik. Tak hanya melelahkan dalam dunia nyata, ocehan acak dari banyak orang di dunia maya ternyata juga bisa bikin pusing kepala. Sampai pada suatu titik muncul keraguan, apa aku yang aneh sendiri karena terlalu mudah terganggu dengan kebisingan itu.
Introvert-ekstrovert bukanlah istilah baru. Sepertinya sangat umum dan seolah tak perlu dipertanyakan lagi. Tapi ternyata aku belum benar-benar memahami keduanya dan relasi diantaranya hingga membaca buku Susan Cain ini.

Belum lama kubaca bukan karena baru kutemukan, tapi sayangnya karena bagian pendahuluannya cukup menjemukan. Sehingga aku bolak-balik mundur sampai akhirnya kuputuskan untuk menuntaskan bacaan, demi kewarasan.

Meski penulisannya kurang baik, ternyata banyak informasi menarik di dalam buku ini. Hal paling membuka mata justru ada di bab pertama yang mengisahkan bagaimana awal mulanya terbentuk mitos “ekstrovert ideal“.  Terkait detail sejarahnya, memang baru satu versi, tapi saking menariknya akan kutulis dalam satu postingan khusus, nanti.

Kemudian buku ini mengupas sejumlah penelitian yang menunjukkan perbedaan introvert dan ekstrovert dalam berbagai hal. Misalnya, perbedaan pola pikir, cara pandang terhadap masalah, jalur hormonal, reaksi tubuh,hingga masalah-masalah yang dominan timbul dari kecenderungan masing-masing.

Secara pribadi, sebagai seorang introvert, entah bagaimana rasanya muncul kesadaran bahwa selama ini, orang berkepribadian introvert bukan hanya tak jadi prioritas (karena tak terdengar) tapi lebih dari itu adalah korban diskriminasi, haha! Namun buku ini sejatinya bukan bertujuan membangkitkan kesadaran macam itu untuk memulai konflik, meskipun contoh pertama yang diambil adalah kisah heroik Rosa Parks, seorang introvert yang memicu masifnya gerakan perjuangan hak-hak sipil di Amerika.

Meski banyak menyertakan argumen untuk menerima introvert sebagai kealamiahan, dan tak perlu diubah untuk memenuhi tuntutan masyarakat untuk menjadi lebih ekstrovert, buku ini juga menunjukkan contoh beberapa figur yang bekerja seperti introvert dan menceritakan beberapa motif serta tips sehingga mereka bisa bertahan menjadi pribadi ekstrovert-alike.

Buku ini, menurutku berguna untuk sedikit menenangkan para introvert yang hampir diyakinkan oleh konstruksi mitos bahwa mereka pantas tak terdengar karena terlampau senyap. Juga berguna bagi ekstrovert untuk memahami bahwa kelantangan tidak sama dengan kebenaran. Mencoba menawarkan cara menjembatani kedua kepribadian untuk memahami kealamiahan masing-masing dan berelasi lebih baik.

Bagi orangtua atau guru, buku ini menyodorkan semacam rambu-rambu berinteraksi untuk melindungi dan mengembangkan potensi anak-anak introvert yang rentan bullying dan sering ‘layu sebelum berkembang’ karena kurangnya kesempatan yang terbuka bagi mereka.

Keterangan Buku:

Judul: Quiet: The Power of Introverts in a World That Can’t Stop Talking
Penulis: Susan Cain
Penerbit: Crown Publishing Group
Tahun Terbit: 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s