If The Oceans Were Ink

Buku ini tak bisa kulepas begitu kubaca. Aku terus membacanya hingga selesai. Selain karena penulisannya yang baik,buku ini terasa beresonansi dengan yang kupikirkan terkait umat islam, khususnya di Indonesia. Aku bahkan menerjemahkan beberapa bagian  dalam buku ini dalam pembacaan itu dan sudah kupublikasikan berseri di blog ini. 

Buku yang bercerita tentang Syekh Akram dari mata kawannya ini, seorang jurnalis keturunan yahudi, seolah memberi kesejukan pada hati yang begitu mudah memanas mendengar kisah-kisah tak sedap tentang kalangan sendiri. Pertanyaan tentang adakah Islam yang saat ini hidup dan berjalan di atas bumi serasa bertambah kemungkinannya untuk dijawab secara positif. Ya, mungkin saja itu kesan naif dari orang yang kurang pergaulan sepertiku. Tapi itulah kesan yang sesungguhnya muncul. Ironisnya, harapan itu disampaikan oleh seorang penulis yahudi yang sering dipukul rata dikecam sebagai musuh umat. 

Buku ini merupakan memoir indah tentang perkawanan dua orang dari latar belakang yang jauh berbeda. Namun dalam beberapa hal mereka berbagi hal yang sama sebagai migran, warga dunia yang kosmopolit. Satu hal yang membuat hubungan bisa berjalan baik adalah keterbukaan dan sikap yang tanpa pretensi terhadap sesama. Sebagai seorang wartawan senior bagi Carla, topik Islam telah sering menjadi headline dan ia bisa menemukan sumber referensi dari manapun. Namun dengan tulus ia ingin mencoba memahami dari sumbernya. Itulah mengapa ia mengontak Syekh Akram untuk mengajarinya alQuran. Lalu selama setahun ia mengikuti sesi-sesi kajian alQuran dan menanyakan berbagai hal, terutama yang sering salah dipahami. Ia tak peduli pada penggambaran Islam yang kian memburuk di media Barat pasca runtuhnya WTC. Pada suatu obrolan kala itu yang terpikir bersama Syekh Akram justru di mana mereka mengambil peran di tengah ketegangan yang penuh salah paham itu. Bertahun-tahun kemudian, buku ini baru muncul, tanpa kehilangan relevansinya di tengah situasi di mana agama serasa sulit bersandingan dengan damai.

Carla Power and Syekh Akram Nadwi (Source: http://www.thenational.ae)

Buku ini juga bisa dibilang sebagai sebuah catatan–sebagaimana judul yang dipilih penulisnya– perjalanan menuju jantungnya al-Quran melalui pertemanan dengan seorang muslim yang ta’at dan pada saat yang sama benar-benar menunjukkan sikap ‘iqra’-nya dalam setiap responnya terhadap yang ia jumpai dalam kehidupan. Menjadi figur bahwa untuk ta’at bukan berarti jadi buta, justru harus terus membaca.
Dia berdakwah, tentu saja. Bahkan Carla sempat bertanya-tanya apakah sesi pertemuan yang ia minta adakan bersama Syekh untuk keperluan penulisan buku ini dijadikan kesempatan untuk Syekh untuk ‘mengubahnya’, ‘memuslimkannya’? Syekh Akram dengan lugas menyatakan dia senantiasa berdakwah tapi hati manusia ada di tangan Rabb-Nya. ‘Mengubah orang’ bukan tujuan berdakwah.

Aku belum mengecek kabar terbarunya, namun hingga ia menyelesaikan penulisan buku, Carla Power tidak melepaskan keyakinannya. Meski ia sempat ragu dan bertanya tentang posisi orang yang tidak muslim sepertinya pada Syekh Akram. “Apakah neraka benar-benar menjadi tempat baginya (yang kafir)?” Jawaban Syekh Akram yang bijak pada pertanyaan ini maupun topik diskusi lainnya sangat menarik untuk dijadikan bahan renungan para muslim terkait keberislamannya, keberserahannya pada Allah, pada sikapnya yang lillahi ta’ala dan kedinamisan merespon setiap hal yang dihadirkan Allah dalam hidup dengan tetap berpegang teguh pada keyakinannya.

Syekh Akram bisa dibilang konservatif, beliau lulusan madrasah di Lucknow. Namun di kampusnya itu selain berfokus terhadap kajian Islam, mereka juga dikenalkan pada khazanah pemikiran Barat. Jadi ya mungkin ada yang menuduhnya liberal, tapi di sisi lain para liberalispun menghujatnya. Terkait poin ini aku mengutip tulisan Carla  dan bagian itu memberi secercah petunjuk pada pertanyaan “Andaikata aku muslim, islamku islam yang mana?” Karena itu buku ini aku rekomendasikan bagi siapapun, terutama saudara muslim yang sempat gamang karena seolah ‘tak kebagian perahu’. Di akhir perenunganku selama ini, keterbatasan kita mengenal islam justru bisa jadi karena kita begitu terkotak-kotak dalam perahu (harakah) itu dan akhirnya memandang perahu itulah keseluruhan islam. Ketika tidak lagi termuat dalam perahu dan bergabung bersama kebanyakan muslim yang kita kenal, seringkali posisi kita tersudut. Padahal perahu itu hanya salah satu wahana mengarungi lautan. Ilmu keislaman sendiri lebih dari itu. Takkan habis-habis dituliskan bahkan bila seluruh samudera menjadi tintanya.

Keterangan Buku:
Judul: If The Oceans Were Ink: An Unlikely Friendship and a Journey to The Heart of The Quran
Penulis: Carla Power
Penerbit: Henry Holt and Company
Tahun Terbit: 2015
Penghargaan: Finalis National Book Award for Nonfiction, Finalis Pulitzer Prize for General Nonfiction

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s